<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639</id><updated>2012-02-17T08:10:41.201+07:00</updated><category term='grounded'/><category term='cinta yang tertunda?'/><category term='selingkuh'/><category term='sick'/><category term='love story'/><category term='cinta sesaat?'/><category term='take a rest'/><title type='text'>rombengus and the stories</title><subtitle type='html'>living life and love to the fullest...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rombengus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-1462069335255799968</id><published>2009-04-02T18:01:00.000+07:00</published><updated>2009-04-02T18:02:34.049+07:00</updated><title type='text'>Corong bagi si tangan kiri</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial; font-size: 13px; "&gt;Dalam hal memberi sering kita dengar istilah ‘saat tangan kanan&lt;br /&gt;memberi, tangan kiri gak perlu tau’.  Walaupun dalam beberapa kondisi&lt;br /&gt;jarak antara tangan kanan dan tangan kiri saling berdekatan, misalnya&lt;br /&gt;saat melipat tangan, tetapi pada saat memberi tangan kiri tak perlu&lt;br /&gt;tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu disebabkan diperlukan ketulusan dalam memberi, bukan mengambil&lt;br /&gt;kesempatan untuk mempublikasikan diri dari pemberian tersebut. Namun&lt;br /&gt;dalam kondisi tertentu, kita seringkali berperan menjadi si tangan&lt;br /&gt;kiri, atau corong bagi si tangan kiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja si Garu yang suka membantu keluarganya dengan memberi&lt;br /&gt;mereka uang. Karena karakternya banyak bicara, setiap pemberian ia&lt;br /&gt;ceritakan ke orang-orang di sekitarnya. “Gue abis kirim uang nih buat&lt;br /&gt;nyokap,” ujarnya suatu kali. “Gue mo bayar uang sekolahnya anak asuh&lt;br /&gt;dan ponakan gue nih,” atau “Iya nih, sodara di kampung perlu duit,&lt;br /&gt;jadi gue kirim aja.”  Pernyataan itu kemudian direspon oleh&lt;br /&gt;teman-temannya, sehingga Garu terpancing untuk menceritakan hal itu&lt;br /&gt;sedetil-detilnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya lagi, teman-teman si Garu juga tipe yang talk active alias&lt;br /&gt;tukang gosip sehingga berita itu tersebar seantero jagat. Garu pun&lt;br /&gt;terkenal sebagai seorang gadis yang dermawan, suka membantu keluarga.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, secara sadar atau tidak, teman-teman Garu telah menjadi&lt;br /&gt;corong bagi si tangan kiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Plingpling juga terbeban membantu keluarganya, tetapi ia&lt;br /&gt;tak pernah memberitakannya ke orang lain. Ia membantu mulai dari&lt;br /&gt;belanja bulanan ibunya, bayar listrik, telepon, pam, ongkos ayahnya,&lt;br /&gt;dsb. Tetapi karena Plingpling diam dan sama sekali tidak memberi&lt;br /&gt;peluang bagi tangan kiri untuk tahu dan berkicau, image Plingpling&lt;br /&gt;hanyalah dianggap sebagai ‘orang biasa’ di mata teman-temannya, tidak&lt;br /&gt;dermawan seperti si Garu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kalau dihitung nominalnya, Plingpling memberi jauh lebih besar&lt;br /&gt;dari Garu. Setiap bulan rata-rata Garu memberi 500 ribu dari gajinya&lt;br /&gt;yang 5 juta untuk keluarganya, atau sekitar 10% dari total&lt;br /&gt;penghasilannya. Sementara Plingpling memberi 1 juta dari&lt;br /&gt;penghasilannya yang 3 juta rupiah, atau sekitar 35%. Tapi, again,&lt;br /&gt;orang-orang tak tahu hal ini karena Plingpling diam dan memberi dengan&lt;br /&gt;tulus. Sudah menjadi bagian dari dirinya untuk membantu keluarga,&lt;br /&gt;tanpa perlu mengekspos diri agar dipuji dari pihak luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna dari kisah ini adalah peran kita sebagai teman. Kadang tanpa&lt;br /&gt;sadar kita membiarkan si tangan kiri show off. Saat Garu mulai&lt;br /&gt;menceritakan berbagai pemberiannya, sudah sepatutnya kita senyum saja,&lt;br /&gt;tanpa perlu bertanya detil (jangan beri kesempatan si tangan kiri&lt;br /&gt;pamer). Paling sekedar bilang, “Baguslah, berkat memang untuk dibagi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kadang kita malah menjadi corong bagi si tangan kiri. Untuk kasus&lt;br /&gt;Garu misalnya, saat tau bahwa ia sering membantu keluarga, kita malah&lt;br /&gt;menyebarkan hal itu ke orang lain, “Si Garu tuh baik baek suka bantu&lt;br /&gt;keluarganya,” atau “Garu  perlu dicontoh, dia mau bayarin sodaranya,&lt;br /&gt;ibunya, dll. Hebat deh dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal memberi adalah hal pribadi seseorang dengan pihak yang diberi, dan&lt;br /&gt;dengan Tuhan yang mengajarkan proses memberi. Jangan biarkan proses&lt;br /&gt;ini terganggu ketulusannya dengan peran negatif dari diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rombengus310309&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-1462069335255799968?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1462069335255799968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1462069335255799968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2009/04/corong-bagi-si-tangan-kiri.html' title='Corong bagi si tangan kiri'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-454392191885340178</id><published>2008-12-14T14:29:00.002+07:00</published><updated>2008-12-14T14:33:04.409+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='love story'/><title type='text'>Magya &amp; Ceska (part 1)</title><content type='html'>Magya dan Ceska kedua pribadi yang sangat berbeda walaupun keduanya berasal dari negara pecahan Rusia dan sama-sama berprofesi sebagai instruktur balet di sebuah institusi balet terbesar di Rusia. Magya mengajar balet modern dan Ceska mengajar balet klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceska seorang yang pendiam, sedikit misterius dan suka mengamati, terbiasa menganalisa segala sesuatunya hingga detil dan bermakna. Ceska susah sekali percaya dengan seseorang, ia butuh data dan analisa yang mendalam sebelum kepercayaan itu dapat diberikan. Sementara Magya seorang yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;easy going&lt;/span&gt; yang berusaha membalikan berbagai kesusahan hidup dengan tawa keceriaan. Bagi Magya hidup sudah terlalu susah, jadi liat sisi positif dan jalanin aja. Tak heran bila tak sulit bagi Magya untuk percaya dengan seseorang, karena kacamatanya selalu positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya perilaku, interest mereka juga seringkali bertolak belakang. Makanan kegemaran Magya merupakanan makanan yang paling tidak disukai Ceska. Minuman alkohol kegemaran Magya malah membuat Ceska sakit perut saat mencobanya. Kegemaran Ceska merupakan hal yang kurang disukai Magya, sebaliknya, kegemaran Magya terkadang sulit dimengerti Ceska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun masing-masing menyadari perbedaan itu, mereka tidak dapat lepas dari rasa saling suka. Ceska memiliki waktu-waktu khusus dimana ia dapat melihat Magya dari kejauhan dan mengamatinya, yaitu saat Magya mengajar balet di kelasnya. Ceska mengamati gaya Magya mengajar yang penuh derai tawa. Ia mengamati cara Magya berjalan, tertawa, bengong, ngupil sampai celingukan. Dan tanpa disadari, Ceska membuat sebuah daftar ’tentang Magya’ di benaknya dan daftar ini dianalisanya setiap malam sebelum tidur. Proses ini yang perlahan-lahan menumbuhkan rasa cinta Ceska terhadap Magya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Magya juga sangat memperhatikan Ceska. Dan didukung jiwa senimannya, Magya mengamati Ceska dengan menggunakan kelima inderanya. Magya mengamati kecantikan Ceska, wangi tubuh Ceska saat mereka berdekatan, kelembutan kulit Ceska saat tak sengaja lengan mereka bersentuhan, suara dan tawa Ceska. Indera kelima disini bukan pengecapan karena mereka belum pernah berciuman, tetapi perasaan. Magya begitu menikmati saat Ceska berdiri di sebelahnya di dalam lift.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun keduanya saling menaruh hati, prosesnya tidak seindah kisah-kisah di novel atau sinetron. Dibutuhkan waktu yang lama agar hubungan mereka dapat bergerak maju. Ceska yang sulit percaya dengan seseorang, ternyata masih kesulitan untuk membuka hatinya bagi Magya. Ia terlebih dulu menganalisa Magya dengan seksama. Pengamatannnya dilakukan dengan menggunakan data primer, langsung mengamati orangnya dan bertanya langsung ke orangnya, maupun menggunakan data sekunder dengan mengorek informasi dari teman-teman Magya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Ceska menikmati proses penelitiannya itu, Magya sebaliknya beberapa kali kesal dengan lambatnya proses. Sulit mengajak Ceska keluar berduaan. Selalu ada saja alasan dan kendala bagi mereka untuk berduaan. Padahal saat berduaan mereka dapat lebih saling mengenal. Terkadang pergi bersama teman-teman pun sulit bagi mereka.  Saking kesalnya, Magya sempat dua kali memutuskan untuk berhenti mengejar hati Ceska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan ini muncul karena Magya melihat Ceska tak berupaya untuk lebih dekat lagi dengannya.  Magya menilai Ceska hanya ingin berteman, tak lebih dari itu.  Magya pun sempat menduga bahwa Ceska sebenarnya sudah memiliki kekasih. Selama ini ia hanya bersikap sopan padanya.  Karena easy going nya, Magya menjadi tak sabar mengikuti proses yang diajukan Ceska. Ia berprinsip &lt;span style="font-style: italic;"&gt;go or no go, but don’t waste my time&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magya tak bisa disalahkan dalam hal ini karena baginya waktu bukan sekedar uang, dengan hal yang dialaminya, tiap detik begitu berharga untuk dilewatkan. Mengikuti proses pendekatan yang berkepanjangan tanpa kepastian jadi atau tidak, terasa buang-buang waktu bagi Magya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rombengus.14.12.08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-454392191885340178?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/454392191885340178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/454392191885340178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/12/magya-ceska-part-1.html' title='Magya &amp; Ceska (part 1)'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-1167671421333979885</id><published>2008-11-08T22:17:00.000+07:00</published><updated>2008-11-08T22:26:08.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta sesaat?'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta yang tertunda?'/><title type='text'>Selingkuh 5 hari.</title><content type='html'>Sudah hampir 3 tahun Ily menjalin hubungan dengan Read. Hubungan mereka memang tak sempurna (mana ada hubungan yang sempurna?), ada berantemnya, banyak becandanya, ada gila-gilaannya, kadang norak, sampe memprihatinkan. Tapi Ily tetap menjalani hari-harinya dengan Read. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ily bisa bertahan berhubungan selama itu merupakan prestasi besar bagi hidupnya. Hubungan dengan mantan-mantannya biasanya hanya berlangsung dalam hitungan bulan, pernah juga dalam hitungan minggu. Mungkin Ily sudah insaf dan menjadi setia? Atau karena malas mencari atau karena jarang berhubungan dengan dunia luar sehingga peluangnya ketemu yang lain juga minim atau karena dikekepin mulu oleh Read jadi Ily gak punya peluang untuk melihat keindahan mahluk-mahluk lain? Entahlah, yang jelas Ily mampu bertahan dengan Read.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh di luar perkiraan, di saat hubungan mereka sedang sangat sehat, lagi lucu-lucunya, Ily tergoda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ily tergoda dengan Ukra. Ukra bukan orang baru dalam hidupnya. Ily bertemu Ukra 2 tahun lalu di suatu acara reuni SMA. Mereka kerap kontak satu sama lain seusai acara reuni tsb. Ukra sebenarnya sudah lama memperhatikan Ily, tapi Ukra urung untuk maju mengetahui Ily sudah berdua. Ily pun awalnya menganggap Ukra sebagai seorang sahabat, tak lebih dari itu. Tapi kenapa Ily tiba-tiba bisa tergoda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya Ily jenuh dengan Read dan terkadang Ily merasa Read merupakan beban baginya. Terkadang Ily merindukan kebebasan untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Ily ingin melewati akhir pekan tanpa Read, Ily ingin ke mal belanja sesukanya tanpa ada yang ribut mengingatkan untuk hemat, Ily ingin begadang semaleman tanpa ada telpon masuk yang mengingatkannya untuk tidur. Dalam benak Ily, ada hasrat ingin bebas dari Read...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Ukra mencuri perhatiannya. Ukra yang rupawan dengan tingkat kematangan dan kemandirian di atas Read, Ily merasakan ketertarikan yang luar biasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama perasaan itu muncul, Ily kebingungan... Ia berusaha tetap fokus pada Read, dengan tetap berpikiran bahwa Ukra adalah sahabat, dan Ukra tidak mungkin jatuh cinta padanya. Ily berusaha mati-matian untuk berpikir logis, tapi perasaan Ily tetap berantakan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua, Ily berupaya mencari pembenaran atas perasaannya. Ia mulai mengamati Ukra. Ia berusaha mencari tau apakah Ukra juga mendapat daya magnet terhadap dirinya, atau itu hanya pikirannya saja. Tapi Ily tak menemukan hal-hal yang signifikan. Malamnya, Ily berjanji untuk tetap setia pada Read, walaupun ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketiga bertolak belakang dengan hari sebelumnya. Kali ini Ukra menunjukkan keinginannya untuk dekat dengan Ily, memancarkan kehangatan dan sangat peduli akan kehadiran Ily. Ukra yang keras dan penuh pendirian, kini meleleh, bahkan cenderung pasrah dan manja di depan Ily. Perasaan Ily pun kembali berkecamuk! Kemarin ia sudah mengerem perasaan itu habis-habisan, dan kini perasaan itu kembali melambung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari keempat, Ily memutuskan untuk pasrah. Pikirnya, apa pun yang terjadi ya terjadilah... Ily sudah terlalu bingung bila harus menjaga hati dan pikirannya terhadap Ukra. Belum lagi Read tiba-tiba kena demam berdarah yang membuat pikiran dan perhatian Ily pecah bercabang-cabang gak keruan.  Tetapi di luar perkiraan, sikap Ukra di hari keempat itu kembali menjadi biasa saja. Ukra tak lagi menunjukkan perhatian, kehangatan, atau kedekatan. Ukra menjadi dingin. Mungkin Ukra juga berusaha mengubur perasaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kelima, awalnya Ily masih memikirkan Ukra dan Read. Karena pikiran dan perasaan itu begitu mengganggunya, dan karena tak ada respon dari Ukra sementara Read masih tergeletak sakit membutuhkan perhatiannya. Akhirnya di sore hari Ily memutuskan untuk tetap setia pada Read...  Ily berusaha melihat hubungannya dengan Read dari kacamata yang berbeda. Kejenuhannya pada Read tak lagi menjadi hambatan, tetapi dianggapnya sebagai sebuah tantangan bagaimana mengubah kejenuhan itu dengan peristiwa-peristiwa istimewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ily memang belum ngapa-ngapain dengan Ukra. Ily hanya selingkuh pikiran dan hati. Itu pun hanya sejenak, beberapa hari saja. Tetapi Ily merasakan sesuatu yang berbeda pada hidupnya. Ily merasa sensasi ’suka sama seseorang’ yang telah lama tak menghampirinya. Sensasi ’butterflies in the stomach’ yang sudah lama tak dirasainya, sempat bergejolak selama beberapa saat. Ily pun menemukan semangat yang baru, walau sekarang semangat itu bisa menghilang seketika...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, soal cinta siapa yang tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Rombengus_081108&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-1167671421333979885?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1167671421333979885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1167671421333979885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/11/selingkuh-5-hari.html' title='Selingkuh 5 hari.'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-7946912543188006363</id><published>2008-09-15T11:33:00.001+07:00</published><updated>2008-09-15T11:37:27.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='take a rest'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grounded'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sick'/><title type='text'>Lagi grounded ? Nikmatin aja lagi…</title><content type='html'>Belakangan ini saya sering sakit. Bukan rekor yang baik memang, tapi, mau gimana lagi? Hampir tiap kwartal saya jatuh… Entah jatuh dari tangga jemuran, jatuh di trotoar, jatuh dari panggung, jatuh mulu… Belum lagi si vertigo yang datang dan pergi sesuka hatinya.  Dan sekarang saya lagi kena tipus, terpaksa deh grounded lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu saya jatuh di luar kota saat lagi jalan kaki santai.  Tadinya niat ke luar kota mau jalan-jalan/liburan, terpaksa ngedekem di hotel doang. Itu karena engsel kaki saya ada yang bergeser akibat jatuh. Saat kembali ke Jakarta, teman-teman saya pada bingung dan prihatin karena saya datang pakai tongkat, kaki dibalut dan pincang-pincang. Sakit memang, tapi saya berusaha menikmatinya dengan berbagai cara. Tongkat saya cat pakai pilox warna pink, yang membuat orang-orang pada noleh. Bukan liat ke saya yang lagi pincang, tapi ke tongkatnya. Hehe… &lt;br /&gt;Saya pun sangat menikmati saat tiba atau keluar dari suatu tempat, karena para penyambut tamu atau sekuriti langsung berusaha membantu saya. Saya pun membuat survey kecil-kecilan, dan ternyata selama hampir 2 minggu saya pincang dan bertongkat, sekuriti di gedung GKBI yang paling menunjukkan kepeduliannya. Mereka sepertinya langsung ingin menggendong saya begitu keluar dari mobil. Dan saat menunggu taksi, mereka mengerahkan segenap kru nya untuk mencarikan taxi, sementara saya tidak boleh keluar dulu (gak boleh jalan jauh-jauh maksudnya). Asik bukan? Seperti boss besar rasanya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya lagi sakit tipus. Dan ternyata teman-teman sudah banyak yang terlebih dulu terkena. Ada yang 2 kali, dan bahkan ada yang sampai 5 kali. Wah, dia pasti expert sekali dalam hal tipus… Ada pula yang adu parah-parahan, “Dulu tes darah elo, widalnya berapa? Gue pernah +640… trus +420…” Awalnya saya rada bingung melihat reaksi mereka, saya pikir kog mereka malah saing-saingan membanggakan sakitnya? &lt;br /&gt;Saya yang tadinya agak khawatir, kemudian berpikir lain, “Iya ya, gue kan belum pernah sakit tipus, ini bakalan jadi pengalaman baru buat gue!” Dan saya pun berteriak ke teman-teman, “Woi, gue newbie nih di klub…  Asik gak sih sakitnya? Perlu siapin berapa novel, berapa game PS selama grounded?” Yang ada malah teman-teman saya yang giliran bingung, “Nih anak sakit kog malah exciting banget?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, sakit itu gak enak… dan gak kan pernah enak… Malah ada sakit yang berasa banget sakitnya. Misalnya pas tulang engsel kaki saya ditarik sama dokter (untuk dibalikin ke posisinya), rasanya luar biasa sakit. Tapi saya selalu berpikir &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;segala sesuatu ada waktunya, dan bila sudah waktunya sakit ya sakit…&lt;/span&gt; kita gak bisa nolak itu biar gak terjadi… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hati-hati banget kog waktu jalan kaki di luar kota itu, jalannya pelan-pelan, malah tangan kanan bergandengan dengan seorang teman, tapi tetep aja bisa jatuh… Saya termasuk jarang jajan, karena toch makan siang disediain kantor dan saya jarang makan malam. Tapi toch bisa kena tipus…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sakit membuat saya merasa bersyukur atas kehadiran orang-orang di sekitar saya&lt;/span&gt;. Misalnya, saya gak pernah jatuh saat sendirian di rumah atau sendirian di suatu tempat. Pasti ada teman/sodara di sekitar saya… Waktu vertigo saya kambuh dengan parahnya, pasti ada orang lain di sekitar saya. Dan yang melihat saya mengalami gejala-gejala tipus ya teman saya… &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sakit juga membuat saya beristirahat&lt;/span&gt;. Tanpa disadari fisik dan pikiran kita sudah letih berlebihan, tetapi semangat yang membuat kita bertahan. Dan dengan diberi kesempatan sakit oleh Nya, berarti sudah waktunya kita beristirahat. Sakit mengajari kita hidup lebih seimbang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga lagi grounded karena sakit sekarang? Nikmatin aja lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rombengus_130909&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-7946912543188006363?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/7946912543188006363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/7946912543188006363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/09/lagi-grounded-nikmatin-aja-lagi.html' title='Lagi grounded ? Nikmatin aja lagi…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-6156618119816039627</id><published>2008-09-15T11:28:00.000+07:00</published><updated>2008-09-15T11:31:52.466+07:00</updated><title type='text'>Sipe, si pengadu…</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CRoza%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CRoza%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CRoza%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:donotshowrevisions/&gt;   &lt;w:donotprintrevisions/&gt;   &lt;w:donotshowmarkup/&gt;   &lt;w:donotshowcomments/&gt;   &lt;w:donotshowinsertionsanddeletions/&gt;   &lt;w:donotshowpropertychanges/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.5in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.5in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:2115708333; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1834731040 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalau sebelumnya Rombengus pernah bercerita mengenai James, si pengadu, kali ini kisahnya Sipe yang juga punya kebiasaan buruk ‘suka mengadu’… Dan ternyata ngadu-mengadu ini tak terpaut pada &lt;i style=""&gt;gender&lt;/i&gt;, semua orang bisa saja suka mengadu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sipe ini seorang gadis biasa, berperawakan cukup manis, berusia pertengahan 30-an. Ia berasal dari keluarga sederhana yang berambisi menjadi orang kaya dalam waktu secepat-cepatnya. Ia bekerja di sebagai asisten manajer proyek sebuah perusahaan jasa konstruksi tahan gempa di Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pada awalnya Sipe dapat bekerja dengan baik dengan semua rekannya. Waktu itu rekan-rekan sekerjanya tak ada yang menyadari sifat suka mengadunya itu. Tapi lambat laun satu per satu rekannya mengetahuinya (ada yang melihat ataupun menjadi korban) dan malas untuk dekat-dekat dengannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Misalnya saat meeting mingguan membahas perkembangan suatu proyek konstruksi, saat giliran Sipe mempertanggungjawabkan pekerjaannya, ia hanya menonjolkan pencapaiannya yang hebat-hebat saja dan menyembunyikan kegagalannya dengan cara meng-highligt kesalahan/kegagalan orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat pekerjaan proyek renovasi sebuah rumah mewah mundur dari jadwal yang telah ditetapkan. Sipe bukannya meminta maaf kepada team-nya dan mengajak rekan-rekan team untuk dapat membantunya menyelesaikan proyek itu, ia malah mengungkapkan rekannya si A yang juga gagal di proyek X, rekan si B yang juga mundur pengerjaannya di proyek Y, dst. Dan bukan hanya pada saat review mingguan saja, Sipe juga kerap mendekati si Boss untuk mengadukan rekan-rekan satu team atau dari team yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Yang membuat sifat mengadu ini bertambah parah adalah sifat Sipe yang selalu fokus pada kesalahan orang lain, ibarat ‘&lt;b style=""&gt;kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak&lt;/b&gt;.’ Dan keadaan menjadi tambah mengenaskan karena boss nya yang &lt;i style=""&gt;moody &lt;/i&gt;itu selalu percaya pada ocehan Sipe. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan Sipe yang suka gaul itu juga dekat dengan pimpinan lainnya yang memudahkannya melancarkan aksi ngadu ini – ngadu itu… Dan, lagi-lagi, banyak pimpinan di perusahaan konstruksi itu yang begitu mudah mempercayai Sipe, mungkin karena wajahnya yang innocent atau cara berbicaranya yang sangat meyakinkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebagai akibatnya, rekan-rekannya ogah untuk dekat dengannya. Bahkan rekan-rekan satu teamnya sepakat untuk ‘kalau ada apa-apa, gak usah kasih tau Sipe…’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kasus Sipe ini berbeda dengan James, walaupun mereka sama-sama suka mengadu. Ada 2 hal yang menyebabkannya suka mengadu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Ambisi ingin menjadi nomor satu. Ambisi ini dimiliki Sipe sedari kecil. Ambisi ini positifnya dapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membuatnya -sebagai seorang gadis yang tumbuh di Kalimantan dengan kehidupan yang sederhana dan pendidikan biasa saja- datang ke Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dengan penghasilan yang baik pula. Setelah ia memperoleh semuanya itu, ambisinya tak berhenti sampai di situ, kini Sipe berusaha menjadi nomor 1 di kantornya. Sayangnya hal ini ditempuhnya dengan jalan kurang bijaksana, dengan mengadukan rekan-rekannya satu per satu, dengan sikut sana-sikut sini. Sipe tidak menyadari bahwa ia telah menyakiti rekan-rekannya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sifat ini semakin menjadi karena boss nya gemar membandingkan seseorang dengan orang lain. Sipe&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bukan hanya kesal dibandingkan tetapi juga membenci orang yang menjadi pembandingnya itu dan berusaha mati-matian menunjukkan kepada si boss bahwa dirinya jauh lebih baik daripada si pembandingnya, tentu dengan cara mengadukan keburukan orang tsb…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat ketahuan mengadu dan seorang rekannya menanyakan motivasinya, Sipe bak malaikat menjawab bahwa niatnya mulia. Ia menginginkan improvement… Ia ingin rekan kerjanya improve, menjadi lebih baik. Dan ia ingin perusahaan konstruksi itu juga improve… Tetapi saat rekannya balik bertanya, “Oke saya akan improve, kamu sendiri improvement nya apa? Dari tahun lalu kamu lupa melulu… Banyak pekerjaan yang belum selesai sampai berbulan-bulan… bla bla bla…” Sipe tak bisa menjawab. Karena ia memang tidak pernah melihat gajah-gajah di pelupuk matanya….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Ambisi pribadi yang belum terselesaikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukan hanya ingin menjadi nomor 1 di tempatnya bekerja, Sipe juga memiliki target pribadi yang terus diperjuangkannya. Tetapi sayang hingga kini banyak targetnya yang belum kesampaian. Salah satunya adalah menikah. Sebenarnya Sipe telah berpacaran selama 11 tahun. Tetapi hingga kini pria itu tak kunjung melamarnya. Sipe yang cinta mati dengan pemuda itu enggan memaksa si pemudia untuk segera dinikahi, karena Sipe takut pria itu akan kabur bila dipaksa. Empat tahun terakhir Sipe stress berat dengan statusnya ini… Cinta membuatnya terhenti di puncak rel rollercoaster. Pria itu tak urung membawanya turun, menyelesaikan cinta itu hingga ke pelaminan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Target lainnya yang belum kesampaian adalah menyelesaikan studinya. Masih 2 tahun yang harus ditempuh Sipe untuk mendapatkan gelar idamannya. Dan ia sendiri terpusingkan dengan itu. Kuliah belum kelar, si pria belum melamar, belum menjadi nomor 1 di kantor/kampus…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebenarnya tidak ada yang salah dengan target dan planning pribadi yang Sipe buat. Yang menjadi permasalahan adalah cara dan proses mencapainya. Untuk menjadi nomor 1 di kantor, bisa dilakukan dengan cara yang &lt;i style=""&gt;fair&lt;/i&gt;. Bekerja sebaik mungkin, tanpa perlu pusingkan kinerja orang lain. Gak perlu ngurusin orang lain. Gak perlu menikam teman dari belakang demi sebuah pujian dari atasan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan untuk dinikahi kekasihnya, Sipe perlu memberanikan diri untuk mengutarakan isi hati pada kekasihnya. Mungkin sedikit ancaman dapat membuat kekasihnya yang peragu itu berpikir untuk cepat-cepat menikah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk kuliah yang belum selesai, toch itu adalah keputusan Sipe sendiri untuk melanjutkan studi. Seharusnya ia sudah siap dengan konsekuensinya, termasuk lama waktu penyelesaiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;--------&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk kita sendiri, banyak orang yang berambisi besar di sekitar kita. Dan banyak dari mereka yang belum dewasa, emosinya belum stabil dan kurang bijaksana, sehingga proses mereka meraih ambisi tersebut merugikan orang lain… &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bisa jadi kita yang kena dampaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bila kita menjadi si korban, bila kita cukup dekat dengannya, kita dapat menegurnya. Tetapi bila keadaan tidak memungkinkan sebaiknya kita menjauhi orang tersebut. Karena yang ada niat baik kita dianggap negatif dan malah dimusuhi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bila kita menjadi si korban dan telah ditikam dari belakang, tidak ada salahnya menjelaskan situasi yang sebenarnya ke si boss, agar si boss mendapatkan pandangan yang lebih terbuka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bila kita lah pelakunya, tak ada yang salah bila kita berambisi untuk mengapai sesuatu. Tetapi kita perlu melihat apakah hal tersebut memang mampu kita capai dan bagaimana proses pencapaiannya. Saya yakin setiap agama mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada sesama dan saling mengasihi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menikam teman dari belakang, mengadukan teman demi kepentingan pribadi dan menyakiti teman bukan lah hal yang disukai Tuhan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;rombengus_110909 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-6156618119816039627?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/6156618119816039627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/6156618119816039627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/09/sipe-si-pengadu.html' title='Sipe, si pengadu…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-9110736054749826215</id><published>2008-07-12T19:43:00.003+07:00</published><updated>2008-07-12T19:53:31.402+07:00</updated><title type='text'>Love is more than a feeling, it’s a commitment</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Minggu lalu seorang mantan klien ngajak ketemuan, rupanya dia pingin curhat… Dia tak lagi menjadi klien karena kini telah berwiraswasta dengan membuka 2 buah distro (distribution outlet) di Bandung. Bisnis distro ini memang makin marak, apalagi karena dukungan kuat dari pemerintah dalam mengembangkan industri kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Mantan klien itu, sebut saja si CR, curhat mengenai hubungannya dengan suaminya yang telah 7 tahun dinikahinya dan telah memberinya 2 orang putra. Ia kini telah berpisah dengan suaminya, walaupun belum resmi bercerai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia memutuskan berpisah karena tidak menemukan kebahagiaan yang seutuhnya. CR merasa &lt;i style=""&gt;empty..&lt;/i&gt;. Hidupnya sebagai seorang istri, ibu dan pengusaha memang dapat dilakoninya dengan sangat baik, tetapi ada kekosongan dalam lubuk kecilnya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;“Dulu sebelum nikah gue punya pacar lain. Tapi akhirnya gue putusin nikah dengan tuh orang. Dulu sebenarnya gue bingung banget mutusin nikah dengan suami gue yang sekarang atau dengan mantan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;gue itu. Masing-masing ada plus minusnya, dan masing-masing buat gue bahagia dengan cara yang beda,” tuturnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;“Suami gue yang sekarang bisa muasin otak kiri gue. Mantan gue itu bisa muasin otak kanan gue…” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya sempet bingung dengan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; statement&lt;/span&gt; nya ini. “Maksudnya kalau dari segi logika (otak) yang unggul suami yang sekarang, dan kalau hati yang bicara yang unggul si mantan?” tanya saya kebingungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;“Hati gue sih sama-sama aja. Cinta-cinta aja sama dua-duanya… Tapi, gue rada bingung juga.. Cinta itu apa yah? Bukannya logika dulu baru cinta? Bukannya cinta bisa diciptakan setelah hubungan mulai?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Duh, ini pertanyaan klasik yang teori-teorinya terus digosok melalui tulisan, film, novel dan aneka media yang dapat mengungkapkan perasaan manusia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya sendiri bukan seorang &lt;i style=""&gt;expert&lt;/i&gt; dalam konsep asmara karena menurut saya &lt;i style=""&gt;love is a matter of doing, not a theory&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Intinya CR tidak melihat cinta sebagai suatu dewa yang patut diagungkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia menyukai keduanya (suami dan mantan kekasihnya) dan menyayangi keduanya. Dan akhirnya dia memutuskan menikahi suaminya yang sekarang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Sampai di sini cukup &lt;i style=""&gt;clear&lt;/i&gt;, tapi, apa yang dimaksud dengan memuaskan otak kiri dan otak kanan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Ternyata CR memiliki &lt;i style=""&gt;hidden ambition &lt;/i&gt;yang ingin cepat-cepat diwujudkan. Ia jenuh bekerja sebagai PNS selama 10 tahun. Jenuh dengan birokrasi dan KKN. Rasanya 2 hal ini paket wajib yang masih melekat di organisasi pemerintahan kita. Entah sampai kapan… CR berpikir suaminya yang sangat mapan itu pasti akan dapat membantunya mewujudkan ambisinya membuka butik. Dan memang benar, impiannya itu dapat tercapai. Kini 2 buah butik distro dimilikinya. Dan ia tengah merintis yang ketiga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Ini yang disebut dengan memuaskan otak bagian kiri versi CR. “Bukannya mantan gue gak bisa penuhin itu, tapi kayaknya bakal lama. Mungkin baru 5 tahun lagi kesampean…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Walaupun demikian, masih ada sisi kecil di hati CR yang merindukan mantan kekasihnya, “Mantan gue itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gila banget. Lucu banget. Baek banget, kagak suka bentak-bentak, gak kayak suami gue ini.&lt;span style=""&gt;  Mantan gue s&lt;/span&gt;uka punya ide gila dan orangnya spontan. Dia pernah mo nunjukin sesuatu di Belitung. Karena pingin banget, langsung aja kita ke bandara, beli tiket dan pigi. Gila kan?! Pokoknya dengan dia sisi &lt;i style=""&gt;wild&lt;/i&gt; gue bisa tersalurkan! Sisi kreatif gue bener-bener terpuaskan!” Ucapnya sambil tersenyum dengan mata berbinar-binar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Hmm… dia benar-benar masih mengingat mantannya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Coba aja mereka berdua bisa digabung. Wah, bahagia banget gue! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Or&lt;/span&gt; &lt;i style=""&gt;at least&lt;/i&gt; gue bisa nikahin keduanya. Poliandri boleh kan? Hahaha…” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat meminta masukan dari saya, terus terang saya gak bisa bicara banyak. Saya cuma bisa bilang bahwa pertama-tama dia harus mengucap syukur karena berhasil menemukan orang-orang yang dapat membuatnya bahagia..&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada banyak orang yang gak atau belum menemukan pujaan hatinya. Banyak orang yang masih menanti…. Dan CR juga perlu bersyukur karena dapat menikahi salah satu pujaan hatinya. Menikah dengan orang yang ia sayangi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada banyak orang yang menikah karena terpaksa, menikah dengan orang yang gak disukai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Selain itu, gak semua yang kita inginkan dapat terwujudkan kan? CR menginginkan kedua pria itu digabung, gimana cara ngegabunginnya? Atau, ia pingin menikahi keduanya. Apa suaminya yang sekarang bakal setuju dijadiin suami kedua? Pasti gak mau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan untuk memilih satu diantaranya, menurut saya CR telah membuat keputusan 7 tahun yang lalu. Ia memilih menikahi suaminya yang sekarang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keputusan ini adalah suatu komitmen, yang harus ia pegang teguh. Apalagi CR memutuskan menikah dengannya. Menikah kan komitmennya seumur hidup…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Memang sih, CR merasa &lt;i style=""&gt;empty&lt;/i&gt; karena ia merindukan sosok mantannya yang bisa memicu adrenalin berpetualang dan kreatifitasnya. Dan sosok itu tak ia temukan dalam diri suaminya. Tapi seharusnya CR menyadari ini 7 tahun yang lalu, saat ia membuat keputusan. Yang ia alami sekarang adalah konsekuensi dari pilihannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;“Emang gue salah ya sayang sama 2 pria sekaligus? Emang gue salah ya kangen dengan mantan gue?” tanyanya dengan wajah sedih bercampur bingung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Menurut saya, CR gak salah jatuh cinta dengan 2 pria sekaligus karena memang kita gak bisa nebak akan jatuh cinta sama siapa. Dan sekedar kangen dengan mantan sih gak ada masalah, tetapi bila masih menyimpan rasa ingin memiliki, itu yang perlu diwaspadai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;CR terdiam, wajahnya makin sedih. Tapi tiba-tiba dia mengalihkan pembicaraan ke urusan operasional bisnis. Meminta berbagai nasihat termasuk mengajak join di bisnis butiknya. Seakan ingin berlari dari masalah cintanya dengan menyibukkan diri dalam bisnis. Mengisi kekosongan hati dengan bisnis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 120708&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-9110736054749826215?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/9110736054749826215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/9110736054749826215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/07/love-is-more-than-feeling-its.html' title='Love is more than a feeling, it’s a commitment'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-3865961975880756953</id><published>2008-07-11T21:46:00.001+07:00</published><updated>2008-07-11T21:53:47.722+07:00</updated><title type='text'>Unleash your partner</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Seorang teman paling suka memonitor kekasihnya. Kalau lagi jalan bareng dengannya, hampir tiap jam kekasihnya ditelpon dengan bertanya, “Lokasi?” (maksudnya berada dimana saat ini).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang teman lain tiap tiga jam menelpon kekasihnya. Sama juga, dia ngecek keberadaannya. Begitu angkat telpon langsung nanya, “Lagi ngapain?” atau “Dimana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Karena sering melakukan ini, saya sempat berpikir teman-teman ini kayak polisi lalu lintas aja yang kewajibannya memantau apakah kekasihnya tetap mematuhi peraturan atau tidak. Siapa tahu ada penyimpangan seperti perselingkuhan kecil terjadi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Seorang sahabat yang saya ceritain soal ini ngakak dan mulai ikutan memonitor saya. Dia tiba-tiba jadi sering nelpon dan bertanya, “Lokasi dimana? Koordinat berapa?” Sialan… emang lagi dimana pake koordinat segala? Hehehe…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Lebih ekstrim lagi, ada pula seorang teman yang akhirnya memutuskan untuk sekantor bareng dengan kekasihnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mungkin dengan ini mereka bisa bertemu 24 jam sehari (di rumah dan di kantor) dan bisa saling memonitor selama 24 jam non stop! Hmm… kalau begini mereka bukan lagi seperti polisi, tetapi…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Di dunia manajemen, para praktisi (dan akademisi) sepakat bahwa saat ini kita sudah memasuki era pengetahuan, dimana kini setiap orang diperlakukan sangat manusiawi dengan anggapan mereka sudah mandiri sehingga fokusnya pada pengembangan &lt;i style=""&gt;talent&lt;/i&gt; mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Kini bukan lagi jamannya monitoring seperti di era industri. Di era ini kita malah perlu meng-&lt;i style=""&gt;empower&lt;/i&gt; rekan kerja dan bawahan kita, meng-&lt;i style=""&gt;unleash talent&lt;/i&gt; mereka. Talent di sini bukan berarti bakat seperti melukis, menjahit, atau melamun, tetapi potensi diri. Bukan pula talent di industri hiburan/periklanan yang berarti artis/aktor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Konsep &lt;i style=""&gt;empowerment&lt;/i&gt; atau&lt;i style=""&gt; unleash talent &lt;/i&gt;ini juga dapat kita terapkan dalam berhubungan. Kita tidak perlu lagi memonitor pasangan secara terus-menerus, tetapi membantunya mengembangkan potensi diri agar ia bisa optimal dalam menjalani hari-harinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk melakukan ini diperlukan 2 hal utama, yaitu percaya (&lt;i style=""&gt;trust&lt;/i&gt;) dan dukungan (&lt;i style=""&gt;support&lt;/i&gt;). Kita percaya bahwa pasangan kita baik-baik saja, gak nyolek kiri-nyolek kanan, gak lagi mabok di pinggir jalan, tetapi sedang berjuang untuk mencapai cita-citanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan kita wajib mendukungnya dalam proses itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Sifat seperti posesif atau &lt;i style=""&gt;over protected&lt;/i&gt; jelas-jelas kurang mendukung proses &lt;i style=""&gt;unleashing-your-partner-talent&lt;/i&gt; ini, karena sifat tersebut menunjukkan kita masih mendahulukan ego kita. &lt;i style=""&gt;Mind set&lt;/i&gt; kita masih “saya” dan pasangan hanya sebagai ‘obyek’ yang dimonitor. Kasarnya, pasangan kita tak lebih dari bawahan di era industri yang perlu diawasi terus-menerus. Apa hubungan seperti ini yang kita kehendaki?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Bayangkan bila keduanya (sepasang kekasih) saling &lt;i style=""&gt;unleash-their-talent&lt;/i&gt; berarti keduanya saling percaya dan saling mendukung satu sama lain. Fokus mereka pun berubah dari mendahulukan ego masing-masing menjadi “kita”. Dan yang muncul kemudian adalah saling melengkapi, saling mengisi, saling mengasihi..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Bila ini terwujudkan, mungkin teman saya akan menelpon kekasihnya dengan bertanya, “Bagaimana perjuangan dalam mencapai cita hari ini?” hehe.. mungkin ga sepanjang ini kali… Tapi mungkin bertanya dengan &lt;i style=""&gt;care&lt;/i&gt; “How’s life?” dan kemudian perbincangan seputar sharing kisah mereka masing-masing. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bukan lagi monitoring…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt; &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Love is about giving. Give love to the fullest…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 060708&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-3865961975880756953?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/3865961975880756953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/3865961975880756953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/07/unleash-your-partner.html' title='Unleash your partner'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-3107562922215823120</id><published>2008-06-30T11:25:00.002+07:00</published><updated>2008-06-30T11:35:02.978+07:00</updated><title type='text'>KPI orang tua or anak?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=""&gt;Weekend lalu saya menemani kakak yang membawa bayinya untuk mengikuti lomba bayi sehat dan bayi fotogenik di sebuah rumah sakit. Motivasi saya ikutan karena ingin tau kontes seperti itu pelaksanaannya gimana, asyik dan serunya dimana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Penyelenggaraannya sendiri sangat rame,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; dan saya gak nyangka peserta lomba ada lebih dari 100 balita dan batita. Mahluk-mahluk mungil itu ditemani ibu dan susternya, dan ada juga yang ayahnya hadir. Ekspresi para orang tua dan suster ini harap-harap cemas. Saat bayi ditimbang, diperiksa dokter anak dan diperiksa dokter gigi, para ortu tiba-tiba gugup dalam menjawab pertanyaan dokter. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bahkan ada yang lupa data anaknya sendiri. Lupa usia berapa bayinya mulai merangkak, usia berapa mulai duduk dan belajar berdiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Anak sendiri kog bisa lupa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Para bayi dan balita nya sendiri hanya terdiam pasrah… Mereka gak tau mereka sedang ikut lomba. Saat ditimbang mereka diam saja. Dan ada bayi yang menangis saat diperiksa dokter, mungkin karena diperiksa orang asing yang membuat si bayi ketakutan. Ada pula bocah-bocah yang diminta menyanyi secara bergiliran sembari menunggu pemeriksaan kesehatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat nongkrong di sana saya sempat berpikir, sebenarnya yang ikutan lomba ini anaknya atau orang tuanya yah?  &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Anak-anak cenderung pasrah saat ditimbang,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diperiksa dokter dan difoto demi sebuah lomba. Karena mereka gak ngerti… Tapi yang memutuskan ikutan lomba, yang membayar pendaftaran dan berharap menang ya ortunya..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Setelah saya tanya ibu-ibu dan suster di sekitar tempat saya duduk, ternyata para ortu memiliki kebanggaan yang luar biasa bila putra/putri nya bisa menang…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bila si anak menang lomba bayi sehat, berarti ortunya ‘proven’ sebagai ortu yang handal yang dapat merawat si bayi hingga menjadi sehat. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mungkin si ibu akan dipuji oleh suami dan mertuanya (walaupun yang merawat detik demi detik adalah si suster).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bila si anak menang lomba balita fotogenik, berarti ‘proven’ anak mereka cakep dan fotogenik. Dan bila ditarik relevansinya, itu menandakan ortunya juga cakep karena menurunkan gen tersebut ke anaknya. Apalagi pemenang dari lomba fotogenik ini akan dipakai sebagai model di iklan promosi rumah sakit dan juga produk-produk balita. Wah, tambah bangga saja si ortu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bisa dikatakan menang atau kalah si bayi/balita merupakan ukuran keberhasilan  (&lt;i style=""&gt;Key Performance Indicator&lt;/i&gt;, KPI) orang tuanya. Ukuran apakah mereka telah berhasil atau belum berhasil dalam merawat dan membesarkan bayi hingga menjadi sehat. Ukuran apakah bayi/balita yang selama ini mereka anggap tercakep sedunia (maklum, anak sendiri) betul-betul terbukti cakep.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bila lomba tersebut menunjukkan prestasi orang tua, jadi yang ikutan lomba sebenarnya siapa dong? Si bayi/balita atau si ortu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 300608&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-3107562922215823120?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/3107562922215823120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/3107562922215823120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/06/kpi-orang-tua-or-anak.html' title='KPI orang tua or anak?'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-1819981922420157357</id><published>2008-06-27T16:16:00.002+07:00</published><updated>2008-06-27T16:22:01.481+07:00</updated><title type='text'>Sukses?  Versi siapa?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Minggu lalu salah seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;driver&lt;/span&gt; di kantor menawarkan jualannya berupa cemilan. Ada kacang, keripik, chips, dsb. Seperti biasa saya mengambil satu bungkus dan membayar. Dan seperti biasa pula ia bertanya dengan nada memaksa, “Kog cuma satu sih? Yang banyak dong buat orang rumah…” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lalu saya menjawab, “Saya tinggal sendirian, jadi gak perlu banyak-banyak.” Saya pikir ia akan diam dan berlalu sesudahnya, tetapi ternyata ia malah berkata, “Wah enak ya… sudah punya rumah, punya mobil…” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Saya pun terdiam bingung, apa hubungannya dengan cemilan yah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Lunch break&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt; siang tadi tanpa disengaja saya bertemu dengan seorang teman SMA. Terus terang saya sudah gak ngenalin dia, tapi dia masih ngenalin saya. Walaupun saya hanya mengenakan kaus dan celana panjang santai (maklum, hari ini hari Jumat, jadi gak perlu berbusana formal), ternyata gaya saya masih keren dan teman lama saya itu mengira saya sudah demikian suksesnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Saya jadi memikirkan definisi sukses. Sukses itu apa yah? Penampilan keren? Punya mobil dan rumah? Punya anak 7?&lt;span style=""&gt;  Punya pacar 9?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Iseng-iseng saya &lt;i style=""&gt;browsing&lt;/i&gt; di internet dan ternyata definisi sukses tiap orang beda-beda. Ada yang fokus pada kekayaan dimana ‘memiliki sesuatu’ adalah kuncinya. Apalagi bila ‘sesuatu’ itu termasuk benda-benda yang mahal dan berharga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Ada pula yang mendefinisikan sukses sebagai suatu prestasi tertentu yang dicapai. Bisa karir, jabatan, gelar, keluarga, dsb.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada juga yang mendefinisikannya secara abstrak seperti kebahagiaan, sukacita, jumlah berkat (yang konon gak abis-abis), dan banyak lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Tapi kemudian saya berhenti &lt;i style=""&gt;browse&lt;/i&gt; saat membaca definisi sukses dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Ralph Waldo Emerson, terutama di bagian yang hurufnya saya tebelin.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;“The definition of success--To laugh much; to win respect of intelligent persons and the affections of children; to earn the approbation of honest critics and endure the betrayal of false friends; to appreciate beauty; to find the best in others; to give one's self; &lt;b style=""&gt;to leave the world a little better&lt;/b&gt;, whether by a healthy child, a garden patch, or a redeemed social condition.; to have played and laughed with enthusiasm, and sung with exultation; &lt;b style=""&gt;to know even one life has breathed easier because you have lived--this is to have succeeded&lt;/b&gt;." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Saya jadi inget 2 misi hidup saya: &lt;b style=""&gt;becoming a better person day by day&lt;/b&gt; dan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;touching other people’s live&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;. &lt;/i&gt;Bila saya dapat melakukan keduanya, sepertinya inilah sukses bagi saya.  &lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Apa definisi sukses bagi anda?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;:: rombengus 270608&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-1819981922420157357?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1819981922420157357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1819981922420157357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/06/sukses-versi-siapa.html' title='Sukses?  Versi siapa?'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-7446055363152220072</id><published>2008-06-25T23:11:00.001+07:00</published><updated>2008-06-25T23:15:05.707+07:00</updated><title type='text'>Mugi dan kepalanya</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja si Mugi, sedari kecil sering sakit kepala. Rata-rata kambuhnya tiap dua bulan sekali. Dan tiap kali kambuh rasanya sakit sekali sampai bisa merasakan tengkorak kepala. Efek sampingnya berupa badan tidak seimbang, muntah-muntah dan demam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mugi pernah muntah di Sogo-Mal Kelapa Gading, parkiran Plaza Senayan, toilet Senayan City, dsb. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Mugi tahu ada sesuatu di kepalanya, tetapi terlalu medis untuk diceritakan di sini…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Terkadang Mugi suka gak enak dengan kantor karena tiap dua bulan pasti ia izin sakit 2-3 hari karena kepalanya kambuh. Sering pula kambuh saat ada acara penting dari kantor yang wajib diikuti, ataupun saat &lt;i style=""&gt;load&lt;/i&gt; kerjaan sedang tinggi-tingginya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Beberapa hari yang lalu, kepala Mugi kambuh saat mengunjungi klien di Bandung. Sampai maloe dengan klien tersebut… Tapi apa daya, siapa sih yang bisa nahan sakit biar gak kambuh? Biar semanjur apa pun obatnya, kalau memang waktunya kambuh ya kambuh…&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Supir kantor yang mengantar sempat panik saat itu, dan kemudian ia mengemudikan mobil secepat-cepatnya saat membawa Mugi pulang ke Jakarta. Tapi toch, sepanjang perjalanan Mugi muntah-muntah terus…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Karena sakit kepala ini Mugi juga pernah memutuskan orang yang dia kasihi. Karena Mugi tahu benar ambisi orang yang dia kasihi itu begitu tinggi, sementara Mugi tak bisa mendukung. Mugi pikir lebih baik bila mantan kekasihnya itu bersama orang lain yang bisa mendukungnya mencapai cita…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Awalnya Mugi tak bisa menerima kenyataan atas penyakitnya ini. Tetapi lama-lama ia bisa, karena Mugi yakin pasti ada hikmah di balik semua ini. Pasti Tuhan punya sesuatu yang indah untuk Mugi. Bisa saja dengan penyakitnya ini Tuhan menjaga Mugi agar tetap rendah hati, agar Mugi hidup seimbang dan menikmatinya detik-detik hidupnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat ditanya, Mugi paling merasakan satu hikmat yang mendalam, yaitu Tuhan ingin Mugi melihat hidup dari sisi yang berbeda. “Hidup itu bukan sekedar bekerja, cari nafkah, dapet pacar cakep dan kaya, punya bisnis kayak microsoft, … tapi ada banyak makna hidup yang perlu dipahami &amp;amp; di-share ke orang lain…” paparnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan sesuatu di kepalanya, Mugi juga merasa dekat dengan Tuhan, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Gue bener-bener merasa Tuhan itu ada dan Ia bisa berbuat apa aja dengan gampangnya. Gue pernah tiba-tiba sakit parah. Ambruk 1 minggu. Eh, 5 detik kemudian gue gak merasa sakit sama sekali!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Mungkin Mugi bisa dijadikan contoh bila ada diantara kita yang mengalami hal yang serupa… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;If you’re sick, please don’t blame God. He has something for you. Seek God first, then you’ll be fine…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 250608&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-7446055363152220072?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/7446055363152220072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/7446055363152220072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/06/mugi-dan-kepalanya.html' title='Mugi dan kepalanya'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-4502392971810744152</id><published>2008-05-30T07:55:00.002+07:00</published><updated>2008-05-30T08:04:35.330+07:00</updated><title type='text'>To be number 2</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Saat dulu bekerja di suatu perusahaan, pucuk pimpinan di perusahaan tersebut adalah 2 orang sahabat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebut saja si Rob dan si Roef.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebelum memimpin di perusahaan itu, mereka berdua juga bersama-mana memimpin perusahaan lain. Sebelumnya lagi, mereka berdua menjadi manager di perusahaan yang sama. Intinya, mereka selalu berdua…&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya tidak tahu apakah para istri dan anak mereka juga seakrab itu, atau hanya para ayah saja. Tapi belakangan ini saya dengar mereka sudah terpisah. Masing-masing membuat perusahaannya sendiri-sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebenarnya tak ada yang salah dengan kebersamaan mereka. Bisa jadi mereka merasa saling cocok satu sama lain, bisa saling mendukung dalam memimpin perusahaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di tempat kerja lainnya, ada lagi kisah ‘selalu berdua’ tapi kali ini posisinya tidak setara, tapi sebagai kepala suatu SBU (strategic business unit) dan wakilnya. Sebut saja si Sob dan Soef. Sob adalah kepala SBU dan Soef adalah wakil kepala SBU.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan ternyata mereka sudah bekerja dalam posisi seperti ini lebih dari 10 tahun. Di perusahaan sebelumnya, Sob adalah kepala departemen, Soef adalah wakil kepala departemen. Di perusahaan sebelumnya lagi, Sob adalah manajer, dan Soef adalah assistant manajer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sob selalu membawa Soef kemanapun ia pindah kerja. Dan Soef selalu menjadi bawahannya. Posisi Soef bukanlah sebagai penasehat di belakang Sob ataupun menjadi orang pintar di belakang Sob. Tetapi Sob mendapatkan rasa ‘nyaman’ bila di-asisteni Soef.&lt;span style=""&gt; Sob merasa Soef tau dengan tepat apa yang Sob inginkan. &lt;/span&gt;Sob merasa hidupnya ada yang kurang tanpa Soef, walaupun kalau dilihat Sob bisa jalan sendiri tanpa Soef. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bila kita &lt;i style=""&gt;zoom&lt;/i&gt; mengenai si Soef, Soef ini ternyata bangga sekali menjadi wakil Sob. Dia begitu percaya, yakin, dan mengidolakan Sob. Sob adalah pahlawan baginya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini yang positifnya. Yang negatif adalah, Soef menjadi congkak dengan menjadi tangan kanan Sob.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia memperlakukan orang-orang dari bagian/unit lain dengan arogan, bossy, sombong, dsb.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia merasa Sob adalah orang terpenting di perusahaan itu, dan ia adalah tangan kanannya. Tangan kanan si super hero!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lucunya, dikala Soef begitu bangga menjadi wakil si Sob, rekan-rekan kerjanya malah menertawakan dirinya. Karena Soef selalu menjadi bayang-bayang Sob. “&lt;i style=""&gt;Soef the shadow”,&lt;/i&gt; begitu julukan rekan-rekan kerjanya. Tetapi sayang Soef tidak menyadari hal ini…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Soef yang bangga menjadi tangan kanan Sob mungkin tidak lagi berpikiran “Suatu saat kelak saya akan menjadi seperti Sob, tidak lagi menjadi bayang-bayangnya.”&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Soef merasa sudah puas dan bangga menjadi bayang-bayang. Bangga menjadi nomor 2. Atau memang cita-citanya sedari kecil adalah menjadi si nomor 2?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalau saya sih, terserah saja mau jadi nomor 1 atau nomor 2, tapi yang penting gak usah sombong-sombong lah… Kagak usah belagu dengan merasa dirinya paling hebat sedunia..&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang yang meninggikan dirinya akan direndahkan oleh Tuhan…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 290508&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-4502392971810744152?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/4502392971810744152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/4502392971810744152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/05/to-be-number-2.html' title='To be number 2'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-5869125379871036898</id><published>2008-05-25T21:45:00.000+07:00</published><updated>2008-05-25T21:51:42.590+07:00</updated><title type='text'>Oh God, Please Stop This Person !</title><content type='html'>Saya bersyukur weekend kemarin si psikopat tidak mengganggu saya. Psikopat ini julukan untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maniac fan&lt;/span&gt; alias orang yang berusaha mati-matian mengejar saya. Biasanya si psikopat selalu mengirimkan sms berisikan kalimat-kalimat yang mengarah ke cinta. Ada pula sms berisi agenda dia seharian yang gak ada hubungannya dengan saya. Sehari bisa 3-5 sms saya terima. Awal-awalnya sms itu masih saya baca, tapi kemudian langsung saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;delete&lt;/span&gt;. Sayang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;provider &lt;/span&gt;telepon tak bisa mem-blok sms dari nomor-nomor tertentu. Tak seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;messaging tools&lt;/span&gt; (MSN, AOL, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yahoo messanger&lt;/span&gt;) yang dapat mem-blok orang-orang tertentu yang tak ingin kita hubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikopat pernah juga menelpon, saya tak mau angkat dan meminta teman untuk menjawabnya.  Di telepon dia hanya bisa bicara 1 kalimat, kemudian dimatikan. Karena nomornya sudah masuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blacklist&lt;/span&gt; di ponsel saya, psikopat mencoba lagi mengirimkan sms dan menelpon dengan menggunakan nomor-nomor lain.  Akhirnya saya jadi malas angkat telpon dari nomor-nomor tak dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikopat ini pernah memberi saya lukisan, CD musik, boneka, dlsb. Barang-barang itu dikirimkannya ke rumah, yang oleh teman saya semua benda itu kemudian dibuang.  Psikopat juga pernah mengirimkan saya makanan, kakaknya yang disuruhnya mengantar ke rumah. Saat tau kakaknya tengah menunggu di pagar, saya gak berani pulang dan akhirnya menginap di rumah teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si psikopat mengaku sering melihat saya di mal tapi gak berani mendekat apalagi menyapa. Saya pun berkesimpulan bahwa ia sebenarnya cemen… Beraninya cuma melalui media atau lewat kakaknya.  Gak berani berhadapan langsung dengan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah si psikopat ini kadang jadi bahan becandaan dengan teman-teman saya (saya ceritakan kisah ini ke beberapa teman), tapi kadang perlakuannya bikin emosi naik.  Saya pernah 3 kali mengirim sms padanya berisi peringatan untuk berhenti. Tetapi sms itu tak digubris olehnya. Gempuran-gempuran dalam rangka ‘mendapatkan rombengus’ terus dilancarkan.&lt;br /&gt;OH GOD, PLEASE STOP THIS PERSON!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar sebagai manusia si psikopat punya hak untuk menunjukkan isi hatinya. Tetapi di sisi lain saya juga punya hak untuk tidak diganggu. Gangguan yang bertubi-tubi selama lebih dari 1 tahun sudah menunjukkan bahwa psikopat ini seorang yang egois. Dia hanya mementingkan haknya saja, tanpa pernah berpikiran apakah saya terganggu atau tidak, saya suka dengan aksinya atau tidak.  Saya menyepakati niatnya dibalik segala aksinya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dengan orang lain tak lebih dari penyelarasan hak dan kewajiban. Penyelarasan keinginan dan respon.  Penyelarasan impian dan karakter. Apa yang kita inginkan dari orang lain belum tentu juga diinginkan orang itu, belum tentu dapat dipenuhi olehnya. Kedewasaan membuat kita dapat menerima segala respon dengan besar hati, dan mengambil sikap positif dengan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, si psikopat secara tidak langsung juga telah berdosa karena aksi-aksinya membuat orang lain marah, geram, tidak nyaman.  Bukankah di agama apapun kita diajarkan untuk memberi kedamaian bagi orang lain bukannya mengganggu orang lain dan membangkitkan amarahnya?  “Namanya juga sakit jiwa, gak kepikiran soal beginian. Pokoknya end in mind dia dapetin kamu, segala cara akan dikerahkan” ucap sahabat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa berdoa dan berharap. God will stop this person, at once…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: rombengus 250508&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-5869125379871036898?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/5869125379871036898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/5869125379871036898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/05/oh-god-please-stop-this-person.html' title='Oh God, Please Stop This Person !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-8723601047280276619</id><published>2008-05-23T21:27:00.005+07:00</published><updated>2008-05-24T13:28:36.119+07:00</updated><title type='text'>CLBK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di museum Ullén Sentalu di daerah Kaliurang Jogjakarta terdapat ruangan berisi koleksi batik. Di ruangan itu si pemandu menjelaskan sejarah batik termasuk perbedaan motif antara batik Solo, Jogja dan batik pesisir -dari daerah Cirebon, Pekalongan dan sekitarnya. Maklum, batik ini lagi &lt;i style=""&gt;trend&lt;/i&gt; sehingga penjelasan si mbak pemandu tampak menarik dan mudah dipahami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan kesabaran yang tinggi dalam menghadapi rombongan yang berisik dan penuh pertanyaan-pertanyaan ajaib, si mbak tetap menjelaskan sesuai manual/prosedur yang telah dihafalnya. Ia menjelaskan bahwa batik awalnya adalah sakral dan hanya dipakai terbatas di kalangan kraton saja. Walau kini di setiap sudut mal di ibukota telah terjual batik dan pemakai batik mudah sekali ditemui, mulai dari batik tulis berbahan sutera sampai batik kualitas rendah yang luntur melulu saat dicuci.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di penghujung penjelasan di ruangan yang dipenuhi batik itu, si mbak pemandu menyebutkan motif batik CLBK, cinta lama bersemi kembali. Kami semua tertawa mendengarnya karena mengira si mbak bercanda. Ternyata dia gak bercanda. Motif itu memang ada…. Motif itu digambar oleh keluarga kraton yang mengalami jatuh cinta kembali dengan mantan kekasihnya. “Wah, ternyata, orang kraton bisa CLBK juga bo’ !” celetuk seorang teman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pulang dari museum itu, kami membahas soal CLBK di mobil. Awalnya kami membayangkan pasangan kraton &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saling jatuh cinta, lalu berpisah karena satu dan lain hal, tetapi kemudian cinta lamanya datang dan bersemi kembali…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pembahasan itu meluas kemana-mana, maklum kami berempat memang memiliki karakter yang antik dengan daya analisa yang ajaib. Dari analisa kami, akhirnya kami menyimpulkan 3 hal. Pertama, CLBK itu wajar dan manusiawi adanya. Kenangan masa lalu, terlebih kenangan yang indah dan menyentuh hati/perasaan cenderung melekat di benak setiap orang. Dan kenangan tersebut walaupun kita berusaha keras untuk melupakannya, akan sulit untuk dilupakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kedua, CLBK bisa terjadi dalam 3 hal: teringat dalam hati saja, melihat atau bertemu secara non-fisik (melalui media seperti internet, surat, radio , dll), dan bertemu secara fisik (berhadap-hadapan langsung atau melihat dari jauh). Dari 3 kemungkinan itu, teringat dalam hati saja memiliki ‘kekuatan-memangil-memori’ yang lebih rendah daripada bertemu secara fisik. Dengan melihat atau berhadapan langsung dengan orang tersebut, seketika memori/kenangan lama berbaris di benak kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal; font-family: georgia;"&gt;Benih-benih cinta yang terpendam perlahan-lahan kembali menguak apalagi bila ternyata si dia kini makin menawan. Makin dewasa, makin cakep, makin mapan, makin keren, makin…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ketiga - yang terpenting- adalah respon terhadap CLBK itu sendiri. Saat kenangan lama datang, kita dihadapkan pada suatu keputusan untuk menyimpan memori/kenangan itu kembali atau mengeluarkan seluruhnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Misalnya saat saya terkenang akan mantan-mantan saya, bila saya terlena dan membiarkan kenangan-kenangan itu mengalir keluar, bila saya tidak menjaga hati, bukannya tidak mungkin saya akan merindukan kekasih-kekasih lama itu. Dan menginginkan mereka kembali. Tetapi bila saya memutuskan untuk tidak terlena dengan mengalihkan pikiran ke hal-hal lain, berarti saya berusaha menjaga hati agar tidak jatuh cinta lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Anda terkena virus CLBK? Sah-sah saja untuk jadian kembali dengan kekasih lama anda… Dan &lt;i style=""&gt;fine&lt;/i&gt; aja bila anda memutuskan untuk menahan kekuatan merebaknya kenangan indah dengan mantan pujaan hati… &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Love oh love&lt;/span&gt;...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 220508&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-8723601047280276619?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/8723601047280276619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/8723601047280276619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/05/clbk.html' title='CLBK'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-8123635777726107219</id><published>2008-05-23T21:19:00.004+07:00</published><updated>2008-05-24T13:23:24.455+07:00</updated><title type='text'>The golden boy vs Upil</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Seorang teman sering curhat mengenai ketidakadilan pimpinan dalam memperlakukan anak buahnya. Ada anak buah yang dipuja habis-habisan. Bila ia bertindak melenceng dari prosedur, pimpinan seakan tidak mampu bertindak tegas. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Segala usulannya diterima, dan berbagai fasilitas serta kemudahan diberikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia inilah si &lt;i style=""&gt;golden boy&lt;/i&gt; alias anak emas pimpinan. Mengapa anak emas ini diperlakukan demikian? Karena si pimpinan menganggapnya sebagai sumber duit yang bisa menguntungkan perusahaan, selain karena anak emas ini pintar sekali bicara dan meyakinkan orang (&lt;i style=""&gt;persuader).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; font-family: georgia; text-align: left;"&gt;Di sisi lain, adalah si upil.  Upil ini nasibnya bertolak-belakang dengan si anak emas. Usulannya dianggap usulan bocah kemarin sore. Boro-boro dapet fasilitas lebih, kalau bisa dikurangi. Si upil boleh melanggar prosedur? Gak mungkin. Baru datang telat dikit aja si upil sudah dapet teguran keras. Si upil ini semakin gak dianggep karena posisinya yang mengurusi hal-hal bersifat administratif. Maklum, perusahaan yang uzung-uzungnya duit seringkali menyepelekan fungsi admin dengan menganggapnya tidak berkontribusi langsung ke duit, malah ngabisin duit. Ibarat upil, kehadirannya sering disepelekan dan kurang dihargai. Dan bagi si pimpinan, semakin dikit jumlah upil malah makin bagus… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pada dasarnya setiap orang memiliki &lt;i style=""&gt;preference&lt;/i&gt;, lebih suka ini daripada itu. Saya sendiri lebih suka sate daripada nasi goreng, lebih nyaman kerja di pagi hari daripada malam hari, lebih suka mobil kecil &lt;i style=""&gt;built-up&lt;/i&gt; daripada mobil besar, lebih suka &lt;i style=""&gt;travelling&lt;/i&gt; daripada bermain di bursa saham, dll. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat seseorang mulai melalukan &lt;i style=""&gt;preference&lt;/i&gt;, secara sadar ataupun tidak ia mengelompokkan orang/barang/hal ke dalam kelas A dan kelas B.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kelas A yang lebih disukai, kelas B yang kurang disukai atau yang biasa-biasa saja. Bisa pula ditambahkan kelas C yang berisi hal-hal yang tidak disukai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kembali ke kisah si anak emas dan upil tadi, pimpinan yang lebih suka dengan si anak emas memasukkan anak emas itu ke kelas A, sementara si upil berada di kelas B. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebenarnya pengelompokkan ini tak menjadi masalah bila si pimpinan bisa bersikap adil dan berusaha meng-&lt;i style=""&gt;unleash talent&lt;/i&gt; setiap anak buahnya. Orang-orang yang berada di kelas B dan C juga perlu di-&lt;i style=""&gt;unleash talent&lt;/i&gt;-nya. Memperlakukan mereka seperti upil adalah suatu kesalahan besar karena dulu yang merekrut mereka bisa jadi si pimpinan itu sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang-orang di kelas B dan C bila diperlakukan secara tepat dan diberi kesempatan dapat berkontribusi banyak bagi perusahaan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Penjelasan di atas sepertinya tidak mempan lagi mengobati kekecewaan teman saya. Dengan diperlakukan sebagai manusia kelas 2 dan selalu dijadikan upil, ia pun memutuskan untuk pindah. Saya tidak berusaha menghalanginya asalkan ia menemukan tempat yang lebih baik, yang dapat mendukungnya untuk menjadi lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Well, memang benar ungkapan para ahli bahwa mayoritas orang memutuskan untuk pindah bukan karena perusahaannya, tetapi karena pimpinannya…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: georgia; text-align: left;"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 220508&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-8123635777726107219?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/8123635777726107219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/8123635777726107219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/05/golden-boy-vs-upil.html' title='The golden boy vs Upil'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-6996488014735719744</id><published>2008-04-17T17:54:00.003+07:00</published><updated>2008-04-17T18:05:35.748+07:00</updated><title type='text'>James si pengadu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Baru saja mendengar keluhan seorang teman bernama Joan (bukan nama sesungguhnya) yang mengeluhkan suaminya, James.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James ini sedari kecil suka mengadu. Misalnya saat ia dicubit oleh temannya waktu di bangku SD, ia mengadukan hal tersebut ke ibunya. Dan karena posisinya sebagai anak bungsu yang dimanja di rumah, ibu James selalu membela anaknya tanpa terlebih dulu mencari tahu akar permasalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Skill&lt;/span&gt; James mengadu tak terhenti sampai di situ. Saat dikatain teman-temannya sebagai ‘si gendut’ karena kebetulan James bertubuh subur, ia tak hanya mengadu ke ibunya saja, tapi kini juga mengadu ke gurunya. Tujuannya agar gurunya juga memahari temannya itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Skill&lt;/span&gt; mengadu itu terus meningkat. Saat jatuh (karena kesalahannya sendiri) dan temannya menertawakan. James bukan hanya mengadu ke ibunya dan ke gurunya, tetapi juga ke ibu temannya. James ingin agar temannya juga dimarahi ibunya karena telah menertawakan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan mengadu ini terus melekat pada diri James hingga kini ia berusia 40 tahun. James yang sudah menikah dan memiliki 2 putra kini tetap menjadi si pengadu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saat bertengkar dengan istrinya karena istrinya menggedor pintu kamar mandi agar ia mandi lebih cepat, James langsung ngamuk (James memang kerap berang karena hal-hal kecil yang sepele) dan mengadu.. James mengadukan hal ini ke mertuanya, “Ibu, ini si Joan gedor-gedor kamar mandi. Saya kan lagi mandi kog digedor-gedor. Bla… bla… bla…” Ibu Joan sempat panik karena dikira ada hal membahayakan yang terjadi (kecelakaan atau musibah atau apa) sehingga James menelponnya pagi-pagi, ternyata James cuma mengadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga ibu Joan menerima pengaduan, “Anak ibu si Joan ngelarang saya pulang malam. Saya kan kerja, harus jualan! Masa dia ga ngerti sih? Dulu ibu gimana ngedidiknya?” Kalimat terakhir ini membuat hati ibu Joan sedih sekali…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James merasa ‘puas’ karena amarahnya tersalurkan. Ia merasa puas karena anggapannya istrinya pasti akan ditegur oleh ibunya. James merasa ‘menang’ atas istrinya. James tidak perduli akan perasaan Joan dan mertuanya yang hampir tiap minggu mendapat pengaduan, belum lagi pakai embel-embel meragukan cara mendidik anak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, James belumlah dewasa. Meskipun usianya tak lagi muda, tetapi perilakunya masih sangat kekanak-kanakan. Orang dewasa mampu berpikir bijaksana. Bila ada konflik dengan pasangan, dibicarakan dulu berdua. Dan bila permasalahannya ternyata sepele, tak perlu dibesar-besarkan sampai mengadu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ke mertua segala. James pun tergolong &lt;span style="font-style: italic;"&gt;selfish&lt;/span&gt; dengan merasa bahagia saat menegur pasangan dan saat mengadu ke mertua, bukan menegur dengan maksud positip.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dewasa juga mampu bicara dengan bijaksana. Saat menegur pasangan, bukan makian yang keluar tetapi memberi masukan dengan bijaksana. Saat berbicara dengan mertua juga bukan perkataan yang meremehkan/menjatuhkan yang diucapkan, tetapi perkataan yang mendamaikan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada kebiasaan masa kecil yang kurang baik yang masih melekat dalam diri kita yang belum mau/belum bisa kita lepaskan?  Orang dewasa tahu mana perilaku yang baik dan yang kurang baik dan mau merubah dirinya. Orang dewasa yang sehat, mau bertumbuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: rombengus 21.03.08&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-6996488014735719744?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/6996488014735719744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/6996488014735719744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/04/james-si-pengadu.html' title='James si pengadu'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-7418105106487066310</id><published>2008-02-18T19:02:00.001+07:00</published><updated>2008-02-18T19:06:36.679+07:00</updated><title type='text'>Unleash talent gaya timur</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;Sewatktu berada di Eropa dulu, beberapa kali saya dikagetkan akan banyaknya mahasiswa penerima beasiswa dari Indonesia sudah tidak lagi berusia muda. Ada mahasiswa program doktoral berusia 45 tahun. Bahkan ada pula yang berusia 50 tahun. Mahasiswa program Master (s2) juga ada yang berusia 40 tahun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mahasiswa ‘senior’ ini kebanyakan kiriman dari departemen atau kampus tertentu, alias PNS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Yang mengherankan bukan kemampuan mereka, tetapi masa bakti mereka setelah lulus kuliah kelak. Seandainya mahasiswa yang berusia 50 tahun itu menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun, berarti ia akan kembali ke Indonesia dalam usia 54 tahun. Dan bila usia pensiun adalah 60 tahun, berarti sisa masa baktinya 6 tahun saja! Bayangkan bila yang ditugaskan belajar adalah karyawan yang masih muda berusia 30 tahun, saat selesai studi di usia 34 tahun ia masih dapat membaktikan dirinya selama 26 tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Karena hal tersebut, banyak institusi pemberi beasiswa yang memberikan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;batasan usia bagi penerima beasiswa. Umumnya batasannya adalah 30 tahun untuk calon penerima beasiswa S2, dan 35 tahun untuk penerima beasiswa S3. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat ditelaah mengapa yang dikirim belajar adalah yang berusia menua, itu dikarenakan senioritas yang tinggi dalam budaya kita. Sampai-sampai saat ada kesempatan belajar yang dikirim adalah yang tua dulu. “Beri kesempatan untuk yang tua dulu… yang muda kan masih punya waktu untuk kesempatan berikutnya…” begitu komentar seorang teman yang kebetulan pernah mengalami hal itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Budaya senioritas memang melekat dalam budaya kita. Di perusahaan-perusahaan saja, lama bekerja dan tingkat atau posisi jabatan memegang peranan penting. Yang baru bergabung atau yang masih berusia muda seringkali dimasukkan ke dalam daftar ‘the next persons’ alias dianggep gak penting. Usulan dari anak muda sering gak didengar. Hanya yang sudah senior (baik usia maupun pengalaman) dan jabatannya tinggi saja yang dilibatkan di diskusi-diskusi yang dianggap penting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Budaya ini juga pernah disorot oleh iklan rokok dengan yel-yelnya “Yang muda yang ga dipercaya…” yang menunjukkan kalau yang ngomong anak muda akan dipandang sebelah mata atau didengarkan sepertiga telinga. Sementara kalau yang bicara si senior, sudah pasti didengarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ironisnya, di berbagai teori manajemen banyak dibicarakan mengenai pengembangan karyawan (&lt;i style=""&gt;people development)&lt;/i&gt;. Para ahli manajemen sedunia setuju bahwa setiap orang dikaruniai talenta dan talenta itu harus dikembangkan dan dioptimalkan (&lt;i style=""&gt;unleash talent&lt;/i&gt;). Setiap orang punya potensi dan kompetensi yang perlu diasah. Kedengaran indah, bukan? Apalagi di era pengetahuan seperti sekarang, katanya setiap orang tidak lagi dipandang sebagai ‘sumber daya’ tetapi sebagai manusia yang punya hak untuk dikembangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tetapi, ternyata, teori-teori manajemen tersebut banyak yang berasal dari barat, yang kulturnya beda dengan kita. Di sana persamaan hak setiap individu sudah begitu tinggi, setiap orang berani dan bebas bersuara dan didengarkan. Dari kecil, anak-anak bule sudah diajarkan untuk mengutarakan isi hatinya, mengeluarkan pendapat dan mendengarkan pendapat orang lain. Pola itu terus diasah hingga mereka dewasa. Proses mendengarkan pendapat dan mengeluarkan pendapat sudah seperti proses bernafas bagi mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Melihat hal ini, saya jadi memikirkan proses &lt;i style=""&gt;people development&lt;/i&gt; di Indonesia terutama di perusahaan-perusahaan yang budaya senioritasnya tinggi. Seberapa jauh kita dapat mengembangkan orang-orang atau karyawan kita secara maksimal bila ternyata perusahaan masih &lt;i style=""&gt;prefer&lt;/i&gt; dan mendahulukan karyawan yang tua-tua dan yang jabatannya tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Auk ah, gak mau mikirin lagi… mendingan pulang, trus bobo. Hehe :)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 180208&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-7418105106487066310?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/7418105106487066310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/7418105106487066310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/02/unleash-talent-gaya-timur.html' title='Unleash talent gaya timur'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-1315685826892131084</id><published>2008-02-12T17:57:00.000+07:00</published><updated>2008-02-12T18:07:41.627+07:00</updated><title type='text'>Discovering Tanah Abang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Beberapa teman sering prihatin pada saya karena pengetahuan saya mengenai dunia belanja masih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat minim. Untuk kategori mal saja saya hanya suka 3 mal: Ambasador, Plaza Senayan dan Senayan City. Belakangan ini tambah 1 lagi yaitu Pacific Place. Sebenarnya mal-mal tersebut saya gemari karena tidak jauh dari kantor/rumah dan tempat makannya yang lumayan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam rangka meningkatkan pengetahuan, weekend yang lalu teman-teman menggiring saya ke pasar Tanah Abang. Dan ternyata Tanah Abang kini telah berubah wujud! Kini pasar Tanah Abang blok A dan Metro Tanah Abang telah menjadi pasar yang modern. Ber-AC dan bahkan foodcourt-nya senyaman mal-mal bergengsi di Jakarta. Toiletnya saja mirip Senayan City walaupun tidak disediakan tissue wc…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Walaupun telah menjadi modern, sisi lama dari pasar Tanah Abang masih bersisa seperti penjual korma dan karpet asal Timur Tengah. Pasar lamanya sendiri, yang lorong-lorongnya rada gelap, tidak ber-AC dan sempit juga masih ada. Teman saya menjuluki area pasar lama ini sebagai ‘&lt;i style=""&gt;the dark side of Tanah Abang&lt;/i&gt;’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tanah Abang yang baru kini dalam tahap mensosialisasikan perubahan dirinya ke masyarakat. &lt;i style=""&gt;Image&lt;/i&gt; Tanah Abang sebagai pasar yang dekil, panas dan hanya untuk segmen menengah ke bawah, masih melekat di mata masyarakat. Kesannya masih “… belanja di Tanah Abang itu gak keren… gak &lt;i style=""&gt;elite&lt;/i&gt;…” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hal yang serupa juga menimpa bioskop Djakarta Theater. Banyak orang mengira Djakarta Theater adalah bioskop ‘&lt;i style=""&gt;jadul’&lt;/i&gt; yang kumuh dan jelek. Padahal kini Jakarta Theater sudah masuk dalam jajaran bioskop XXI jaringan Cinema 21. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mengubah &lt;i style=""&gt;image&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;label &lt;/i&gt;yang telah melekat memang bukan hal mudah. Untuk percaya bahwa Djakarta Theater dan Tanah Abang telah berubah saja saya perlu datang dan melihatnya dengan mata kepala sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan bukan hanya pasar Tanah Abang ataupun Djakarta Theater, kita sebagai individu pun sering diberi &lt;i style=""&gt;label&lt;/i&gt; oleh orang lain. &lt;i style=""&gt;Label&lt;/i&gt; bahwa kita tukang gosip, gak bisa dipercaya, tukang telat, jarang mandi, bergaya sok sibuk, gak bisa mimpin, suka slonong sana-slonong sini, dsb. &lt;i style=""&gt;Label-label &lt;/i&gt;itu kadang tak sekedar diomongin di belakang atau dikemukakan secara personal kepada ybs (berupa pemberian &lt;i style=""&gt;feedback&lt;/i&gt; yang positif). Tetapi seringkali kita menyampaikannya dengan cara negatif (misalnya berupa sindiran) dan menekankan hal tsb ke orang ybs secara terus-menerus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bayangkan bila si Chan secara kontinu ditekankan bahwa ia adalah si tukang telat. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Walaupun mungkin niatnya merubah Chan, tetapi lambat laun sindiran itu menjadi &lt;i style=""&gt;label&lt;/i&gt; yang begitu merekat sampai-sampai secara psikologis si Chan mengakui dan meng-klaim dirinya sebagai si tukang telat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Chun juga pernah mengalami hal yang demikian. Di suatu organisasi Chun dianggap tidak bisa memberikan pelatihan. Sebenarnya ia bisa saja, tetapi gaya mengajar Chun bertipe serius a la dosen, tidak penuh canda tawa ataupun menggugah emosi seperti di kebanyakan training motivasi. Karena berbulan-bulan Chun selalu ditekankan hal yang demikian, ketika disuruh memberi pelatihan ia malah mundur. Tidak berani mengambil tawaran itu. Di benaknya, tanpa mencoba terlebih dulu, Chun sudah merasa dirinya tidak mampu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya menyebut proses ini sebagai ‘&lt;i style=""&gt;penjajahan mental.. &lt;/i&gt;atau&lt;i style=""&gt; pengkeroposan keyakinan diri&lt;/i&gt;…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mengubah &lt;i style=""&gt;image&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;label&lt;/i&gt; merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Bila Tanah Abang dan Djakarta Theater perlu melakukan proses sosialisasi dan membuat berbagai bentuk iklan selama berbulan-bulan, Chan dan Chun juga mengalami tantangan yang tidak mudah untuk mengubah keadaan mereka. Mereka perlu terlebih dahulu mengubah &lt;i style=""&gt;mindset&lt;/i&gt; mereka terhadap kemampuan diri mereka sendiri. Chan perlu meyakinkan dirinya bahwa ia bukan seorang yang suka telat. Chun perlu mengubah &lt;i style=""&gt;mindset&lt;/i&gt;nya bahwa ia dapat memberikan pelatihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan &lt;i style=""&gt;mindset&lt;/i&gt; yang baru, Chan dan Chun dapat mulai memperbaiki diri mereka (tidak lagi suka terlambat dan mulai belajar mengajar training yang menggugah emosi), dan kemudian menunjukkan perubahan itu ke orang lain. Mungkin proses ini akan makan waktu. Mungkin Chan dan Chun perlu diberi kesempatan khusus untuk mengubah &lt;i style=""&gt;label&lt;/i&gt; diri mereka. Atau mungkin Chan dan Chun perlu mencari lingkungan baru yang lebih kondusif dimana mereka dapat mulai hidup baru dengan &lt;i style=""&gt;image&lt;/i&gt; positif...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 11.02.08 ::&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-1315685826892131084?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1315685826892131084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1315685826892131084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/02/discovering-tanah-abang.html' title='Discovering Tanah Abang'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-7160144378056867602</id><published>2008-02-06T20:42:00.000+07:00</published><updated>2008-02-06T20:56:20.636+07:00</updated><title type='text'>The power of move!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sudah lebih dari 6 bulan Bun kerap mengeluh mengenai kantornya. Mulai dari atasannya yang kurang mempercayainya, rekan sekerjanya yang suka bersaing, budaya perusahaan yang menurutnya kurang sehat, pekerjaan yang membosankan dan tidak menantang, dsb. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Memasuki tahun 2008 keluhan-keluhan itu tak kunjung berakhir. Tak adanya kenaikan gaji, tak ada penilaian kinerja. Boro-boro ada penilaian kinerja, wong ukuran (KPI) seseorang berhasil atau tidak saja gak ada. Tekanan-tekanan dari atasan juga semakin menjadi, dan klien yang rewel kini semakin rewel. Bun pun merasa kemampuan berpikirnya kini makin merosot, ia jadi cenderung lamban, pasif dan malas berpikir…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Beberapa hari yang lalu Bun jatuh sakit. Ia terpaksa berbaring di rumah sakit selama seminggu. Setelah diteliti, penyakit yang menyerang pencernaannya itu berasal dari tekanan-tekanan akibat ketidaknyamanan yang diperolehnya di tempat kerja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat terbaring di rumah sakit, Bun semakin menyadari bahwa kekecewaan-kekecewaan yang diperolehnya di tempat kerja tidak membuatnya bertumbuh, sebaliknya malah menggerogoti kesehatannya dan membuatnya menjadi seorang pengeluh, padahal dulu ia jarang mengeluh. Kemampuan intelegensianya pun makin menurun karena tidak dipergunakan secara maksimal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat sakit itu pula Bun menyadari bahwa nasihat-nasihat temannya yang menganjurkannya untuk pindah kerja memang benar, dan ia bertekad untuk melakukannya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bun bertekad untuk keluar dari kondisinya sekarang. Bun bertekad untuk pindah ke tempat yang lebih baik dan menjadikannya lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tekad yang bulat itu mengubah keadaan. Bun kini menjadi semangat dan penuh keceriaan dalam menjalani hari-harinya. Perilaku bos ataupun rekan sekerja yang menjengkelkan hanya ditanggapi senyuman olehnya. Pekerjaan yang membosankan dikerjakannya dengan santai. Sistem dan budaya perusahaan yang kurang baik tak dipedulikannya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kini Bun menjalani hidupnya dengan cerah ceria… Ia menikmati hari-harinya. Fisik dan mentalnya sangat sehat sekarang. Tak ada lagi keluhan-keluhan major keluar dari mulutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalau dipikir-pikir, Bun belum pindah kerja, ia masih di kantor lamanya, tetapi mengapa ia sudah sebegitu ceria? Mengapa hidupnya kini terasa ringan? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bisa jadi itu karena Bun telah menemukan solusi untuk permasalahannya (dengan cara pindah kerja) dan ia bersemangat untuk membuat hal itu terwujud. Semangat dan harapan untuk mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baiklah yang memotivasinya dan memberi kekuatan baginya. Semangat serta harapan itulah yang membuat hidupnya kini penuh warna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sama seperti Bun, Mungkin kita juga memiliki berbagai permasalahan. Putus asa dan terpaku dengan keadaan sekarang tak membuat kita keluar dari permasalahan tersebut. Mengeluh dan banyak mengeluh tak membuat keadaan kita menjadi lebih baik. Mengeluh mungkin dapat memberi sedikit kenyamanan, tetapi permasalahan tetap di depan mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Berani membuat keputusan, mengambil langkah untuk menjadi lebih baik dan berusaha meraihnya dapat memberi semangat dan kekuatan bagi kita. Harapan bahwa kelak kita akan meraih hal-hal yang lebih baik merupakan sumber sukacita dalam menjalankan hidup kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 060208&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-7160144378056867602?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/7160144378056867602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/7160144378056867602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2008/02/power-of-move.html' title='The power of move!'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-3024642840505441900</id><published>2007-10-01T08:50:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T08:57:43.640+07:00</updated><title type='text'>Leaving in a good term or in a bad term</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;Kio adalah seorang trainer andalan di perusahaan tempatnya bekerja. Dalam satu bulan, Kio bisa mengajar lebih dari 15 kelas, dan ia pun dipercaya mengajar berbagai subyek. Tak lama berselang, dengan ambisinya yang begitu besar, Kio memutuskan untuk membuat perusahaan training sendiri. Keputusan Kio untuk menjadi pengusaha bukanlah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hal yang buruk, tetapi Kio bertindak kurang bijaksana karena terlebih dulu mengambil obyekan dengan mengajar di luar kantor sebelum ia resmi mengundurkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Koa juga melakukan hal yang mirip. Saat mendapatkan tawaran untuk bekerja di tempat lain, Koa segera mengundurkan diri dari kantor dan mengelak untuk menyelesaikan proyek yang menjadi tanggung jawabnya. Padahal perusahaan telah menginvestasikan dana untuk proyek tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kisah si Kai lebih gila lagi. Dengan beraninya ia membagikan kartu nama dari kantor barunya padahal belum mengajukan pengunduran diri ke kantor lamanya. Dan kartu nama itu dibagikan ke klien-klien kantor lamanya. Mungkin Kai bermaksud menjalin relasi, tetapi bukankah dapat dilakukan dengan cara yang lebih &lt;i style=""&gt;smooth&lt;/i&gt;, misalnya dengan terlebih dulu &lt;i style=""&gt;resign&lt;/i&gt;?&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kio, Koa dan Kai adalah tiga dari ratusan karyawan yang memilih untuk &lt;i style=""&gt;resign&lt;/i&gt; tanpa berupaya meninggalkan nama baik (&lt;i style=""&gt;leaving in a good term&lt;/i&gt;). Dan mereka pun kemudian dikategorikan sebagai orang-orang yang memiliki integritas yang agak diragukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;………………………………………………………………….&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Memutuskan untuk &lt;i style=""&gt;resign&lt;/i&gt; dari pekerjaan merupakan hal yang wajar. Mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di tempat yang lebih baik merupakan suatu kesempatan yang sayang untuk dilewatkan, karena kesempatan itu mungkin tidak akan datang lagi… Tetapi, saat keputusan untuk pindah kerja telah dibuat, kita tetap diwajibkan menyelesaikan tanggung jawab yang ada di kantor lama dan mengajukan pengunduran diri secara formal. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebenarnya proses perpindahan ini cukup sederhana, tetapi terkadang kita begitu bernafsu dengan kantor baru, sehingga menyepelekan kantor lama. Kita dibutakan dengan fasilitas, gaji dan segala hal-hal yang menyilaukan mata yang ditawarkan di kantor baru, yang membuat kantor lama bagaikan tempat kumuh lengkap dengan segala hal-hal negatif dan penderitaan. Ibarat pepatah, saat memperoleh teman baru, teman lama kita lupakan. Saat mendapatkan pacar baru, pacar lama ditinggal begitu saja...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat memutuskan untuk mengundurkan diri, kita dihadapkan pada 2 pilihan: meninggalkan kantor lama dengan nama baik&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;(&lt;i style=""&gt;good term&lt;/i&gt;) atau nama buruk (&lt;i style=""&gt;bad term&lt;/i&gt;). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sangat dianjurkan agar kita mengambil pilihan yang pertama. Kita perlu menjaga tali silaturahmi, menjaga hubungan baik dengan semua orang, baik orang yang akan kita jumpai walaupun yang akan kita tinggali. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kita juga perlu berpikir bahwa hal-hal tak terduga dapat terjadi sewaktu-waktu. Orang-orang yang kita pikir akan kita tinggali selamanya, kita kira tidak akan bersua ataupun berhubungan lagi dengannya selamanya, ternyata kita bertemu kembali dengan mereka di masa mendatang. Ternyata kita malah berhubungan kembali dengan mereka. Ternyata kita membutuhkan mereka di masa mendatang. &lt;i style=""&gt;Who knows?&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Jadi, Anda sudah memutuskan untuk &lt;i style=""&gt;resign&lt;/i&gt;?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;I’ll support you, but please leave in a good term&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  ;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 280907&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-3024642840505441900?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/3024642840505441900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/3024642840505441900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/10/leaving-in-good-term-or-in-bad-term.html' title='Leaving in a good term or in a bad term'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-1535252394444059138</id><published>2007-09-27T17:38:00.000+07:00</published><updated>2007-09-27T17:42:23.948+07:00</updated><title type='text'>Saya juga suka mengeluh…</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;Dua minggu yang lalu seorang rekan -yang termasuk barisan orang yang diagungkan di kantor- mengkritik perusahaan. Kritik bukanlah suatu hal yang salah untuk dilakukan. Tetapi mengkritik dalam pertemuan mingguan tanpa memberikan solusi –sebatas mengumbar kekurangan kantor- bukanlah hal yang bijaksana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ia memprotes keras ketidakmampuan perusahaan membentuk budaya berbasis pengetahuan. Ia mengkritik budaya perusahaan yang dianggapnya buruk. Ia terus berkomentar selama lebih kurang 10 menit, tanpa memberi sebuah solusi. Yang ada malah dapat membuat rekan-rekan lainnya menurun motivasinya untuk bekerja di perusahaan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Kemarin, orang yang sama –yang juga masih diagungkan di kantor- kembali mengumandangkan keluhannya atas kantornya sendiri. Ia mengeluh mengapa buku-buku di perpustakaan dibiarkan dalam kaca, tidak dibiarkan terbuka agar setiap orang dapat memegangnya. Ia mengeluh keras, “Katanya perusahaan &lt;i style=""&gt;world-class&lt;/i&gt;, tetapi kog mentalnya masih kampungan!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Tak puas sampai di situ, ia membandingkan perusahaan tempatnya bekerja dengan perusahaan-perusahaan di Amerika. Memang ia pernah bekerja dan bermukin di negeri paman Sam selama bertahun-tahun, tetapi mengumandangkan keluhan sekeras-kerasnya -apalagi di depan anak baru- juga merupakan sikap yang kampungan! Akhirnya saya terpaksa mengklarifikasi pernyataan dan keluhan orang tsb ke anak baru, agar ia tidak terpengaruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Lepas dari betul-tidaknya keluhan tersebut, lepas dari mengapa ia begitu diagungkan di kantor padahal ternyata suka mengeluh, dua kejadian itu seperti menyadarkan saya akan pentingnya menjaga ucapan kita. Keluhan-keluhan yang dilakukan memang memang merupakan hal yang manusiawi, tetapi ternyata perlu dipikirkan cara menyampaikannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Mengumbar keluhan kesana-sini terbukti tidak memecahkan masalah. Orang yang mendengar malah dapat berpersepsi negatif pada kita dengan menganggap kita sebagai ‘si pengeluh.’ Dan orang lain juga bisa terpengaruh dengan keluhan kita sehingga mempengaruhi kinerja mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk saya sendiri, kejadian tersebut membuat saya tersadar bahwa saya sendiri pun masih sering melakukan hal itu. Saya sendiri masih suka mengeluh dan menyalurkannya dengan cara yang masih kurang bijaksana. Saya mengeluh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kekurangan-kekurangan kantor. Saya mengeluh  jalanan ibukota yang sering macet. Saya mengeluh pemerintah &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Indonesia yang amit-amit&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style=""&gt;. Saya mengeluh ini-itu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;:: rombengus 270907&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-1535252394444059138?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1535252394444059138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1535252394444059138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/09/saya-juga-suka-mengeluh.html' title='Saya juga suka mengeluh…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-1413325717341158152</id><published>2007-09-04T07:55:00.000+07:00</published><updated>2007-09-04T08:00:14.876+07:00</updated><title type='text'>Be perfect, be u…</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;Beberapa waktu lalu saya terjebak macet parah di jalan &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Casablanca&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style=""&gt;. Bayangkan saja, dari area Benhil untuk sampai ke mal ambasador memerlukan waktu 1 jam! Konon dikabarkan kemacetan itu karena adanya demo di depan kedutaan besar &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Malaysia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style=""&gt;. Sekelompok orang berdemo, sekelompok orang lainnya terkena macet…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saat macet, biasanya saya mengandalkan 2 hal: cemilan dan radio. Saking seringnya terkena macet, dalam mobil pasti ada cemilan, entah itu kacang, wafer, atau &lt;i style=""&gt;cookies&lt;/i&gt;. Radio pun selalu menemani saya kemana pun ia pergi. Khusus untuk radio ini, tadinya saya sembarangan memilih stasiun pemancar, tetapi karena seorang teman bekerja sebagai penyiar di radio U FM 94,7 maka iseng-iseng saya mendengarkan stasiun radio itu, dan lama-lama sering nyantol di sana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kemacetan di jalan raya seringkali terobati dengan &lt;i style=""&gt;request &lt;/i&gt;lagu ke Echi, teman saya yang penyiar itu. Bahkan kadang Echi juga suka berceloteh tentang saya dan kadang menyebutkan nama saya saat siaran. Bukannya numpang beken, tetapi hal ini terbukti dapat mengobati ke-bete-an hati menghadapi macet, walau Echi juga membuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;joke&lt;/span&gt; atas diri  saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lama-kelaman setelah mendengarkan U FM saya tertarik dengan slogannya ‘&lt;i style=""&gt;the perfect u..&lt;/i&gt;’ dan ‘&lt;i style=""&gt;be perfect, be u…&lt;/i&gt;’. Slogan ini mungkin terkesan arogan, “Sempurna? Mana ada orang yang sempurna? Mana bisa elo jadi sempurna??”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bagi saya slogan ini memiliki makna yang cukup dalam. Memang tidak ada orang yang sempurna dan kita tidak akan pernah menjadi sempurna, tetapi menjadi sempurna itu sendiri adalah suatu ‘proses’ terus-menerus untuk memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik (&lt;i style=""&gt;to be perfect)&lt;/i&gt;. Dan dalam proses tersebut juga dibarengi dengan menjadi diri sendiri (&lt;i style=""&gt;to be you)&lt;/i&gt;. Setiap orang dilahirkan secara unik dan keunikan tersebut perlu dipertahankan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sejauh ini mungkin berkesan sepele, tetapi mengapa sebuah radio mengangkat hal tersebut menjadi slogan radionya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bisa jadi karena saat ini ada banyak orang yang merasa puas dengan keberadaan dirinya, menganggap dirinya sudah sangat hebat, sudah jago. Pemikiran semacam ini membuat ego diri meningkat dan dapat menghambat proses &lt;i style=""&gt;self-improvement&lt;/i&gt;. Dapat menghalangi proses untuk menjadi &lt;i style=""&gt;perfect&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Gejala merasa-dirinya-sudah-hebat ini tidak hanya menimpa para pekerja senior dan eksekutif muda, tetapi juga &lt;i style=""&gt;fresh graduate&lt;/i&gt; yang baru mulai bekerja. Seorang &lt;i style=""&gt;fresh graduate&lt;/i&gt; –sebut saja Rifi- yang baru saja direkrut di sebuah perusahaan asuransi untuk menjadi tenaga penjual kini tak mau lagi dikasih &lt;i style=""&gt;input&lt;/i&gt; oleh rekannya yang lebih senior. “&lt;i style=""&gt;Style &lt;/i&gt;saya kalo jualan memang begini …” argumennya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Argumen tsb membuat saya tersenyum karena bingung, darimana Rifi tahu bahwa itu adalah &lt;i style=""&gt;style&lt;/i&gt;-nya sementara ia sendiri belum mengetahui &lt;i style=""&gt;style-style&lt;/i&gt; yang lain? Persepsi arogan semacam itu malah mematikan proses belajarnya. Dalam upaya menjadi &lt;i style=""&gt;perfect&lt;/i&gt;, sebaiknya Rifi mendengarkan rekan seniornya karena mungkin saja cara jualan yang diajarkan rekannya tersebut lebih efektif. Bila telah mengetahui berbagai metode dan menemukan metode jualan yang paling tepat untuk dirinya, baru Rifi dapat menyesuaikan &lt;i style=""&gt;style&lt;/i&gt;nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;To be perfect&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; dan &lt;i style=""&gt;to be u &lt;/i&gt;merupakan proses yang berjalan paralel dan saling melengkapi. &lt;i style=""&gt;To be u &lt;/i&gt;tanpa menjadi &lt;i style=""&gt;perfect&lt;/i&gt; dapat menghentikan &lt;i style=""&gt;self-improvement&lt;/i&gt; kita. &lt;i style=""&gt;To be perfect&lt;/i&gt; tanpa menjadi diri sendiri membuat kita kehilangan jati diri. Dan pada akhirnya keduanya membuat kita menjadi &lt;i style=""&gt;the perfect u&lt;/i&gt;.. seperti yang kerap dikumandangkan Echi saat siaran…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;:: rombengus 030907&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Untuk Daisy Octavia (Echi) di radio U FM 94.7. &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: arial;"&gt;“Hope your further journey will make you to be perfect and be u…”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-1413325717341158152?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1413325717341158152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1413325717341158152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/09/be-perfect-be-u.html' title='Be perfect, be u…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-2103211086086542152</id><published>2007-08-20T11:42:00.000+07:00</published><updated>2007-08-20T11:54:33.554+07:00</updated><title type='text'>Bali tanpa pantai ?</title><content type='html'>Pulau Bali terkenal dengan pantainya, mulai dari Kuta, Legian, Nusa Dua, Sanur, Lovina, Jimbaran, Medewi, dsb. Pantai-pantai itu terkenal di berbagai belahan dunia karena pasirnya yang lembut, bersih, ombaknya yang cantik, dan mataharinya yang bersinar sepanjang tahun. Asik untuk berjemur, berenang dan berselancar. Banyak wisatawan berdatangan untuk melihat indahnya pantai-pantai tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sendainya Bali tanpa pantai? Apakah akan tetap menjadi tujuan wisata nomor satu di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini Atun bersama beberapa teman melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trip&lt;/span&gt; ke Bali, tetapi ia bertekad tidak mengunjungi pantai sama sekali. Tema &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trip&lt;/span&gt; Atun memang seperti judul tulisan ini: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bali tanpa pantai…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendarat di Ngurah Rai, Atun dan teman-temannya langsung ke daerah Ubud. Mereka menginap di sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cottage&lt;/span&gt; di sana. Wisata juga dilakukannya di seputar daerah itu. Mereka menyewa sepeda, dan beramai-ramai bersepeda mengelilingi wilayah Ubud. Menikmati indahnya terasiring dan pemandangan yang berbukit-bukit. Duduk-duduk di pinggir sawah, foto-foto dan menulis berbagai kisah. Mengunjungi rumah-rumah pengrajin. Pengrajin perak, patu, lukisan, dsb. Mengamati bagaimana para seniman itu tak kehabisan ide dalam berkreasi. Mereka juga menikmati lezatnya sajian makanan dan pemandangan di Bebek Bengil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan Atun di Bali. Dan semuanya berjalan luar biasa menyenangkan dan tak terlupakan. Walaupun sama sekali tidak mengunjungi pantai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang dilakukan Atun ini terdengar antik. Tetapi sebenarnya Atun dan teman-temannya belajar untuk tidak terjebak dengan suatu ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;label&lt;/span&gt;’. Bali sangat indah dengan pantai-pantainya, tapi bagaimana bila Bali tidak berpantai? Ternyata Bali tetap indah… Keluar dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jebakan label &lt;/span&gt;ini membuat Atun dan rekan-rekannya dapat memandang suatu hal/benda/keadaan dari sisi-sisi lainnya, bukan hanya dari satu sisi yang telah terpatok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor tempat Rombengus bekerja ada istilah ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;paradigm zero&lt;/span&gt;’. Mirip dengan yang dilakukan Atun, ada gerakan dimana kita tidak terjebak dengan suatu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;label&lt;/span&gt; (baik yang dibuat oleh diri sendiri maupun label dari pihak lain), tetapi berusaha untuk membersihkan pikiran dengan kembali ke titik nol (kosong, tanpa label sama sekali). Saat paradigma kita bersih, kita dapat melihat berbagai sisi –baik positif maupun negatif- dengan kacamata berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi pada Atun, saat kita berhasil melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;paradigm zero&lt;/span&gt;, kita dapat melihat keindahan-keindahan yang selama ini tersembunyi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: rombengus 200807&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-2103211086086542152?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/2103211086086542152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/2103211086086542152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/08/bali-tanpa-pantai.html' title='Bali tanpa pantai ?'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-8570175777529622626</id><published>2007-08-20T07:27:00.000+07:00</published><updated>2007-08-20T07:42:34.081+07:00</updated><title type='text'>The golden boy, the golden girl</title><content type='html'>Apakah Anda sebagai pimpinan mempunyai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the golden boy&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the golden girl&lt;/span&gt; di tempat kerja Anda? Atau mungkin rekan sekerja Anda yang dijadikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;golden person&lt;/span&gt; tersebut oleh atasan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena dimana pimpinan menjadikan seseorang sebagai manusia emas bukan hal baru dan merupakan hal yang sangat manusiawi. Fenomena ini diawali ketertarikan seseorang terhadap orang lain. Dan kemudian tumbuh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trust&lt;/span&gt; pada orang tersebut. Dan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trust&lt;/span&gt; yang tinggi, seorang pimpinan dapat menspesialkan seseorang. Ia memberi orang itu tanggung jawab, wewenang dan fasilitas yang lebih dari standar/kebiasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi psikologis, setiap orang punya kecenderungan untuk menyukai suatu hal dibanding hal-hal lainnya. Setiap orang memiliki &lt;span style="font-style:italic;"&gt;preferenc&lt;/span&gt;e. Misalnya si A suka warna biru daripada warna-warna lainnya. Atau si B yang lebih suka kekasih wanita berambut panjang. Atau si C yang lebih suka tinggal di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;landed house &lt;/span&gt;daripada di apartemen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Invicible&lt;/span&gt;, ada seorang pelatih yang berkata, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I play no favorit&lt;/span&gt;e” pada anggota &lt;span style="font-style:italic;"&gt;team&lt;/span&gt;nya. Tetapi tetap saja pada akhirnya ia menjadikan Vince Papale, pemain dengan nomor punggung 83, sebagai jagoannya alias &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the golden boy&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pimpinan yang juga manusia, sangat wajar bila mereka cenderung untuk memfavoritkan salah satu bawahannya dibanding bawahan-bawahan lainnya. Alasannya bisa bersifat subyektif seperti lebih klop dalam bekerja, lebih nyambung saat diajak bicara, latar belakang yang mirip, perilaku yang serupa. Maupun alasan yang bersifat obyektif seperti kemampuan orang tersebut yang bisa diandalkan dan dibutuhkan perusahaan, latar belakang orang tersebut yang menguntungkan perusahaan, atau bisa saja orang tersebut dapat mengambil hati pimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menarik dari fenomena ini adalah reaksi rekan-rekan terhadap si manusia emas. Ada yang geram, menggosipkan, mencibir, meremehkan, sampai tak bisa menerima kehadiran si manusia emas. Tapi ada juga yang memberi respon cuek seperti Rombengus, “Mau emas kek, perak kek, perunggu kek, emang gue pikirin?” Dan pada akhirnya mereka sepakat pada keputusan, “Biarin aja deh dia di-favorit-in, kita lihat aja dia bisa atau nggak... Liat aja kinerjanya gimana...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pada akhirnya waktu jua yang membuktikan apakah manusia emas itu benar-benar ampuh dan murni seperti emas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatan Rombengus terhadap manusia-manusia emas di sekitar Rombengus, tak sedikit dari mereka yang ternyata tidak seperti emas. Ada yang ternyata kompetensinya biasa-biasa saja, pekerjaannya banyak yang ‘meniru’ atau mengambil konsep dari orang lain. Lucunya setelah ketahuan kelemahannya ini, dia tetap diemaskan oleh atasan karena pintar bicara. Ada yang setelah diagungkan, kemudian ternyata perilakunya malah melanggar etika sehingga harus meninggalkan arena pertempuran. Ada pula yang berusaha menjual dirinya dengan segenap cara agar bisa menjadi anak emas pimpinan. Proses menjual diri ini dilakukan mulai dari pamer kemampuan (sampai kadang terkesan norak, walaupun ia tidak sadar akan hal itu) sampai upaya jilat sini-jilat situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi si manusia emas itu sendiri, sebenarnya mereka gimana sih? Enak gak sih jadi manusia emas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombengus pernah beberapa kali menjadi manusia emas. Awalnya Rombengu tidak tahu bahwa itulah yang disebut dengan manusia emas. Rombengus malah merasa dicemplungin dalam suatu pekerjaan yang membutuhkan tanggung jawab dan wewenang yang tinggi. Di satu sisi kebanggaan itu ada, tapi di sisi lain tentu saja ada ketakutan seandainya hal negatif yang terjadi (pekerjaan/proyek berjalan tidak sesuai rencana).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untung saja Rombengus terlahir sebagai manusia cuek (teman-teman menjulukinya ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;autis sempurna&lt;/span&gt;’ alias cuek banget. Hehe..) sehingga Rombengus tidak memikirkannya. Saat itu Rombengus hanya fokus dengan menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya.  Dan seperti layaknya kisah dongeng yang selalu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;happy ending&lt;/span&gt; -yang membuat produser gerah sehingga membuat film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Happily Never After&lt;/span&gt;- Rombengus dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vince Papale juga serupa, ia tak perduli dengan julukan apa pun. Ia tak perduli dengan omongan orang. Ia fokus dengan bermain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;football&lt;/span&gt; sebaik-baiknya. Dan akhirnya ia dapat membawa&lt;span style="font-style:italic;"&gt; team&lt;/span&gt;nya menjadi juara setelah bertahun-tahun selalu kalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hanya berusaha mengatakan bahwa bila Anda saat ini kebetulan menjadi seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;golden boy&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;golden girl&lt;/span&gt;, fokus saja dengan memberikan kontribusi yang terbaik. Cuekin aja perkataaan/sikap orang yang kurang menyenangkan… Bila Anda sedang kesal karena Anda seakan-akan menjadi manusia nomor dua setelah si manusia emas, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;stay cool&lt;/span&gt; dan tetap bekerja sebaik-baiknya. Beri kesempatan si manusia emas itu untuk membuktikan dirinya… Dan bila saat ini Anda sedang berjuang untuk menjadi manusia emas, tenang aja bung! Segala sesuatu ada porsinya. Mungkin itu bukan porsi Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: rombengus 190807&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-8570175777529622626?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/8570175777529622626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/8570175777529622626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/08/golden-boy-golden-girl.html' title='The golden boy, the golden girl'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-5158971964782011620</id><published>2007-08-13T07:41:00.000+07:00</published><updated>2007-08-13T07:44:46.763+07:00</updated><title type='text'>People change, but when?</title><content type='html'>Seorang perempuan begitu mencinta kekasihnya. Cintanya begitu tulus, hingga rela berkorban demi sang kekasih… Apa pun permintaan si kekasih dipenuhi perempuan itu. Terkadang cinta memang dapat membutakan logika…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kekasih sebenarnya juga mencintai perempuan itu, tetapi perilaku yang ditunjukkan seringkali kurang menunjukkan cintanya. Si kekasih masih kerap berperilaku bagaikan anak muda berusia 25 tahun yang gemar berpetualang, gemar dugem, gemar nongkrong hingga larut malam. Berselingkuh? Kemungkinan ia melakukannya cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun perilaku si kekasih demikian, perempuan itu tetap tenang dan tetap mencintainya. Perempuan itu berpendapat bahwa setiap orang dapat berubah. Setiap orang akan berubah. Dan perempuan itu yakin kekasihnya pasti akan berubah setelah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, atas nama cinta, sepasang kekasih itu menikah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata si mantan kekasih tidak berubah setelah menikah. Dua bulan berlalu, ia masih tetap sama. Satu tahun berlalu, ia tak kunjung berubah. Tiga tahun berlalu, tak ada beda dengan sebelum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si perempuan mulai gelisah, karena ia begitu ingin pasangannya berubah menjadi pasangan yang dewasa dan bijaksana. Lalu si perempuan berpikir bahwa mempunyai anak akan mengubah perilaku pasangannya. Dan perempuan itu kemudian memutuskan untuk hamil dan melahirkan seorang anak bagi mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah si bayi lahir, pasangannya masih sama seperti dulu. Setelah si bayi berusia enam bulan, pasangannya tetap tak berubah. Satu setengah tahun usia si bayi, pasangannya tetap sama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si perempuan itu kemudian menyerah. Ia menyerah berharap pasangannya dapat berubah menjadi dewasa dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘people change’&lt;/span&gt; memang benar, setiap orang memang berubah. Tetapi istilah itu kiranya perlu diikuti dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘when?’&lt;/span&gt; Karena ternyata perubahan seseorang memakan proses. Dan proses itu kadang cepat dan kadang perlu waktu yang lama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah perempuan di atas menggambarkan bahwa pasangannya termasuk orang yang perlu waktu lama untuk berubah menjadi dewasa. Ada pula yang mendefinisikan keadaan ini sebagai, “Tunggu kejeduk dulu baru sadar dan berubah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang perlu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;moment&lt;/span&gt; tertentu untuk dapat menyadarkannya dan kemudian berubah. Seringkali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;moment&lt;/span&gt; tersebut bersifat ekstrim, walau ada juga yang langsung sadar dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;moment&lt;/span&gt; sederhana.  Dari kisah di atas, bisa saja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;moment&lt;/span&gt; tersebut berupa kejadian si perempuan menceraikan pasangannya, anak mereka yang tiba-tiba sakit parah, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja orang tersebut memerlukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;moment&lt;/span&gt; tertentu untuk berubah, bisa disimpulkan bahwa when di sini sifatnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;unpredictable&lt;/span&gt;. Karena kedatangan dan bentuknya tidak dapat diprediksi sejak awal. Dan menantikan moment tersebut terjadi bisa membuat kita letih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;people change&lt;/span&gt; ini kita analisa lebih jauh. Sebenarnya ada 2 hal yang dapat membuat seseorang berubah, yaitu: ‘&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sadar dan mau berubah&lt;/span&gt;.’ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Moment&lt;/span&gt; yang dibahas diatas merupakan hal yang dapat menyadarkan orang tersebut. Ada orang yang cepat sadar dan ada orang yang perlu waktu untuk sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Open feedback&lt;/span&gt; yang bersifat tulus yang diutarakan dengan cara yang tepat dapat membantu membuat seseorang sadar. Untuk itu, tak ada salahnya bagi kita untuk memberi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;feedback&lt;/span&gt; kepada sesama dengan tujuan dan cara yang positif. Karena bisa saja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;feedback&lt;/span&gt; dari kita tersebut merupakan&lt;span style="font-style:italic;"&gt; moment&lt;/span&gt; yang selama ini ditunggu-tunggu untuk merubah orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sadar akan kekurangannya, orang tersebut juga perlu suatu komitmen dari dalam dirinya untuk mau berubah. Tak sedikit orang yang setelah sadar akan kekurangannya, tetapi tetap tidak mau berubah. Ini bisa dikarenakan ia telah terlalu nyaman dengan keadaannya dan enggan untuk keluar dari zona kenyamanan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kisah perempuan tadi, bagaimana bila kita berada di posisinya? Bisa dikatakan bahwa berharap pasangan berubah setelah menikah atau setelah punya anak merupakan suatu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gambling&lt;/span&gt;. Harapan terkadang mengandung resiko. Dan pengambilan keputusan yang mengandung resiko tersebut dapat dilihat sebagai suatu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gambling&lt;/span&gt;. Bila kita siap dengan resiko-resiko yang mungkin datang (seperti pasangan yang tak kunjung berubah), kita dapat mengambil keputusan yang sama dengan perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya kembali pada diri kita masing-masing, apakah kita berani mengambil resiko yang buruk yang terjadi sembari menunggu seseorang berubah? Atau kita lebih baik berputar haluan karena ketidakpastian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: rombengus 110807&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-5158971964782011620?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/5158971964782011620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/5158971964782011620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/08/people-change-but-when.html' title='People change, but when?'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-4486556338936357479</id><published>2007-08-10T09:19:00.001+07:00</published><updated>2007-08-10T09:40:15.251+07:00</updated><title type='text'>Becoming a better person day by day</title><content type='html'>Seorang direktur bagian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;human capital&lt;/span&gt; segera menerima seorang anak muda untuk bekerja di perusahaannya karena tujuan bekerja anak muda tersebut yang dianggapnya luar biasa untuk anak seusianya. Anak muda tersebut berkata, “Gaji bukan segalanya. Saya mau bekerja di perusahaan ini karena dapat belajar banyak dan dapat bertemu dengan banyak orang hebat…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dianalisa lebih dalam, tujuan atau prinsip atau misi atau apapun namanya dari anak muda tersebut bukanlah hal yang spesial. Hampir setiap orang memilikinya. Dan banyak orang memiliki tujuan hidup/bekerja yang terdengar indah, elegan, hebat, dahsyat…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombengus sendiri di suatu forum pernah ditanya tujuan hidupnya, dan dengan lantang berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Well, I try to live in a simple way, I try to become a better person day by day…”&lt;/span&gt;  Tujuan hidup Rombengus ini membuat orang-orang yang hadir di forum termehe-mehe… Suatu tujuan hidup yang tidak lazim dikala orang-orang lain di forum yang sama ada yang berprinsip maha indah seperti “saya ingin mengubah Indonesia menjadi lebih baik,” atau “saya akan menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the greatest person&lt;/span&gt; layaknya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the Great Alexander&lt;/span&gt;.” Dan ada pula yang berusaha berprinsip tidak naif “Saya sih ingin muda kaya raya, tua masuk surga…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang terpenting bukanlah satu kalimat tujuan hidup/bekerja yang indah yang diutarakan dengan tekad menggebu-gebu, melainkan apakah prinsip itu dapat kita pegang teguh dan jalani dengan benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak muda yang diceritakan di awal mungkin sekarang dapat berkata tidak butuh uang karena ia masih di-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;supply&lt;/span&gt; orang tuanya. Tetapi saat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;supply &lt;/span&gt;dihentikan, apakah ia masih dapat berkata bahwa uang tidak penting? Tujuan bekerja yang awalnya semata untuk belajar pun dapat berubah saat ia diberi target yang tinggi dan kesulitan dalam mencapainya. Ia dapat mundur teratur dan malah bisa menjadikan prinsip itu sebagai alasan untuk mengelak dari target yang tidak kesampaian,“Gue kan mau belajar di sini, bukan mau mati-matian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;achieve&lt;/span&gt; target.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombengus sendiri masih kesulitan dalam mencapai tujuan hidupnya. Kadang kebiasaan-kebiasaan lama kembali terulang … Misalnya kebiasaan menjahili rekan sekantor di jam-jam ngantuk sekitar pukul 3 siang. Di jam tersebut Rombengus hanya memiliki 2 pilihan, yaitu tidur atau menjahili orang. Karena tidak mungkin tidur saat bekerja, maka Shanty –rekan sekantor yang paling asik untuk dijahilin- menjadi mangsa. Walaupun sudah ditegur oleh the matching lady Shirley, Rombengus hanya bisa bertahan diam beberapa minggu, dan kemudian kembali menjahilin Shanty…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya adalah, kita tau hal-hal baik, kita dapat mengucapkan hal-hal baik tersebut dengan sangat lancar, tapi apakah kita mau dan mampu mengeksekusinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: rombengus 0908007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-4486556338936357479?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/4486556338936357479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/4486556338936357479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/08/becoming-better-person-day-by-day.html' title='Becoming a better person day by day'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-1777479348768017193</id><published>2007-08-06T17:14:00.000+07:00</published><updated>2007-08-06T17:31:45.863+07:00</updated><title type='text'>Tuhan membuat semuanya indah pada waktunya..</title><content type='html'>Terkadang kita tidak mengerti,&lt;br /&gt;mengapa segala sesuatu berjalan serba salah.&lt;br /&gt;Dalam hati, kita mulai bertanya,&lt;br /&gt;apakah benar Tuhan mendengarkan doa?&lt;br /&gt;Kekuatiran dan ketakutan mulai menghantui kehidupan kita.&lt;br /&gt;Kita bingung dan putus asa.&lt;br /&gt;Tidakkah Tuhan tahu apa yang sedang terjadi dalam hidup kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari aku masuk ke tempat kudus Allah untuk merenung...&lt;br /&gt;Kusadari bahwa segala sesuatu yang terjadi itu sebenarnya adalah untuk kebaikanku sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bodoh dan dungunya aku di pemandangan-Mu, ya Allah.&lt;br /&gt;Walaupun demikian Engkau tetap mengasihi aku.&lt;br /&gt;Engkau memegang tangan kananku, dan Engkau mempunyai rencana yang indah bagiku.&lt;br /&gt;Sepanjang hidupku Engkau akan terus membimbing aku dengan nasihat firman-Mu.&lt;br /&gt;Engkau memberi semuanya indah pada waktunya, ya Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- a bookmark from Shanty&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-1777479348768017193?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1777479348768017193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/1777479348768017193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/08/tuhan-membuat-semuanya-indah-pada.html' title='Tuhan membuat semuanya indah pada waktunya..'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-2661888488505718965</id><published>2007-07-16T15:29:00.001+07:00</published><updated>2007-07-16T15:33:00.046+07:00</updated><title type='text'>The pleasure of uncertainty</title><content type='html'>Semua orang pasti akan setuju bila dikatakan ‘tidak ada hal yang pasti di dunia’. Banyak hal yang membuktikan pernyataan ini. Misalnya orang yang dipuja-puja di suatu komunitas karena kepintarannya, tiba-tiba malah mempermalukan dirinya sendiri; cinta yang dulu dilepas tau-tau kembali tanpa kedua belah pihak pernah meminta; sahabat terdekat yang selama ini menjadi tempat berbagi kisah tiba-tiba menjadi musuh yang menusuk dari belakang. Dan berbagai kisah kehidupan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menyangkut hubungan dengan manusia memang sulit ditebak, tidak ada yang pasti. Orang kerap mengaitkan ini dengan uniknya setiap individu, termasuk benak pikiran mereka masing-masing. Tidak ada yang bisa menebak pikiran manusia. Tidak ada yang dapat memprediksi perilaku mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi panjang dengan seorang sahabat yang selama bertahun-tahun bergelut di bidang manusia (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;human capital&lt;/span&gt;). Dari diskusi tersebut sempat tersirat ide untuk membuat sebuah alat ukur ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tool&lt;/span&gt;’ psikometri yang bisa memprediksi perilaku seseorang dalam waktu 6 bulan mendatang, atau bahkan 2 tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tool&lt;/span&gt; psikologi berbasis cenayang&lt;/span&gt;’ ini bila berhasil dibuat akan sangat berguna bagi banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perusahaan, setelah melakukan tes dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tool&lt;/span&gt; tersebut, akan ketahuan apakah orang tsb akan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;stay&lt;/span&gt; di perusahaan tsb dalam waktu 2 tahun mendatang. Apakah kinerjanya akan baik. Apakah dalam waktu ke depan ia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri dan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi para individu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tool&lt;/span&gt; ini sangat membantu saat mencari pasangan. Dengan tool ini bisa diprediksi apakah si dia akan setia dalam waktu 6 bulan mendatang, atau mungkin si dia akan selingkuh dan menyakiti diri kita? Bila hasil tes ada kecenderungan ke arah sana, kita dapat menghentikan hubungan sejak dini, sebelum dia menyakiti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi semalam suntuk membahas tool tersebut memang mengasyikkan walau akhirnya kami menyadari bahwa kami berada di jalur ‘tidak normal’ dari segi manusia dewasa dan kami  pun segera kembali ke ‘jalan yang benar’... Dan diskusi itu pun menyadari kami bahwa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kemampuan manusia untuk mengerti sangatlah terbatas&lt;/span&gt;. Banyak hal yang tidak dapat dan tidak perlu kita mengerti sepenuhnya. Karena kita memang tidak diizinkan untuk mengerti dan mengetahuinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun kemudian menerima keterbatasan itu dan menerima kenyataan bahwa ada banyak hal-hal yang tidak bisa dipastikan oleh pikiran manusia. Dan saat merenung lebih jauh, kami memasuki fase dimana kami sadar bahwa hal yang tidak pasti itu bukanlah suatu beban ataupun hambatan, tetapi malah dapat mengasyikkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang tidak pasti itu dapat membuat kejutan tersendiri bagi kita. Contohnya perilaku orang-orang tertentu yang tiba-tiba aneh, kejadian-kejadian yang tak terduga, prediksi-prediksi yang salah, impian-impian yang tak menjadi kenyataan, masa lalu yang tiba-tiba menjadi masa depan, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang tidak dapat dipastikan itu membuat adrenalin kita meningkat saat cemas, curiga, berharap, ragu-ragu, bernafsu, dlsb. Hal yang tidak pasti itu membuat tersalurkannya seluruh emosi yang diberikan Tuhan seperti: sedih, gembira, marah, deg-degan, kecewa, dll. Hal yang tidak pasti itu juga membuat perilaku manusia bertambah, yaitu melakukan gosip. Bergosip akan hal-hal yang belum/tidak pasti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Accepting something uncontrolable sometimes difficult, but we can try to enjoy it. Having pleasure of uncertainty&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: rombengus 090707&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-2661888488505718965?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/2661888488505718965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/2661888488505718965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/07/pleasure-of-uncertainty.html' title='The pleasure of uncertainty'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-5358577078093707627</id><published>2007-07-16T15:02:00.000+07:00</published><updated>2007-07-16T15:23:13.415+07:00</updated><title type='text'>Antara bisa dan tidak bisa? Beti lagi !</title><content type='html'>Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘alah bisa karena biasa’. Alah di sini bukanlah Tuhan, tetapi merupakan ungkapan bahwa bila terus mencoba, terus berlatih dan berusaha, lama-kelamaan kita akan menjadi bisa.  Hingga kini pepatah tersebut masih dipakai. Tetapi kalau dipikir lebih dalam, seberapa jauh sih relevansinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang awalnya kita tidak bisa melakukannya, kemudian menjadi bisa. Misalnya saja sewaktu kecil kita belajar mengeja atau membunyikan huruf ‘r’. Awalnya –saat belajar- rasanya sulit sekali, tetapi kemudian kita menjadi bisa mengeja dan membunyikannya (kecuali bila ada yang cadel atau berbahasa cina yang tidak menuntut bunyi ‘r’). Contohnya lagi saat belajar membaca, belajar bahasa, naik sepeda, mengemudikan kendaraan sampai bercinta. Untuk yang terakhir ini, banyak teman yang mengatakan bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;skill&lt;/span&gt; tersebut tidak perlu berlatih tetapi kita akan bisa dengan sendirinya bila sudah waktunya. Pernyataan ini benar tidak yah? Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditelaah lebih lanjut, ternyata antara tidak bisa dan bisa hanya berbeda tipis. Bila dibuat skala dari 0 sampai 10 (0 dianggap tidak/belum bisa dan 10 adalah mahir), angka 5 adalah titik dimana status kita berubah dari tidak bisa menjadi bisa. Di sini tampak bahwa perbedaan perubahan status dari tidak bisa menjadi bisa sebenarnya tipis. Misalnya antara angka 4,9 (nyari bisa, tapi tetap dikatakan belum bisa) dengan angka 5 (bisa) yang berarti selisihnya 0,1. Lebih detil lagi, bila nyaris bisa dinyatakan sebagai angka 4,995 dan bisa adalah angka 5, maka selisihnya hanya 0,005. Sangat tipis bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun bedanya tipis, tetapi perbedaan status keadaannya sangat mendasar. Dari tidak bisa menjadi bisa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang filosofis, beda tipis ini tak lepas dari kuasa Tuhan. Dalam hal ini ada unsur ke’tak-berdaya’an manusia.  Kita mungkin berupaya mati-matian untuk menjadi bisa, tetapi hanya mentok di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;score&lt;/span&gt; 4,99. Dalam arti, bila Tuhan tidak mengizinkan kita untuk bisa, kita tak akan pernah menjadi bisa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, saya tak tahan untuk bekerja di luar ruang karena tidak tahan panas. Bila udara panas sedikit, kepala langsung sakit tak keruan. Ini saya anggap sebagai keterbatasan yang diberikan Tuhan. Mau usaha sampai bagaimana pun dan sampai kapan pun, saya takkan bisa bekerja di luar ruangan di siang hari bolong berpanas-panasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada hal lain dimana saya lebih cepat bisa dibanding teman-teman lain misalnya bermain piano. Anak-anak lain rata-rata perlu 3-4 kali pertemuan untuk bisa memainkan sebuah lagu, sementara saya hanya memerlukan 1 kali pertemuan. Dalam hal ini talenta ternyata berpengaruh besar dalam membuat kita menjadi lebih cepat bisa. Talenta mempercepat dan menguatkan pergeseran angka dari 0 menjadi 5, 6, 7, 8, 9, bahkan 10. Dan yang perlu diingat bahwa talenta juga berasal dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak sepenuhnya menyalahkan pepatah di atas. Tetapi sekedar mengingatkan bahwa dalam berusaha perlu selalu disertai doa. ORA ET LABORA. Berusaha dan berdoa. Karena dalam banyak hal, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;yang membuat kita menjadi bisa dan berhasil adalah Tuhan. Dan kita juga perlu mengevaluasi diri kita, menggali talenta dan keterbatasan yang kita miliki. Yang keduanya juga berasal dari Tuhan&lt;/span&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: rombengus 010707&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-5358577078093707627?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/5358577078093707627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/5358577078093707627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/07/antara-bisa-dan-tidak-bisa-beti-lagi.html' title='Antara bisa dan tidak bisa? Beti lagi !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-5596010637536423251</id><published>2007-05-14T07:51:00.000+07:00</published><updated>2007-05-14T09:02:14.030+07:00</updated><title type='text'>Personal Big Bang</title><content type='html'>Ini kisah Ruki, seorang karyawan yang bekerja di sebuah panti pijat di Desa Ujung Sekali. Ruki seorang pemijat baru di panti itu, sebelumnya ia bekerja di panti pijat di seberang pulau sana. Awalnya Ruki &lt;em&gt;excited&lt;/em&gt; di tempat barunya, tetapi kemudian ia kehilangan kenikmatan bekerja. Lalu menjadi stres…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panti pijat tersebut kerap mengalami perubahan. Mulai dari pergantian kepala panti pijat, struktur para pemijat, ruang kerja untuk memijat, metode pijat sampai minyak yang digunakan untuk memijat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruki pun terkena imbas perubahan tersebut. Ia yang tadinya bekerja khusus sebagai pemijat senior, kini dilibatkan dalam mengelola keuangan panti pijat. “Ini betul-betul di luar kontrak! Aku teken kontrak untuk jadi tukang pijat, bukan ngurusin duit! Aku ga ada pengalaman atau &lt;em&gt;skill&lt;/em&gt; di bidang gituan, masa sekarang disuruh ngurus duit???” geram Ruki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perubahan pekerjaan yang istilah kerennya &lt;em&gt;job description&lt;/em&gt;, Ruki pun mengalami banyak perubahan lainnya yang membuat &lt;em&gt;chemistry&lt;/em&gt;-nya makin tidak klop dengan panti pijat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila banyak orang meributkan berbagai konsep &lt;em&gt;change management&lt;/em&gt; dan bangga saat mengetahui konsep tersebut, Ruki langsung mengalami perubahan berkali-kali di panti pijat tersebut, dalam waktu yang relatif singkat pula. Ini mengakibatkan ia menjadi gelisah, jenuh dan keletihan yang luar biasa. Sampai-sampai ia mengalami stres, dan stres tersebut pernah membahayakan dirinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mengemudi, Ruki pernah ‘menyenggol’ seorang bapak di jalan. Padahal kejadiannya siang hari sekitar jam 2 (tidak ada alasan menyenggol karena tidak kelihatan), setelah makan siang (tidak ada alasan tidak fokus karena kelaparan), dan di mobil ia ditemani seorang teman (tidak ada alasan mengantuk karena mengemudi sendirian). Kendaraan yang dikemudikan Ruki juga dalam keadaan fit dan bergerak lambat, hanya sekitar 20 km/jam. Dan sesungguhnya saat kejadian itu berlangsung, posisi kaki kanan Ruki sudah di rem. Tetapi, herannya, otak Ruki tak mampu menggerakan kakinya untuk mendorong pedal rem. Temannya juga sudah teriak mengingatkan, tetapi tetap saja otak Ruki rasanya &lt;em&gt;blank&lt;/em&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak yang disenggol tersebut marah luar biasa, walaupun ia tidak terjatuh, tidak lecet sedikitpun, tetapi ia terus memukuli mobil Ruki sekuat tenaga. Ruki tidak merasa takut ataupun marah saat mobilnya dipukuli, sebaliknya teman seperjalannya malah menjadi panik. Sementara Ruki tetap dengan diam dan dengan otaknya yang masih &lt;em&gt;blank&lt;/em&gt; melanjutkan mengemudi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruki menderita stres berat… Dan Ruki pun memutuskan untuk konseling dengan seorang psikolog temannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog membenarkan ketegangan yang diderita Ruki. Hasil diagnosa menunjukkan bahwa Ruki berusaha fokus ke banyak hal yang membuatnya malah menjadi tidak fokus sama sekali. Untuk itu Ruki dianjurkan untuk tidak memikirkan banyak hal, dan berusaha menikmati hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Make life a bit lighter&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan input dari psikolog tersebut, Ruki memutuskan untuk mencoba menerima perubahan-perubahan yang ada. Langkah awal yang dilakukannya adalah &lt;em&gt;‘&lt;strong&gt;mengubah paradigma’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;-nya sendiri yang awalnya tak bisa menerima perubahan menjadi bahwa ia dapat mengerjakan pekerjaan barunya. Walaupun buta akan bidang keuangan, &lt;em&gt;toch&lt;/em&gt; ia dapat mempelajarinya. Ia pun bisa bekerja sama dengan kepala panti pijatnya yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah berikutnya, Ruki melakukan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘personal big bang’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, yaitu menciptakan suatu &lt;em&gt;moment&lt;/em&gt; yang menghentak yang memaksa Ruki keluar dari &lt;em&gt;comfort zone&lt;/em&gt;-nya. Ruki yang dulunya terpaku pada pekerjaan memijat, sekarang keluar dari zona itu dan memasukan dirinya zona baru yaitu bidang keuangan. Ruki yang telah nyaman dengan kepala panti pijat yang lama, kini berusaha keluar dari zona tersebut dan berupaya menyukai kepala panti pijat yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Personal big bang&lt;/em&gt; ini dilakukan Ruki dengan sengaja. Sengaja di keesokan harinya ia melakukan hal-hal yang tidak biasa ia lakukan sebelumnya. Misalnya sengaja datang sangat terlambat, memakai kostum yang aneh, bersikap beda, dsb. Ini sebenarnya hanya  simbol saja yang menunjukkan bahwa ada hal-hal ‘di luar hal yang biasa’ yang sebenarnya menyenangkan juga… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hal-hal di luar &lt;em&gt;comfort zone &lt;/em&gt;bisa jadi menyenangkan juga…&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan personal big bang, Ruki memasuki tahapan yang ketiga yaitu &lt;strong&gt;‘merubah perilakunya’&lt;/strong&gt;. Ia mulai mempelajari bidang keuangan, mulai bercengkerama dengan pemimpin barunya, dan pelan-pelan mengurangi jamnya memijat pelanggan. Hingga kini Ruki masih berusaha di fase ketiga ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap ketiga ini sulit untuk dilakukan. Merubah kebiasaan merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan Apalagi orang-orang dari pihak eksternal cenderung ingin instan dan belum tentu memberi waktu yang cukup bagi Ruki untuk menunjukkan kinerjanya di bidang barunya. Tetapi Ruki tetap berusaha berubah tanpa perduli dengan pandangan sekitarnya. Well, at least Ruki berusaha menikmati hidupnya dan menjadi tidak stres…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-5596010637536423251?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/5596010637536423251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/5596010637536423251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/05/personal-big-bang.html' title='Personal Big Bang'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-154653323324921587</id><published>2007-05-01T11:12:00.000+07:00</published><updated>2007-05-01T16:00:25.961+07:00</updated><title type='text'>Komitmen tanpa otak !</title><content type='html'>Secara fisik Toyo adalah manusia normal, tetapi ada sedikit di unik di otaknya. Toyo memiliki dunianya sendiri. Ia asyik dengan dirinya sendiri. Dari segi kemampuan berpikir, ia selalu berpikiran ‘&lt;em&gt;out of the box&lt;/em&gt;.’ Ia luar biasa kreatif dan selalu hadir dengan ide-ide ajaib yang tidak dimiliki setiap orang. Selain kreatif dalam berpikir, Toyo juga sering mempraktekkan pikiran-pikirannya itu. Toyo sering melakukan eksperimen dalam kehidupannya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan warga ibukota lainnya, setiap harinya Toyo juga selalu dihadapkan dengan lalu-lintas Jakarta yang semrawut dan padat. Melihat keadaan ini, Toyo berpikir keras untuk dapat menaklukannya. Keinginan itu dijadikannya sebagai visi pribadinya untuk periode tiga bulan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai visi tersebut, Toyo sadar bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kesemrawutan dan kepadatan lalu-lintas Jakarta. Ia tidak berdaya saat turun hujan yang luar biasa lebat sampai-sampai pohon serta papan reklame di jalan-jalan utama ibukota pada rubuh, sehingga kemacetan terjadi dimana-mana. Saat kejadian tersebut terjadi, jalan Casablanca dari arah jalan Sudirman sampai Tebet ditempuh Toyo dalam waktu 2,5 jam padahal bila lancar tak sampai setengah jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyadari ketakberdayaannya atas hal-hal di luar kendalinya itu, Toyo mulai memusatkan diri dengan hal-hal yang bisa dipengaruhinya (&lt;em&gt;circle of influence&lt;/em&gt;). Dan Toyo pun memulai melakukan eksperimen atas dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai hal yang Toyo lakukan baik dalam perjalanan menuju kantor, maupun perjalanan pulang dari kantor. Misalnya di suatu pagi saat hendak berangkat ke kantor, ia komit pada dirinya sendiri untuk selalu senyum saat mengemudi. Ia melakukannya &lt;em&gt;door to door&lt;/em&gt;, mulai dari garasi rumah sampai ke garasi kantor. Untung saja perjalanan pagi itu singkat, sekitar 20 menit, sehingga Toyo dapat melakukannya dengan mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Toyo bereksperimen mendengarkan lagu ‘&lt;em&gt;ajeb-ajeb’ &lt;/em&gt;alias lagu bertempo cepat seperti tekno, dan lagu itu diputar sekeras-kerasnya. Ekseperimen ini membuat Toyo dapat tiba di kantor dengan sangat cepat, karena gaya mengemudinya yang potong sana potong sini, klakson sana klakson sini. Karena pengaruh musik, Toyo yang dikenal berkepribadian lembut menjadi sangar di jalan raya. Eksperimen tersebut membuktikan bahwa musik tekno dapat memacu adrenalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Toyo melakukan eksperimen yang bisa dibilang ‘tak biasa’ untuk orang umum. Ia komit pada dirinya sendiri untuk selalu berada di jalur kanan dan tidak boleh pindah jalur apa pun yang terjadi di jalan. Awalnya perjalanan berjalan mulus, tetapi tanpa dapat diduga muncul mobil box di jalur kanan dengan kecepatan kurang dari 40 km/jam. Semua mobil mengambil kiri untuk dapat memotong mobil box tersebut, dan Toyo pun ingin melakukannya. Tetapi ia teringat komitmennya untuk selalu di jalur kanan dan ia mencoba bertahan di jalur kanan… Seperti yang telah diduga, perjalanan Toyo menjadi sangat lambat… Ini sangat mengesalkan Toyo, tetapi ia ingat komitmennya. Setelah mobil box tersebut putar balik sebelum jalan Sudirman, baru kemudian Toyo dapat menginjak gas sekuat-kuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksperimen lain dilakukan Toyo saat pulang bersama rekan sekantornya, kebetulan saat itu Toyo komit untuk memasang &lt;em&gt;virtual auto pilot &lt;/em&gt; di mobilnya. Ia hanya bisa mengemudi dari kantor sampai rumah, tidak bisa berhenti diantara kedua titik tersebut. Komitmen ini tentunya membingungkan karena rekan Toyo ingin turun di pertengahan jalan. Saat temannya memohon, Toyo bersikeras pada komitmennnya. Untung saja temannya tersebut sedikit-banyak telah mengetahui tabiat ‘aneh’ Toyo sehingga ia dapat mengerti. Dan kemudian &lt;em&gt;toch&lt;/em&gt; akhirnya Toyo menghentikan komitmen &lt;em&gt;auto pilot&lt;/em&gt;nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksperimen-eksperimen lainnya tetap dilakukan Toyo, yang membuatnya menjadi asyik mengemudi dan tak mengeluh bila terjadi kemacetan karena ia memiliki fokusnya sendiri. Dan bagi teman-teman yang pernah ikut mobil Toyo dan disupirin Toyo, ada yang menganggap komitmennya tersebut sebagai hal yang lucu dan ‘gila’ tetapi ada pula yang mengelus dada. Seorang sahabatnya malah pernah berkata, “Ya Tuhan, berilah saya kesabaran…” saat menghadapi keanehan Toyo di jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, berita keanehan ‘Toyo dan komitmennya saat mengemudi’ ini tersebar luas di kantor. Ada yang menganggapnya sebagai guyonan dan berkomentar, “Dasar orang gila!” Ada yang menanggapi serius dengan menganalisa karakter Toyo bahwa Toyo sebenarnya adalah seorang yang sangat cerdas dan keanehannya adalah dampak dari kecerdasan tersebut.  Dan ada pula yang berkata bahwa Toyo harus segera menikah agar memiliki &lt;em&gt;anchor&lt;/em&gt; sehingga tidak aneh-aneh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun banyak komentar dari teman-temannya, Toyo mendapatkan pelajaran tersendiri dari eksperimen-eksperimennya. Toyo sebenarnya hanya berusaha untuk melakukan hal-hal yang dikatakan, tidak sekedar mengatakannya (tidak sekedar &lt;em&gt;omdo&lt;/em&gt;).  Tetapi ternyata setiap komitmen yang dibuat memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri.  Konsekuensinya ada yang positif, ada yang negatif. Ada yang berdampak pada diri sendiri, ada yang berdampak pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu Toyo sadar bahwa diperlukan kecermatan dan perhitungan yang matang dalam membuat suatu komitmen agar tidak terjadi ‘komitmen tanpa otak!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Toyo juga menyadari bahwa fleksibilitas sangat diperlukan dalam menjalankan suatu komitmen. Keadaan di luar sana terus bergejolak bahkan diri kita sendiri pun -disadari atau tidak- ikut berubah. Ini yang mendorong kita untuk tidak mempertahankan komitmen dengan kaku, kecuali untuk hal-hal yang menyangkut prinsip dan norma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya kita memang dituntut untuk lebih bijaksana lagi dalam membuat komitmen dan dalam melaksanakannya. Ini juga berlaku untuk Toyo, walaupun ia memiliki karakter yang aneh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 300407&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-154653323324921587?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/154653323324921587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/154653323324921587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/05/komitmen-tanpa-otak.html' title='Komitmen tanpa otak !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-4014708223935919509</id><published>2007-04-23T07:35:00.000+07:00</published><updated>2007-04-23T07:38:12.477+07:00</updated><title type='text'>Berjuang untuk pasrah</title><content type='html'>Kutatap wajahnya, kuperhatikan mimiknya dengan seksama, kuamati matanya. Ada kepedihan di sana, walau ia berusaha menutupinya. Ada nada kecewa, walau ia berusaha mengalihkannya. Tetapi wajah dan bahasa tubuhnya tak bisa menutupi itu. Aku sebenarnya merasakan hal yang sama, tetapi aku tahu saat itu ia membutuhkanku, jadi kuurungkan niat untuk mengeluarkan keluhan yang serupa. Lalu kuputuskan untuk mendengarkan keluhannya sembari makan es yang kami gemari bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otaknya yang cerdas membuat percakapan kami berlari dari satu hal ke hal lain dengan cepat. Aku mengejar pemikirannya sembari mencari makna yang bisa menguatkan dirinya. Untung saja posisiku saat itu bukan sebagai executive search yang sedang merekrut atau menyeleksi eksekutif, karena menginterview wanita seperti dirinya tidaklah mudah. Cepet banget! Hal ini serupa dengan gayanya bekerja yang quick n efficient.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memahami betul keluhannya, karena aku pun merasakan hal yang sama. Bisa dikatakan kami adalah korban dari ambisi orang-orang tertentu. Posisi kami yang tadinya sudah nyaman terpaksa berubah karena dikhawatirkan dapat menghambat tercapainya ambisi tersebut. Tetapi aku salut karena kami berdua tidak berupaya merebut posisi semula. Mungkin itu karena prinsip yang diajarkan pada kami sedari kecil ‘bila pipi kananmu ditampar, beri pipi kirimu’ dan setelah dewasa mendapat ajaran untuk ‘menjadi proaktif bukannya reaktif.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, aku sadar kami sebenarnya belum sepenuhnya pasrah dengan perubahan posisi tersebut, dan kami cenderung menjadi stres... walaupun kadar stres di sini tidak dalam arti berat. Bila keadaan ini dikonsepkan, kami telah melewati masa protes dan masa penolakan. Fase itu kami lalui dalam bentuk implicit dengan mencari ‘jalan lain’ yang menyenangkan hati, dengan menyibukkan diri dengan hal-hal di luar permasalahan tersebut. Misalnya dengan asyik dengan keluarga, sibuk dengan pelayanan ibadah, jalan dengan teman, dsb. Kegiatan mencari jalan lain tersebut memang cenderung avoiding problem, yang jelas-jelas tidak menyelesaikan permasalahan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami sadar bahwa mencari jalan lain kurang tepat untuk terus dilakukan. Karena bila kami terlalu lama terbuai di sana, kami akan menikmati jalan lain tersebut dan itu dapat menimbulkan apati terhadap permasalahan awal. Bila kami terlalu asik lari dengan kegiatan-kegiatan tersebut, pekerjaan di posisi baru dapat terbengkalai, atau tidak maksimal saat dikerjakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan kami mencoba memasuki fase pasrah... Pasrah disini bukan dalam arti negatif, tetapi suatu keadaan dimana kita bisa menerima perubahan tersebut secara positif. &lt;br /&gt;Kami mulai berpikir bahwa hal-hal yang terjadi tersebut berada di luar kendali kami. Meskipun hal itu dapat dipengaruhi, tetapi pengaruhnya minim, dan kami pun berpikir, “Apa perlu dipengaruhi?” “Apa perlu diperjuangkan?” “Apakah posisi lah yang menjadi tujuan utama kami dalam berkarya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepasrahan itu sendiri merupakan suatu pilihan. Kami dapat membiarkan diri kami terlena berada di jalan lain, atau berusaha untuk pasrah. Meski telah memilih untuk pasrah, tidak mudah untuk melewati fase ini, karena pemikiran logika dapat membuat kami kembali protes dengan kejadian tersebut dan kembali membenarkan kami untuk menikmati jalan lain yang telah kami tempuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konsepnya, grafik produktivitas akan kembali naik dan tingkat stres akan menurun bila kami telah berhasil pasrah. Seiring dengan proses, pelan-pelan kami akan bisa mulai menikmati posisi baru, bekerja dengan produktif dan kemudian menjadi kreatif...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah memang, tetapi harus diperjuangkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 220407&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-4014708223935919509?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/4014708223935919509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/4014708223935919509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2007/04/berjuang-untuk-pasrah.html' title='Berjuang untuk pasrah'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111943263893450293</id><published>2005-06-22T16:26:00.000+07:00</published><updated>2005-06-22T16:30:38.940+07:00</updated><title type='text'>Ingin sesabar guru TK</title><content type='html'>Ingin sesabar guru TK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita perhatikan orang-orang di sekitar kita, ternyata ada banyak orang dewasa yang masih berperilaku seperti anak TK...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia TK, anak-anak belajar membaca dan menulis. Dalam proses ini mereka belajar mengenal kata dan makna dan penggunaannya. Karena masih belajar, kadang anak-anak TK menggunakan kata-kata yang kurang tepat sehingga terdengar kasar atau brutal atau sarkastik. Sementara itu, orang dewasa yang telah belajar bahasa Indonesia selama bertahun-tahun dan mempraktekkannya sehari-hari selama belasan/puluhan tahun, masih saja ada yang memilih penggunaan kata-kata yang kasar dan menyakitkan. Entah itu disengaja (karena marah) ataupun tak disengaja (karena terbiasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain belajar membaca dan menulis, anak-anak TK juga diajari mengasihi sesamanya. Dalam tahap belajar ini, wajar bila anak-anak TK masih suka membalas bila dipukul temannya, atau ngambek bila ditegur gurunya. Anehnya, tak sedikit orang dewasa yang masih suka balas dendam ke sesamanya –secara sadar atau tidak.  Orang dewasa yang tersinggung sedikit oleh ulah sesamanya, langsung berusaha untuk membalas perbuatan itu berpuluh-puluh kali lipat banyaknya. Dan rasa tersinggung itu dipendam selama berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun. Bukan hanya orang awam saja, tak sedikit orang yang merasa dirinya relijius/saleh dan terlibat dalam aneka kegiatan rohani/keagamaan, tetapi masih menyimpan dendam dan gemar membalas bila disakiti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaafkan memang merupakan hal tersulit yang harus dilakukan. Perlu jiwa dan hati yang besar untuk memaafkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada masanya dimana anak TK mengalami ‘puber’ balita dimana mereka ingin menunjukkan eksistensinya sebagai anak-anak. Gejalanya berupa cenderung menjadi egois, tak mau kalah, tak mau dibilangin/dinasehati, nakal, dsb. Ternyata orang dewasa yang meskipun menyandang kata ‘dewasa’ masih juga jago dalam hal ini. Orang dewasa sering emoh ditegur dan malah balik menggonggong, “Sape loe berani nasehatin gue?” Orang dewasa pun sigap bila diajak saing-saingan, apalagi yang menyangkut status diri, “Gue yang paling hebat! Karir gue hebat! Gaji gue hebat! Rumah, mobil, dan materi lainnya gue punya! Pasangan gue paling cakep! Bla bla bla…” Dan tak sedikit orang dewasa yang nakal…&lt;br /&gt;Anak-anak TK berusia sekitar 4-6 tahun. Di usia segini, wajar bila mereka belum bisa berbuat banyak dan tergantung dengan orang lain. Tapi tak hanya anak TK, banyak orang dewasa yang manja, belum mandiri dan mudah sekali mengajukan kalimat minta tolong. Mereka cepat dan mudah menyuruh, tapi lambat dan malas mengerjakannya sendiri.  Misalnya seorang pimpinan yang kerap menyuruh anak buahnya mengerjakan ini-itu tanpa perduli dengan kapasitas kerja si anak buah. Dan banyak pula lowongan kerja di media masa yang mencari karyawan yang mau bekerja keras (hard-worker). Syarat ini terdengar lucu, sebab, bukankah bekerja itu memang harus tekun dan gigih? Kalau mau bersantai-santai, nyuruh-nyuruh doang, ya jangan kerja! Tapi ternyata memang banyak karyawan yang ‘sekedar’ kerja dan manja… tak hanya perempuan, laki-laki juga banyak yang begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perilaku anak TK yang seperti digambarkan di atas, tak heran bila guru TK merupakan profesi yang membutuhkan tingkat kesabaran yang sangat tinggi. Itu karena guru TK sehari-harinya harus menghadapi anak-anak yang perilakunya beragam dan kadang kurang menyenangkan (namanya juga anak-anak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru TK itu sabar sekali dan tak cepat naik darah akibat perilaku murid-muridnya. Bahkan walaupun mendapatkan perilaku tak menyenangkan dari murid-muridnya, guru TK tetap mendidik dan membimbing anak didiknya dengan telaten. Dan bukan hanya itu, malah guru TK juga bersedia mengerjakan pekerjaan lainnya seperti mengganti baju anak muridnya yang basah dan kalau perlu nyebokin mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit sekali bagi kita untuk bisa sesabar guru TK. Dan bisa jadi guru TK bisa sesabar itu karena muridnya masih anak-anak sehingga patut dimaklumi, sementara tak mudah bagi kita untuk memaklumi orang dewasa yang masih berperilaku seperti anak-anak… Tapi melihat perilaku orang dewasa ini, mau tak mau kita harus melatih diri untuk bersabar. Dan kita juga harus bersabar secara aktif, tidak pasif. Maksudnya, sembari bersabar menghadapi karakter orang-orang di sekitar kita yang kurang menyenangkan, kita juga harus tetap aktif bekerja dan -bila memungkinkan- tak ada salahnya bagi kita untuk tetap mendukung, membimbing dan menasehati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Rombengus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111943263893450293?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111943263893450293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111943263893450293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/06/ingin-sesabar-guru-tk.html' title='Ingin sesabar guru TK'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111742620702708196</id><published>2005-05-30T11:05:00.000+07:00</published><updated>2005-05-30T11:10:07.036+07:00</updated><title type='text'>Terjerat dalam rantai kritik</title><content type='html'>Seorang pak Lurah di usia pertengahan 40 tahun mendadak menjadi genit dan gemar menggoda gadis-gadis belia. Peristiwa ini membuat si Benong ‘mengkritik’ kegenitan pak Lurah dalam karya karikaturnya dengan mengatakan bahwa pak Lurah tengah mengalami Sindrom-Mencolek-Pantat-Tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, karya karikatur Benong ini ‘dikritik’ oleh si Cenong. Sebuah kritik yang dikritik! Meskipun karya karikatur Benong itu disukai dan menjadi inspirasi bagi banyak orang termasuk bagi sesama tukang karikatur,  Cenong mengkritik karya tersebut karena dianggapnya tidak pas, tidak sesuai dengan standar (atau kehendak pribadi) Cenong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dahsyat lagi, Cenong juga mengkritik diri Benong. Benong dikritik sebagai Pecundang-Kurang-Kerjaan karena gemar membuat karya karikatur. Cukup ajaib memang fenomena ini, sebab Cenong belumlah mengenal Benong tetapi Cenong berani melemparkan kritik pedas terhadap diri dan eksistensi Benong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnnya Benong adalah seorang seniman seni rupa jebolan IKJ yang sudah punya jam terbang lumayan banyak di dunia seni Indonesia. Tapi Cenong sama sekali tak tahu fakta ini saat ia mengkritik Benong. Cenong sendiri adalah seorang manajer penjualan di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Sebagai orang penjualan (sales), angka penjualan lah yang selalu memberkas di benaknya. Cenong memandang sebelah mata pada seni. Meski buta seni, Cenong berani mengkritik Benong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata si Cenong yang gemar mengkritik juga tak lepas dari kritikan Denong, istrinya. Belakangan ini Denong sering dikritik istrinya karena kemampun Cenong di ranjang. “Kurang perkasa...,” ungkap Denong. Tetapi Denong lebih bijaksana dari Cenong karena Denong tak langsung mengkritik Cenong. Denong memberi kesempatan Cenong selama 2 minggu untuk berusaha memperbaiki ‘kinerja’nya. Setelah mengetahui bahwa tak ada usaha yang dilakukan Cenong, barulah Denong mengkritik kemampuan Cenong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denong sendiri juga sering mendapat kritik dari atasannya. Bla...bla...bla...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya kritik mengalir keluar-masuk setiap individu. Kita melemparkan kritik dan juga menerimanya. Jaringan kritik ini bila digambarkan alurnya akan sangat ribet, mungkin sketsanya akan mirip seperti jaringan para pemakai internet di dunia yang menyerupai jaring laba-laba raksasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta juga membuktikan bahwa tak ada seorangpun yang bisa lolos dari kritik. Betapa pun hebatnya gagasan kita, bakat kita, posisi kita, karya kita; kita tetap menjadi sasaran kritik! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya mengkritik adalah proses yang sangat manusiawi. Setiap orang ingin mengeluarkan pendapatnya dan ingin didengarkan. Kita juga suka mengomel bila ada sesuatu yang tidak beres atau tidak berkenan di hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada orang yang –secara sadar atau tidak- melakukan kritik secara dominan dalam hidupnya. Orang-orang dalam kategori ini kerjaannya mengkritik saja. Mereka dijuluki ‘si pengkritik’. Bila ada hal yang sedikit berbeda, si pengkritik akan langsung mengkritik secara instan. Para pengkritik pun sering melakukannya secara aktif dengan mencari-cari kesalahan/kekurangan suatu hal atau kesalahan orang lain (ini adalah sifat dasar pengkritik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pengkritik suka mengkritik? Dr. L. Parrott, seorang profesor psikolog dari Amerika, membeberkan alasannya:&lt;br /&gt;- Seringkali pengkritik yakin bahwa kritik mereka berguna. Dengan keyakinan ini, pengkritik melempar kritikan-kritikannya tanpa diminta.&lt;br /&gt;- Semata-mata didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan masalah. Dalam hal ini si pengkritik melihat suatu hal adalah salah dan memaparkan jalan keluarnya. Namun jalan keluar itu justru terdengar sebagai kritikan daripada bantuan.&lt;br /&gt;- Pengkritik merasa sudah menjadi tugas mereka untuk menemukan kesalahan. [Mungkin pengkritik seperti ini ingin menjadi pahlawan dengan mencari-cari kesalahan orang/karya orang lain? Atau memang hobi? Atau kurang kerjaan?]&lt;br /&gt;- Banyak orang dibentuk menjadi pengkritik sejak kecil. Hal ini terjadi bila orang tua sering mengomeli anaknya sejak kecil. Lalu anak tersebut berpikir bahwa mengomel adalah normal/wajar dan ikutan jadi si pengomel. Setelah beranjak dewasa, si anak tadi secara tak sadar menjadi si pengkritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lainnya, adapula kritik yang merupakan luapan emosi. Misalnya kisah si Benong dan Cenong tadi, bisa jadi masalah utama Cenong adalah hubungan dengan istrinya, bukan dengan Benong. Dan saat melihat karya karikatur Benong, Cenong membebaskan diri dari emosi-emosinya yang terpendam dengan satu ledakan dalam bentuk kritik atas karya Benong itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Parrott juga menyarankan agar kita memilah para pengkritik karena tidak semua pengkritik berniat negatif. Secara garis besar ada 2 tipe pengkritik yaitu: pengkritik picik yang mengkritik untuk memuaskan ‘ego’ diri mereka sendiri dan motivasinya ingin menjatuhkan orang lain. Dan pengkritik yang merasa sangat bertanggung jawab atas diri kita yang yakin kritiknya dapat memperbaiki diri dan kinerja kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari alasan-alasan tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa hal yang utama yang harus diperhatikan dari sebuah kritik adalah &lt;em&gt;‘motivasi’ &lt;/em&gt;daripada si pengkritik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kritik adalah bagian dari keseharian kita, setiap orang pasti tak suka dikritik. Umumnya kita akan marah, ingin protes dan membalas bila dikritik.  Malangnya lagi, kita tak bisa minta agar para pengkritik itu diam dan berhenti mengkritik. Sangat sulit untuk mengubah karakter seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menghadapi kritik:&lt;br /&gt;1. Bersikap tenang dan tidak membalas.  Adalah sangat disarankan untuk tidak menyerang balik dan tidak membalas dendam pada pengkritik. Kita perlu bersabar dan mencari tahu ‘motivasi’ daripada si pengkritik. Dan kita juga perlu memberi tahu motivasi kita pada si pengkritik secara terbuka agar tidak disalahartikan. &lt;br /&gt;2. Tempatkan masalah secara proporsional karena ada kritik-kritik yang tak perlu kita perdulikan dan ada yang perlu diperhatikan untuk masukan.&lt;br /&gt;3. Bila kita dituduh dengan tidak benar, kita berhak menyangkal tuduhan yang dilontarkan dengan jawaban-jawaban cerdas tanpa membela diri.&lt;br /&gt;4. Hindari situasi ‘menang-kalah’. Karena sebagai manusia, kita selalu ingin menang. Dan setiap orang ingin ‘menggebuk’ yang terakhir. Proses argumentasi dalam kritik pun demikian.&lt;br /&gt;5. Bila perlu, kita dapat membahasnya dengan teman dekat yang dipercaya. Karena berbagi beban dengan teman dapat meluruskan pikiran dan mengurangi beban diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Parrott menambahkan 2 hal penting lainnya untuk menghadapi kritik, yaitu: &lt;br /&gt;6. Kenali bagian sensitif dari diri kita. Misalnya si Cenong sensitif bila kemampuan seksualnya dibahas, Cenong perlu melindungi bagian itu; dan bila perlu Cenong bisa katakan ke pengkritik bahwa bagian itu terlarang untuk dikritik.&lt;br /&gt;7. Pahami perbedaan jenis kelamin. Secara umum wanita lebih cerewet daripada pria (meskipun tak sedikit wanita pendiam). Dan umumnya pria ingin berada dalam posisi lebih unggul (superior) daripada wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, hendaknya kritik tidak membuat kita putus asa, patah semangat atau berhenti berprestasi. Tetapi –idealnya- kita harus seperti ‘pegas’ yang semakin ditekan semakin tinggi lompatannya. Semakin banyak kita dihujani kritik pedas -yang kadang bahkan berupa caci maki atau sumpah serapah- prestasi kita harus semakin baik. Banyak kog orang-orang hebat yang dulu mengalami hal ini. Contohnya saja, dulu Renoir pernah disuruh berhenti melukis oleh orang-orang sekitarnya karena dianggap tidak berbakat, tetapi, lihatlah kini  betapa lukisannya sangat dihargai di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi para pengkritik, berhati-hatilah dalam mengkritik karena kritik yang kita buat seobyektif mungkin sifatnya selalu rentan. Karena  kita melihat suatu hal bukan sebagaimana hal itu adanya tetapi sebagaimana keadaan/kondisi diri kita. Seperti yang dikemukakan Stephen Covey, pimpinan Covey Leadership Center dan Institute for Principle-Centered Leadership, bahwa &lt;em&gt;“Kita melihat dunia bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya. Atau sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya.” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, mengkritik erat kaitannya dengan menghakimi. Dan agama manapun tidak memperbolehkan kita untuk menghakimi sesama&lt;em&gt;.“Ukuran yang kita pakai untuk mengukur orang lain, akan diukurkan pada diri kita sendiri...”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Rombengus, kritikus (?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Teori-teori disadur dari buku-buku karya Dr. L. Parrott, Dr . G. A. Getz, Stephen Covey dan opini pribadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111742620702708196?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111742620702708196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111742620702708196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/05/terjerat-dalam-rantai-kritik.html' title='Terjerat dalam rantai kritik'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111475896792317747</id><published>2005-04-29T14:13:00.000+07:00</published><updated>2005-04-29T14:16:07.926+07:00</updated><title type='text'>Yuk kita melancong!</title><content type='html'>Dalam bukunya yang berjudul Simplify your work life, Elaine St. James mengutip majalah Times yang mengatakan bahwa dengan mengambil cuti panjang, tingkat kematian berkurang sebesar 21%. Hal ini benar adanya, karena selain bekerja, kita pun perlu relaksasi. Kita bukanlah mesin yang terus-menerus bekerja. Mesin saja ada waktunya diberhentikan untuk perawatan, diberi oli, dsb. Lebih lagi, berlibur juga penting bagi para pasangan, karena banyak kasus dimana pasangan  berpisah/bercerai akibat keduanya terlalu sibuk dan tak ada waktu bersama. Nah, bila demikian halnya, gimana kalo pergi liburan bareng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elaine St. James juga mengungkapkan bahwa orang-orang Eropa mengambil cuti panjang mereka, sementara orang Amerika rata-rata tidak. Hal ini juga dapat dibenarkan karena orang-orang Eropa –terutama Eropa barat- mempunyai kebiasaan melancong sejak usia muda (biasanya sejak masa kuliah). Rasa ingin tahu mereka akan negeri-negeri seberang begitu besar. Tak heran orang Eropa berekspedisi kemana-mana, dan menemukan Amerika, Australia, Selandia Baru, Canada, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak muda Eropa biasanya membuat rencana perjalanan mereka dari jauh-jauh hari. Bisa 1-2 tahun sebelumnya (orang Eropa memang perencana tangguh). Misalnya saat ini mereka berencana untuk pergi ke Maroko pada libur musim panas tahun 2006 (sekitar bulan Juli-Agustus). Lalu mereka mencari informasi mengenai dana yang diperlukan. Dan bila telah mendapat prediksi, mereka pun mulai bekerja paruh waktu dari bulan September 2005 sampai Juni 2006. Ada yang bekerja di resto, perpustakaan, menjadi loper koran, tukang bersih-bersih (cleaning service), kasir supermarket, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi bisa berlibur, anak muda Eropa rela menahan diri untuk tidak meng-upgrade telepon seluler mereka. Perlu diketahui bahwa penjualan ponsel di Eropa tidak seheboh di Indonesia (pasar ponsel terbesar di dunia kan di Asia). Hal ini dikarenakan orang Eropa sangat berorientasi pada ‘fungsi’. Selama alat tersebut masih dapat dipakai, ya buat apa beli baru? Tak heran bila jaman gini masih banyak orang Eropa yang memakai ponsel Nokia model pisang, ponsel Motorola atau Ericsson yang gede, yang di Indonesia udah masuk museum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang perlu diketahui, anak-anak muda Eropa itu umumnya bepergian sebagai turis ransel (backpacker).  Turis ransel ini dinamakan demikian, karena mereka membawa ransel besar di punggung. Meski ransel ini menjadi ikon utama mereka, tapi inti ber-backpacker adalah berusaha mencari alternatif hemat dalam berlibur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun 80an lalu – kalau tak salah ingat tahunnya – masyarakat kita heboh membedakan antara turis ransel dan turis koper. Kita menganggap bahwa turis ransel yang menginap di Jalan Jaksa (Jakarta Pusat) itu miskin/kere, tak seperti turis koper yang menginap di hotel berbintang. Sebenarnya kita tak perlu beranggapan demikian terhadap para turis ransel ini, sebab, bila dilihat dari keanggotaaan asosiasi turis ransel dunia (ada asosiasinya lho!), anggota mereka adalah anak-anak muda. Dan bisa jadi saat muda (masih kuliah atau awal karir) mereka menjadi turis ransel, tapi kelak saat telah menjadi ‘orang’, mereka akan berlibur eksklusif bersama istri/suami dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada banyak penulis dan seniman-seniman yang ‘sengaja’ ber-backpacker-ria, karena lebih banyak yang bisa ‘didapat’. Dengan menjadi turis ransel, kita bisa ketemu dengan banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Misalnya gini, dengan menjadi turis ransel, kita menginap di hostel pemuda (youth hostel) dimana kita harus berbagi kamar dengan orang lain (tentu saja dibedakan kamar untuk perempuan dan untuk laki-laki). Dan kita bisa kenalan dengan teman-teman sekamar. Belum lagi saat sarapan bersama, kita juga bisa kenalan dengan yang lainnya, ngobrol-ngobrol, saling bertukar tips-tips liburan dan bukannya tak mungkin kita malah bisa bertemu sahabat atau bahkan jodoh! Kalau plesiran eksklusif, masa kita mau gedor kamar sebelah buat kenalan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sedihnya, turis ransel ini kurang nyaman dan kurang aman untuk melancong di Indonesia. Apalagi bila yang melancong adalah perempuan dan sendirian pula. Pasti deh digodain… Wong pake celana pendek aja udah diliatin orang-orang! Ironis memang, katanya kita adalah bangsa yang bermoral tinggi, ramah dan beragama, tapi kog perempuan melancong sendirian kurang aman yah? Di negara-negara Eropa timur yang ex-komunis saja jauh lebih aman dan nyaman bagi perempuan untuk melancong sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, kita tetap bisa meniru si turis ransel ini. Tak berarti kita harus menggendong ransel, tapi kita bisa tiru cara mereka membuat rencana berlibur dan upaya mereka dalam mewujudkannya. Selain itu, cara-cara ‘hemat’ dalam berlibur juga bisa kita tiru. Tak usah ke luar negeri dulu deh, tapi kunjungilah propinsi-propinsi di Indonesia. Misalnya saat ke Bali, kita bisa menginap di kamar milik penduduk yang bisa disewa. Tarif menyewa kamar tsb selama sebulan, sama dengan menginap semalam di hotel bintang 4/5. Untuk transportasi, beruntunglah karena penerbangan hemat (low-cost flight) telah merambah ke Indonesia, yang bisa menekan biaya transportasi untuk berlibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran tambahan dari Rombengus, berlibur jangan hanya untuk rileks/refreshing saja, tetapi cobalah pelajari budaya setempat, buka wawasan dan perluas pergaulan. Kita bisa mendapat banyak manfaat dari berlibur lho…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagaimana bila kita mulai membuat rencana dan sisihkan dana untuk berlibur? Mungkin bisa dimulai dengan mengunjungi propinsi-propinsi tetangga dulu. Misalnya bila kita tinggal di Jakarta, kita bisa berlibur ke Banten atau Jawa Barat atau Lampung. Dekat, terjangkau, dan indah … &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlibur itu penting untuk kebutuhan jiwa lho…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turut menyukseskan pariwisata Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombengus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111475896792317747?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111475896792317747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111475896792317747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/04/yuk-kita-melancong.html' title='Yuk kita melancong!'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111424186511504839</id><published>2005-04-23T14:36:00.000+07:00</published><updated>2005-04-23T14:37:45.116+07:00</updated><title type='text'>Jatuh cinta sejuta rasanya</title><content type='html'>Sejak jaman dulu hingga kini ada banyak sekali karya-karya manusia yang mengangkat tema tentang cinta. Entah itu berupa lagu, film, pertunjukan teater, wayang, puisi, novel, lukisan, foto, patung, dan sebagainya. Kenyataannya, orang-orang tak pernah bosan membahas soal cinta. Cinta memang kagak ada matinya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk cinta yang paling sering diungkapkan adalah cinta antara sepasang manusia. Cinta kepada orang tua, saudara, atau teman, kurang terdengar gaungnya dibandingkan dengan cinta antara sepasang manusia. Hal ini sangatlah wajar mengingat betapa dahsyat perasaan yang melanda orang-orang yang sedang dilanda asmara. Sampai-sampai ada yang mengungkapkan rasa cinta itu dengan ‘jatuh cinta sejuta rasanya’. Sejuta disini tidak berarti angka satu juta yang dijitnya ada 7, tetapi merupakan ekspresi bahwa rasanya luar biasa, terlalu implicit untuk dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak lagi istilah yang mengekspresikan perasaan jatuh cinta, namun demikian, pernahkah anda berpikir mengapa disebut dengan ‘jatuh cinta’? Mengapa bukan ‘bangkit cinta’ atau ‘meledak cinta’ atau ‘sadar cinta’ atau istilah lainnya? Mengapa disebut dengan ‘jatuh cinta’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jatuh cinta mempunyai definisi yang serupa dengan jatuh hati, yang berarti menaruh cinta kepada sesuatu/seseorang Dan jatuh cinta dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa asing. Dalam bahasa Inggris, jatuh cinta disebut dengan ‘fall in love’ (to fall = jatuh, love = cinta atau kasih). Dan dalam bahasa Perancis – yang kerap disebut sebagai bahasa paling romantis di dunia  – dikenal dengan istilah ‘tomber amoreux’ (tomber = jatuh/ambruk, amour = cinta). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara logis, kata ‘jatuh’ dipilih untuk mewakili keadaan ketakberdayaan manusia yang sedang kasmaran… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak berdaya saat jatuh kepleset, buktinya kita tetep saja jatuh (kalo kita berdaya, kita pasti gak jadi jatuh). Demikian juga saat dilanda asmara, manusia sama sekali tak berdaya… Bahkan bila proses jatuh cinta itu tak terkendali, kita bisa jatuh dalam sekali… ambruk… terkapar… betul-betul tak berdaya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakberdayaan ini disebabkan karena sifat jatuh cinta yang serba tak terduga. Kita gak tau kapan kita akan jatuh cinta, kepada siapa kita akan jatuh cinta, berapa besar/dalam cinta kita ke orang itu dan bagaimana kualitas cinta yang dihasilkan saat proses jatuh cinta itu.  Contohnya, mungkin besok anda sedikit jatuh cinta dengan Rombengus, dan bulan depan anda jatuh cinta secara mendalam dengan si Bona (gajah kecil berwarna merah jambu?). Siapa yang tau??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara manusiawi kita memang ditakdirkan untuk tak berdaya dengan hal-hal yang tak terduga. Bukan hanya urusan cinta, perkara hari besok bakal gimana pun gak ada yang tau (kecuali paranormal yang bisa tau?). Bahkan orang jenius, presiden, tokoh politik, profesor bidang metafisika, ahli ekonomi sampai tukang sapu jalanan di ancol pun kagak ada yang bisa tau! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih repot lagi dengan urusan cinta, proses jatuhnya tak bisa dipaksakan.  Ada teman yang berusaha untuk jatuh cinta dengan Rong Rong (temennya Bona), tapi – biar diupayakan dengan segala macam cara - kalo cinta tak mau jatuh/menclok diantara mereka, ya gak bakal jadi. Dan tanpa cinta, hubungan selanjutnya akan berjalan dengan kurang nyaman. Ada sih yang nekat menjalin hubungan tanpa cinta, nekat menikah tanpa cinta; dan itu tak masalah bila keduanya siap dengan resiko yang bakal datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, jatuh cinta sebenarnya bisa jadi bukti bahwa kita sebagai manusia itu gak ada apa-apanya. Kita sebenarnya hanya manusia yang serba terbatas keberdayaannya. Meskipun kita punya segudang atribut (gelar, profesi, dsb) kita tetap aja manusia, yang tak berdaya terhadap jatuh cinta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam cinta!&lt;br /&gt;Rombengus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111424186511504839?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111424186511504839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111424186511504839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/04/jatuh-cinta-sejuta-rasanya.html' title='Jatuh cinta sejuta rasanya'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111366117508969290</id><published>2005-04-16T21:16:00.000+07:00</published><updated>2005-04-16T21:54:42.346+07:00</updated><title type='text'>Penolakan, bukan akhir dari segalanya…</title><content type='html'>Ini kisah si Tambo, seseorang yang dari kecil selalu dijauhi teman-temannya karena dianggap aneh. Kejadian penolakan ini terus berlangsung sejak SD, SMP hingga SMA. Tambo tak mempunyai teman… Untungnya keadaan ini berkurang saat kuliah dimana Tambo menemukan beberapa teman yang baik di bangku kuliah. Namun Tambo kembali mengalami penolakan yang sama di tahun pertamanya bekerja, tapi kini keadaan telah berubah, dia telah mempunyai banyak teman di kantornya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu Tambo sering bertanya, “Apa yang salah dengan saya? Kenapa mereka tak mau berteman dengan saya? Kenapa saya dibenci tanpa alasan?” Sebenarnya tak ada yang aneh dengan diri Tambo, dari segi fisik, perilaku maupun pikiran/mental. Tapi entah mengapa dulu tak ada yang bersedia untuk berteman dengannya. Untungnya, Tambo masih mendapat dukungan keluarga dan spiritualnya (iman agama) juga lumayan kuat, jadi dia bisa bertahan. Bila tidak, kemungkinan besar Tambo sudah stress berat, hancur lebur…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah orang yang ditolak dan memiliki aneka masalah dalam hidupnya - tapi tak memiliki dukungan keluarga dan spiritual - dapat disimak dari lagu Nobody’s home-nya Avril Lavigne yang tanggal 4 April lalu konser di Jakarta. [Konon lagu inilah yang menjadi tonggak kedewasaan Avril, meski usianya belum genap 20 tahun. Di negeri seberang sana penggemar Avril bukan hanya para ABG tapi juga golongan pekerja]. Di lagu ini Avril mengekspresikan seorang gadis yang menjadi depresi dan tak punya arah tujuan karena tertolak oleh lingkungannya, “She's lost inside, broken inside…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kisah Tambo, untung saja Tambo tak mengalami depresi seperti gadis yang diceritakan oleh Avril. Meski tak berteman, Tambo tetap dapat menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Meski tak berteman di kantor, Tambo tetap dapat bekerja maksimal. Meski tak berteman, Tambo terus berjuang dalam kesendiriannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, kehidupan Tambo sangat baik. Karirnya sebagai insinyur di sebuah perusahaan minyak terkemuka terus meningkat, dan kini dia punya teman-teman yang baik (termasuk diantaranya Rombengus. Ehem…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lain, kisah yang dialami Gromba. Beberapa tahun yang lalu Gromba ditolak untuk bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Saat itu, manajer proyek (MP) perusahaan tsb mencari seorang asisten untuk membantunya membuat sistem informasi untuk rantai distribusi/penyediaan barang (supply-chain). Namun MP tsb ‘kurang sreg’ dengan Gromba dan menolaknya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka, Gromba bukannya jadi hancur dan terpaku dalam duka, tapi dia malah ‘bangkit’ dan mendalami sistem informasi tsb. Kini, Gromba telah menjadi salah satu ahli di bidang itu, dia telah mendirikan perusahaan jasa konsultasi untuk bidang tsb dan juga telah mengembangkan teori-teori baru mengenai sistem informasi itu. Sementara si MP - yang dulu pernah menolaknya - kini tetap menjadi MP (tak jua berkembang?), dan MP tsb kini malah memakai teori-teori yang dibuat oleh Gromba, sang mantan calon asistennya dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah serupa memang sering terdengar. Dan dalam hal cinta juga tak kalah serunya. Misalnya kisah yang diungkapkan Avril dalam lagu Sk8ter boy [lagu ini difilmkan oleh Hollywood untuk pasar ABG]. Lagu ini berkisah tentang pemuda ABG yang jatuh cinta dengan gadis bergaya ‘priyayi’ dan gadis itu menolaknya. Setelah mereka dewasa, si pemuda berhasil menjadi penyanyi rock terkenal, sementara si priyayi menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak tanpa suami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus Tambo dan Gromba, penolakan adalah turning point bagi mereka untuk bangkit, berusaha mencari jalannya sendiri dan - beruntungnya - mereka berhasil. Kisah mereka menjadi bukti bahwa penolakan bukanlah akhir dari segalanya…  Memang diperlukan kekuatan untuk bangkit kembali; dan orang-orang yang ‘kuat’ ini bukannya hancur tapi malah mengambil hikmah dari setiap penolakan yang mereka alami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandangan yang berbeda, penolakan malah bisa jadi berkat!! Bila Tambo punya banyak teman semasa sekolah dulu, mungkin dia akan main melulu dan tak sesukses sekarang. Dan seandainya Gromba dulu diterima bekerja, bisa jadi dia masih jadi asisten MP, tak berkembang untuk menjadi ahli di bidangnya seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi yang melakukan penolakan, Rombengus gak habis pikir kenapa ada orang yang bisa membenci orang lain tanpa alasan [Apakah karena sirik? Sepengamatan Rombengus budaya sirik-menyiriki semakin dahsyat saja di Indonesia]. Kenapa sih harus membenci dan menjauhi orang yang tidak kita sukai? Perbedaan dan ketidakcocokkan kan tak berarti harus bermusuhan? Dan bila memang kita tak ingin dekat dengan seseorang, bukankah lebih baik bila dilakukan dengan cara yang halus tanpa perlu menyakiti perasaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk kasusnya Gromba dan kasus cinta ala sk8ter boy, bila memang harus menolak seseorang ya tolak saja, tapi tolong dilakukan dengan cara yang baik dan dengan alasan yang logis. Malu ah bila kita melulu menghebohkan budaya barat yang gono-gini, tapi kita sendiri yang katanya berbudaya timur yang ramah tapi gak bisa menerapkannya (sekedar romantisme budaya timur?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan alangkah bijaksananya bila kita tetap menjalin hubungan yang baik dengan orang yang kita tolak, karena kita gak tau apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bisa saja saat ini posisi kita superior (bisa nolak orang) tapi kelak malah kita yang butuh bantuan orang itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   All my life I dreamd in color&lt;br /&gt;   Every rainbow had a meaning, I discovered&lt;br /&gt;   Everyone said I would in lost&lt;br /&gt;   They all said that I was thing of the past&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   They try to bring me down, had to swallow my proud&lt;br /&gt;   Nobody knew what I knew, I would survive&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Don't let them get in your head, negative words they spread&lt;br /&gt;   The truth of it is, I still believe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   For every tear I cry&lt;br /&gt;   Every wish goes by&lt;br /&gt;   Every dream I kept inside&lt;br /&gt;   For every mile I walked&lt;br /&gt;   Every race I lost&lt;br /&gt;   Everyday that I ran out of time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Like every song I sung, Everyone I've known&lt;br /&gt;   Every night I spend alone&lt;br /&gt;   Like every horizon, I keep on trying&lt;br /&gt;   Like the sun I'll be risin’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   [Risin’ by Natalia - Belgian Idol]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai!&lt;br /&gt;Rombengus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Ditulis untuk teman saya CLW, “Hope that I can support you more…”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111366117508969290?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111366117508969290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111366117508969290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/04/penolakan-bukan-akhir-dari-segalanya.html' title='Penolakan, bukan akhir dari segalanya…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111329536227503828</id><published>2005-04-12T15:40:00.000+07:00</published><updated>2005-04-12T15:43:17.196+07:00</updated><title type='text'>Dikira jatuh cinta !</title><content type='html'>Jaman sekarang, orang mudah sekali membuat persepsi….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita membantu orang lain secara tulus atau saat kita mendekati seseorang dengan baik-baik untuk berteman dengannya, eh, kita malah dikira macam-macam… Kita dikira ada maunya [Nih orang mau apa dari gue? Mau duit? Bantuan atau fasilitas?], dan tak jarang, kita malah dikira jatuh cinta ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya kisah si Buncel dan si Bancol. Saat Buncel nolongin Bancol pindah rumah, dikira Buncel jatuh cinta dengan Bancol. Padahal kagak… Lalu Buncel kesal dan dia bilang terus terang ke Bancol bahwa dia gak jatuh cinta. Eh, Bancol malah nyebar gosip mengatakan bahwa Buncel menjadikannya sebagai ‘back-up’. Alamak !  “Buat back-up juga mendingan orang lain...” ujar Buncel geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuat Buncel kesal 2 kali. Pertama, ketulusannya membantu disalahartikan, disangka negatif oleh Bancol. Lalu Buncel digosipin pula… Karena kesal, akhirnya Buncel menjauhi Bancol…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, jelas Bancol kegeeran, dan kegeeran itu disebabkan oleh persepsi di benaknya sendiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sih orang begitu mudah dan cepat sekali membuat persepsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengamatan Rombengus, ada 2 faktor utama penyebabnya. Pertama, masyarakat kita semakin lama semakin individualistis. Hal ini membuat orang cenderung menjadi tertutup (introvert) dan penyendiri. Dan orang bertipe ini akan bingung bila tiba-tiba didekati atau dibantu orang lain. Bingung karena tak biasa mendapat perlakuan demikian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dengan adanya argumen bahwa dunia semakin edan dan semakin banyak orang abnormal, yang membuat orang menjadi overprotective terhadap dirinya sendiri. Bila ada orang yang tiba-tiba mendekat atau membantu, langsung dicurigai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dalam hidup sehari-hari ada proses ‘take and give’ dimana selain memberi (to give) kita juga perlu menerima (to take) dari orang lain. Orang lain juga perlu memberi ke sesama, dan bila belum apa-apa kita sudah curigaan dan berpikiran macam-macam, kita malah menghambat proses ‘take and give’ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sikap curigaan juga bisa menghambat kita untuk berteman dengan lebih banyak orang. Malah bisa jauh dari jodoh! Bisa jadi orang itu jodoh kita, tapi karena persepsi kita sendiri, malah gak jadi deket…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya - meskipun jaman makin edan - masih ada kog orang-orang baik yang berbudi pekerti luhur, beretika tinggi dan berjiwa malaikat (wow !).  Jadi, nyantai aja lagi… Kagak usah berpikiran macem-macem dulu, gak usah kege’eran ! Bila terbukti bahwa niatan orang yang deketin atau bantu kita itu gak bener, baru kita pasang kuda-kuda. Kagak perlu pasang ancang-ancang dari awal…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Rombengus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111329536227503828?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111329536227503828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111329536227503828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/04/dikira-jatuh-cinta.html' title='Dikira jatuh cinta !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111327085574562285</id><published>2005-04-12T08:52:00.000+07:00</published><updated>2005-04-12T08:54:15.750+07:00</updated><title type='text'>Budaya timur, budaya barat. Budaya?</title><content type='html'>Selama berada di tanah air, Rombengus sering menjumpai banyak anak muda memakai kaos rangkep. Kaos bagian dalam berlengan panjang dan kaos luarnya berlengan pendek. Busana seperti ini cukup aneh dipakai di negeri tropis yang panas seperti di Indonesia. Di negara 4 musim, biasanya kostum semacam ini dipakai saat musim gugur dan musim semi, dimana dinginnya nanggung. Pakai baju panas (sweater) kepanasan, pakai kaos 1 lapis kedinginan. Jadi kaosnya dirangkep aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dahsyat lagi, Rombengus pernah melihat seorang pembawa acara di sebuah TV swasta di Indonesia memakai jaket tebal berbulu. Perasaan di luar panas terik deh, kenapa dia pakai jaket tebal yah? Mungkin dalam studio sedang musim dingin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyatannya, kita seringkali mengadopsi hal-hal dari luar (barat) secara blak-blakan. Namun di sisi lain, ada budaya barat yang diantipatiin habis-habisan dan dianggap tabu. Dan semua itu kita lakukan tanpa terlebih dulu mencari tahu kisah di baliknya…  Padahal, banyak budaya barat yang berasal dari kebiasaan dan keadaan setempat. Berikut ini beberapa contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Alkohol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mengklaim bahwa alkohol adalah budaya barat yang bertentangan dengan budaya timur. Kenyataannya, orang Jepang juga minum sake yang ada kandungan alkoholnya. Dan di negara ‘semi bule’ seperti Turki juga punya kebiasaan minum alkohol dan menghisap pipa. Silahkan kunjungi kota-kota besar di Turki seperti Istanbul dan Ankara, di sana anda akan menyaksikan para eksekutif muda dengan busana kantor rapi nongkrong di warung kopi pada jam kantor sembari minum raki (minuman alkohol khas Turki), menghisap pipa dan main backgamon. Orang Turki memang terkenal malas (seperti orang Indonesia?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejarahnya, Eropa mengalami masa susah di abad pertengahan dulu. Kemudian mereka berusaha membuat diri mereka sedikit rileks dengan alkohol. Lalu muncullah industri anggur (wine) di Eropa bagian selatan (di Spanyol, Italia, Perancis bagian selatan dan Portugal) dan industri bir di Eropa bagian utara (anggur tidak tumbuh subur di utara Eropa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan dunia lain, masyarakat di wilayah Amerika Latin menggunakan tembakau dan kokain untuk rileks. Sementara di Indonesia tercinta, kita asik merokok kretek (rokok kretek kita kan gak bisa diekspor ke Eropa/AS karena kadar nikotinnya berlebihan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Samen leven/cohabitation/live together/hidup bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, masyarakat negara barat melakukan ini karena faktor pajak. Pajak penghasilan di negara maju itu amit-amit besarnya, rata-rata 40% (kalo ada temen/sodara yang bekerja di luar negeri dan bicara soal gaji, tanya gaji bersihnya). Bila menikah, penghasilan suami dan istri akan diakumulasikan sehingga jumlah pajak yang harus dibayar akan jauh meningkat.  Pajak kan ada range-nya, semakin besar jumlah gaji yang diterima berarti semakin besar pajak yang harus dibayarkan. Bila pemerintah di sana mengubah kebijaksanaannya, Rombengus yakin mereka gak keberatan untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lainnya, mereka masih menganggap pernikahan sebagai suatu yang sakral. Mereka lebih suka hidup bersama dulu baru menikah daripada kawin-cerai seperti ‘budaya’ Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Busana seksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal busana seksi, ini jelas berkaitan dengan cuaca. Rombengus bisa mengerti kenapa mereka suka pakai baju minim di musim panas. Bayangin aja deh, dari bulan November sampai Maret mereka kedinginan, suhunya bisa di bawah 0°C dan bersalju. Lalu, tau-tau di bulan Juni (hanya 3 bulan setelah kedinginan) cuaca berubah menjadi panas terik dengan suhu 30°C (tahun 2003 lalu pernah mencapai 40°C di Eropa bagian selatan). Yang ada mereka pada kepanasan dan otomatis memakai baju seminim mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sama sekali tak ada pikiran menggunakan busana minim supaya tambah seksi dan menggoda, tapi jelas karena kepanasan. Rombengus saja langsung mengganti celana pendek serta kaos oblong saat mendarat di Jakarta. Panas buanget!  Hal ini sama dengan anak Indonesia yang baru datang ke Canada di bulan Desember, pasti dia akan mengenakan baju setebal mungkin karena kedinginan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, perkara perempuan barat (bule) gemar berjemur dengan baju terbuka. Ehm, perempuan Indonesia kan ingin berkulit putih dan memakai aneka produk pemutih, perempuan bule ingin berkulit agak coklat (manusia memang gak ada puasnya!). Jadi mereka girang banget bila ada sinar matahari dan cepat-cepat berjemur. Dan karena mereka tidak suka ada garis BH di tubuhnya, dibukalah BHnya. Mereka gak berpikir untuk menggoda dengan melakukan ini, ”Gak kepikiran atuh…. wong mau coklatin badan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, busana menggoda juga melekat di budaya timur. Misalnya baju sari tradisional India. Tanpa kain sari yang sekedar digerai di bagian luar, dalamnya itu baju ketat nan seksi.  Lalu baju para penari Turki (tari perut) itu sangatlah seksi dan menggoda. Apalagi gadis Turki kan cakep-cakep dan pesolek pula. Betul-betul menggoda! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baju kebaya tradisional kita pun pada dasarnya seksi, ketat dan bahannya tembus-pandang terutama di bagian lengan, dada bagian atas, serta punggung bagian atas. Bila bagian-bagian itu dicopot atau dibuat lebih tembus pandang, apa bedanya kebaya dengan baju seksi yang dipakai Madonna? Malah kebaya lebih tidak manusiawi dengan stagen dan kembennya yang super ketat sehingga pemakainya sulit untuk bernafas dan sulit makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;###&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita mengadopsi atau mengantipatiin hal-hal dari luar, alangkah baiknya bila kita cari tau dulu latarbelakangnya.  Jangan asal klaim bahwa budaya barat itu tabu dan dikaitkan dengan agama pula, yang jelas-jelas gak ada hubungannya. Dan bila memungkinkan, daripada beli mobil lagi tahun ini, mendingan jalan-jalan ke luar negeri, mempelajari budaya luar secara langsung supaya pikiran kita terbuka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula daripada mentah-mentah mengantipati atau menerima hal-hal dari luar, lebih baik kita urusin dulu ‘budaya’ kita sendiri yang lagi babak belur. Indonesia kan hingga kini terkenal dengan ‘budaya kekerasan dan korupsi’-nya (Jadi ini toch budaya timur yang kita banggakan itu?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka!&lt;br /&gt;Rombengus&lt;br /&gt;http://rombengus.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Rombengus tidak pro ataupun kontra dengan budaya barat/timur. Sederhana aja, yang baik diterima dan yang buruk perlu diketahui tapi gak usah diadopsi…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111327085574562285?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111327085574562285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111327085574562285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/04/budaya-timur-budaya-barat-budaya_12.html' title='Budaya timur, budaya barat. Budaya?'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111320889677596270</id><published>2005-04-11T15:40:00.000+07:00</published><updated>2005-04-12T09:02:23.346+07:00</updated><title type='text'>Sonda yang ingin menjadi ahli kura-kura…</title><content type='html'>Sebut saja Sonda, anak Indonesia yang ingin sekali kuliah doktoral (S3) di bidang kedokteran hewan spesialisasi kura-kura di Eropa. Status Sonda yang independent alias tidak terikat dengan sebuah universitas (bukan seorang dosen), membuatnya harus berjuang seorang diri untuk mendapatkan kesempatan kuliah S3 di Eropa.  Konon bila anda seorang dosen, kesempatan untuk kuliah S3 sangat besar. Apalagi sekarang ini ada banyak sekali beasiswa ditawarkan untuk para dosen Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari S3 di Eropa berbeda dengan di Amerika Serikat (AS). Untuk ke AS, kita perlu prestasi akademis yang baik, mengikuti test TOEFL dan GRE/GMAT (tergantung bidang studi), lalu mendaftar ke universitas ybs.  Nanti pihak kampus yang akan mencocokkan kemampuan kita dengan proyek penelitian yang ada, mencarikan profesor calon promotor serta peluang mendapatkan beasiswa. Jadi setelah mendaftar kita tinggal menanti sambil berdoa saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ke Eropa, prosesnya lebih rumit. Sonda tak bisa langsung mendaftar tapi harus mencari promotornya sendiri. Sonda habiskan waktunya untuk browsing di internet mencari universitas yang ada fakultas kedokteran hewan, kemudian mencari profesor ahli kura-kura, mempelajari apakah profesor tsb punya minat penelitian (research interest) yang sejalan dengannya, punya proyek penelitian yang cocok dengannya; lalu menghubungi profesor tsb dan meminta kesediaan beliau untuk menjadi promotornya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Sonda telah mendapatkan promotor, dia akan berurusan dengan dana penelitian (jadi ada 2 hal utama yang harus Sonda cari yaitu promotor dan dana penelitian). Umumnya promotor akan membantu mahasiswa mendapatkan dana penelitian. Dan dana itu bisa berasal dari proyek penelitian si profesor ybs, dari pihak universitas, pemerintah lokal, Uni Eropa, dsb. Sekedar informasi, mahasiswa S3 di Eropa statusnya adalah karyawan universitas - bukan lagi mahasiswa - jadi mereka mendapat gaji bulanan, dan gaji itu adalah bagian dari dana penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonda telah menghubungi banyak sekali profesor yang ahli di bidang kura-kura. Dan sedihnya, meskipun para profesor tsb bersedia untuk menjadi promotor Sonda tetapi Sonda tak jua berhasil mendapatkan dana penelitian. Cukup tragis memang nasib Sonda ini. Sebab anak Indonesia lainnya umumnya kesulitan mendapatkan profesor/promotor (biasanya mereka bingung bagaimana harus mencarinya), sementara Sonda bisa mendapatkan promotor dengan cukup mudah, tapi tak jua mendapatkan dana penelitian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonda sudah capai mencari, menanti dan juga menangis. Rombengus pun mulai bingung bagaimana lagi harus membantunya. Namun, seperti ungkapan “orang yang mencari akan mendapatkan, orang yang meminta akan menerima” akhirnya Sonda mendapatkan dana penelitian dan memulai S3nya. Tak tanggung-tanggung, Sonda dapat kesempatan untuk menempuh S3 di universitas favorit dengan salah satu profesor pakar kura-kura di Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi hikmah dari kisah Sonda ini adalah: Saat Sonda mencari promotornya, dia berkenalan dan menjalin hubungan yang baik dengan para profesor pakar kura-kura di Eropa.  Dan selama kuliah, Sonda mendapat dukungan penuh, bukan hanya dari promotornya sendiri tapi juga dari para pakar tsb. Dengan kata lain, orang lain biasanya kuliah dulu baru mengenal orang-orang di bidangnya, sementara Sonda mengenal orang-orang ahli di bidangnya dulu baru mulai kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu mengira bahwa mencari dan menanti adalah proses buang waktu dan sia-sia belaka. Penantian yang panjang pun kerap membuahkan keputusasaan dan kehilangan motivasi. Mungkin ada yang capai berusaha bertahun-tahun dan tak jua mendapatkan yang diinginkan, seperti mendapatkan beasiswa, pekerjaan, pacar (pacar harus dicari?), dsb. Segala sesuatu ada waktunya… dan semoga kisah Sonda ini menguatkan kita semua untuk terus berusaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Rombengus &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Rombengus gak tau apakah memang ada spesialisasi kura-kura. Kura-kura dipilih sebagai obyek karena geraknya yang lambat, selambat waktu berlalu saat kita menantikan sesuatu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111320889677596270?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111320889677596270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111320889677596270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/04/sonda-yang-ingin-menjadi-ahli-kura.html' title='Sonda yang ingin menjadi ahli kura-kura…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111320875993324908</id><published>2005-04-11T15:38:00.000+07:00</published><updated>2005-04-12T08:49:08.973+07:00</updated><title type='text'>Gila, nih anak enjoy banget diplonco…</title><content type='html'>Waktu masuk SMA dulu, seperti anak-anak lainnya, saya juga diplonco. Dan suatu ketika kakak kelas yang memplonco nyeletuk tentang saya, “Gila, nih anak enjoy banget diplonco…” Teman-teman yang lain pada nangis saat dimarahin, tapi saya malah nahan senyum. Selesai diplonco, teman-teman pada bilang bahwa kakak yang itu galak dan marahnya sadis banget, tapi bagi saya kakak itu sama sekali tidak galak, “Hé? Galak? Galak apanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya gak berasa digalakin/dimarahin karena saya asyik mengkhayal…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saat kakak-kakak itu teriak-teriak di telinga saya, saya ngayalin hal-hal yang menyenangkan seperti makan makanan enak, jalan-jalan ke pulau Bora-bora, dsb. Kalo kakaknya gak juga berhenti marahnya, saya ngayalin hal yang lucu tentang dia seperti membayangkan dia kecebur di got dan dia jadi dekil dan bau banget (ngayal doang lho bukan nyumpahin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang kalo ada yang marah ke saya, saya berusaha hanya menangkap inti/point marahnya (hal kenapa dia marah, siapa tau itu memang salah saya). Dan saat emosinya mulai meledak – misalnya dia mulai mengeluarkan kata-kata kasar, bahkan menghujat dan mengutuk - saya cepat-cepat alihkan pikiran ke hal-hal yang menyenangkan, supaya luapan emosi dia gak sampai masuk ke benak saya dan saya gak ikutan meledak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan hal ini awalnya sulit, tapi lama-lama pasti bisa dan jadi kebiasaan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk ketegangan lainnya yang menggoyahkan emosi dalam kehidupan sehari-hari adalah interview. Baik interview untuk kerja maupun kuliah atau lainnya. Interview biasanya diwarnai rasa gugup dan takut. Ini sangat wajar. Namun ketegangan yang berlebihan kadang membuahkan jawaban yang salah, jawaban yang kedengaran arogan, atau mungkin kita malah kehilangan semua jawaban alias gak bisa jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan beberapa hari yang lalu saya melakukan interview di Jakarta, dan ternyata yang menginterview (interviewer) adalah kakak kelas sendiri dan anaknya asik pula. Pelan-pelan saya berusaha menempatkan diri sebagai teman, berusaha menghilangkan batas antara si penentu (interviewer) dan si pemohon (yang diinterview). Dan akhirnya sepanjang interview kita malah bercanda-canda. Sangat menyenangkan. [Apa kabar Vina?]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengalaman saya diinterview, yang paling sulit adalah saat diinterview oleh profesor. Diinterview oleh profesor tak lagi membahas soal kepintaran dan kemampuan/skill (kalo gak pinter dan kualifikasi akademis gak memungkinkan ya gak akan dipanggil interview), tapi mereka mencari orang yang tekun dan gigih untuk terus belajar dan punya karakter yang cocok untuk bekerja di laboratorium penelitiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak anak pintar tapi besar kepala (merasa udah yang paling pinter sedunia bahkan lebih pintar dari si profesor) dan gak diterima. Anak seperti ini biasanya sudah kebaca oleh si profesor dari tahap awal, saat surat-suratan (email-emailan) dengan si profesor. Namun tak sedikit pula anak pintar tanpa karakter bagus yang bisa diterima karena faktor kolusi. Sekadar bocoran, kolusi di lingkungan akademis itu keadaannya memprihatinkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diinterview oleh profesor, saya berusaha menempatkan diri sebagai anak. Anak yang mau mendengar nasehat ortu dan mau belajar. Biasanya para profesor – yang mayoritas telah berumur - senang diperlakukan sebagai ortu. Dan sejak interview hingga kini, profesor pembimbing saya yang seorang ibu asal Perancis menganggap saya sebagai anaknya sendiri. Beliau heboh banget saat ada peristiwa tsunami dan gempa bumi di Indonesia. Dan bila ada pertemuan dengan beliau, pasti saya dijemput di bandara/stasiun meskipun beliau super sibuk. Dan beliau juga tak segan menangis di telepon saat memberitahukan bahwa ibunya meninggal dunia. Jadi, suasana anak-ortu yang dibangun sejak interview tetap berlangsung sampai jauh setelah proses interview itu berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping ‘mengendalikan pikiran’ kita juga bisa ‘menciptakan suasana yang nyaman’ untuk mengendalikan emosi. Pada prinsipnya, emosi yang meluap-luap ada pencetusnya (bad mood juga merupakan salah satu pencetus) dan kita bisa mengusahakan agar ‘remote control bom pengendali emosi diri’ ada di tangan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita pernah bertemu orang yang sedang dalam masalah besar, tapi dia tampak tenang sampai-sampai kita gak tau bahwa dia dalam masalah. Orang yang gak punya apa-apa, tapi bisa tetap tersenyum lebar. Orang yang tertindas dan dijauhi masyarakat, tapi bisa tetap melangkah maju. Sebenarnya mereka bukannya gak sedih dengan keadaannya, mereka sedih kog… Dan mereka juga bukan pakar dalam menyembunyikan perasaan, tapi mereka bisa mengendalikan emosi mereka. Mereka tau kapan saatnya emosi itu harus dikeluarkan dan bagaimana cara mengeluarkan yang baik. Mungkin dikeluarkan dengan cara memainkan alat musik sekeraskerasnya, atau jalan kaki keliling Jakarta, atau gedor rumah Rombengus tengah malam untuk curhat, atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Rombengus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111320875993324908?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111320875993324908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111320875993324908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/04/gila-nih-anak-enjoy-banget-diplonco.html' title='Gila, nih anak enjoy banget diplonco…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111146422532711127</id><published>2005-03-22T11:00:00.000+07:00</published><updated>2005-03-22T11:03:45.330+07:00</updated><title type='text'>Ah, anak baru....</title><content type='html'>Suatu hari di sebuah kantor di pusat kota Jakarta, seorang office boy yang telah bekerja selama 20 tahun di perusahaan tsb merasa dirinya yang paling tau soal perusahaan dan ngeremehin seorang supervisor yang baru saja direkrut. Meski posisi (level) mereka jelas berbeda, tetapi si supervisor dianggapnya sebagai ‘anak baru’…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta lain, bila bertemu dengan sesama orang Indonesia di luar negeri (LN), pertanyaan yang kerap muncul adalah, “Sudah berapa lama tinggal di sini ?” (tinggal di LN maksudnya). Bila ditanya begini dan anda menjawab, “Baru 3 bulan...” maka si lawan bicara yang kebetulan telah tinggal lebih lama merasa unggul, “Saya sudah 10 tahun !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombengus suka heran kenapa orang gemar bersaing dan merasa bangga telah tinggal lama di LN. Toch dia masih orang Indonesia juga, rambutnya masih hitam (belon jadi pirang kecuali bila dicat), warna matanya masih gelap (gak jadi biru/ijo), dan kulitnya masih sawo matang/kuning langsat. Kebiasaannya pun masih tipikal orang Indonesia yang suka gosip, kumpul-kumpul, masak dan makan-makan. Dan banyak pula yang logat daerahnya masih kental sehingga mereka berbahasa Indolish (indonesian english), Javlish (javanese english). Tak sedikit pula berbahasa Javdutch (javanese dutch) dan Javfrench (javanese french), maklum logat Jawa kan susah banget dihilangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik awal, pada dasarnya ini adalah perihal senioritas - junioritas. Berdasarkan teorinya, konstrain utama yang membuat seseorang menjadi senior atau junior adalah waktu (time constraint). Konstrain waktu ini bisa berkaitan dengan usia (lebih tua = lebih senior) dan bisa pula berkaitan dengan hal lebih dulu melakukan (lebih dulu mulai bekerja = lebih senior; lebih dulu masuk ke sebuah sekolah = lebih senior).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senioritas adalah bagian dari budaya kita. Bukan cuma di Indonesia sih, konon budaya ini sangat kental di Jepang dan Korea. Bahkan di negara maju sekalipun budaya ini masih dapat ditemukan, tak terkecuali di lingkungan kampus/akademis yang katanya pusatnya ilmu dan orangnya pada pinter-pinter...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membahas soal senioritas ini, Rombengus teringat saat masih di SMA (SMU) dulu. Saat selesai diplonco, seorang senior mengakui: “Senior tidaklah lebih hebat daripada junior, senior hanya lebih dulu tau…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan tsb mungkin terdengar arogan, tetapi ada benarnya lho… Contohnya gini deh, misalnya dalam hal kreativitas membuat iklan, bisa jadi seorang anak SMP lebih kreatif dan punya ide-ide dahsyat ketimbang para kreatif desainer yang telah bekerja full-time selama 7 tahun. Hanya saja si anak SMP itu tak memiliki posisi dan fasilitas yang memadai untuk bikin iklan beneran. Dan bila si anak SMP itu menjalani pendidikan dan punya jam terbang yang sama dengan kreatif desainer yang katanya profesional itu tadi, bisa jadi si anak SMP – di usia yang sama dengan si kreatif desainer – kelak akan jauh lebih hebat daripada si kreatif desainer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang psikologis, merasa senior bukan hanya membuat gap antara diri kita dengan orang lain, tetapi juga dapat menghambat diri kita untuk belajar lebih dalam lagi. Misalnya kita merasa yang paling senior di departemen pemasaran (marketing). Karena merasa sudah berada di posisi puncak, kita pun enggan untuk belajar. Padahal ilmu dan praktek marketing terus berkembang, dan bisa jadi diam-diam para junior kita pada rajin mengasah diri mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa dirinya masih junior juga bisa menghambat kreatifitas. Para junior umumnya merasa diri dan lingkup hak/tanggung jawab-nya sangat terbatas, sehingga junior itu takut salah bertindak, gak pede, dsb. Padahal mungkin saja itu perasaannya sendiri, alias si senior gak memberi batasan-batasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, bagaimana bila kita menghormati semua orang baik yang lebih tua maupun yang lebih muda, junior dan senior? Dan bagaimana bila kita tak usah memposisikan diri kita sebagai senior ataupun junior? Posisi sebuah produk di pasar saja tidak akan stabil selamanya, pasti akan selalu ada produk baru hasil inovasi dan invesi (invention) yang berusaha menggoyang posisi produk tsb. Begitu pula manusia, gak selamanya kita jadi junior dan gak selamanya kita jadi senior…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombengus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111146422532711127?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111146422532711127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111146422532711127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/03/ah-anak-baru.html' title='Ah, anak baru....'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-111146396101818845</id><published>2005-03-22T10:49:00.000+07:00</published><updated>2005-04-12T08:47:19.226+07:00</updated><title type='text'>Dilindas truk beroda 18 !</title><content type='html'>Dilindas truk beroda 18 !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Rombengus diminta untuk menulis tentang kekerasan domestik dalam rumah tangga. Ehm, Rombengus kagak punya pengalaman pribadi soal rumah tangga apalagi kekerasan domestik, tapi Rombengus kan coba memberi tanggapan mengenai kasus satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombengus gak abis pikir kenapa sekelompok suami seringkali menyakiti istrinya dengan melakukan kekerasan fisik. Kenapa sih ada suami yang doyan mukulin istrinya? Sebenernya mereka cinta gak sih sama istrinya? Kalo cinta, kog tega menyakiti istrinya? Bukankah cinta kasih tak pernah berjalan paralel dengan tindak kekerasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah para suami itu gak bisa mengendalikan emosi (temperamental) dan gak bisa nahan tangannya untuk tidak melayang seenaknya? Bila ini alasannya, si suami wajib berkonsultasi ke psikolog. Konsultasi ke psikolog memang belum jadi hal ‘biasa’ di negeri kita, padahal ada banyak orang-orang bermasalah yang sangat perlu ke psikolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah suami gebukin istrinya untuk berolahraga? Alangkah jenakanya bila setelah menikah otot suami bertambah besar sementara si istri jadi babak belur. Haha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo mau olahraga atau bila memang punya kebiasaan main gebuk ala preman terminal, gimana kalo para suami itu beli kantung pasir aja? Jadi kalo lagi geram si suami bisa tinjuin tuh kantung pasir, bukan si istri. Mungkin Pemerintah bisa membagikan kantung pasir secara gratis untuk para suami bermasalah ini. Dan bila perlu, kantungnya wajib digantung di halaman depan rumah sehingga para tetangga bisa tau bahwa anda – si suami tukang gebukin istri - memiliki masalah pengendalian emosi. Sanksi sosial seperti pencemaran nama baik seringkali lebih ampuh daripada sanksi denda atau penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tau kisah ironis berkaitan dengan hal kekerasan domestik ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempo hari para suami pada ribut menentang penyerangan Amerika Serikat (AS) ke Irak; tapi ternyata mereka sendiri ‘menyerang’ istrinya... Kalo mau dibandingin, mendingan posisi AS yang nyerang Irak karena AS gak ada hubungan pribadi dengan Irak. Sementara suami pukul istri? Itu kan istri loe sendiri !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat nonton pertandingan sepak bola, para suami juga geram dan gak setuju bila ada pemain yang mukul pemain lain atau wasit. Eh, sendirinya juga main pukul sama istri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, para suami menjadi berang pas baca berita adanya aparat menggebuk masa yang lagi demonstrasi; tapi dalam rumah tangganya sendiri, istrinya sendiri juga digebukin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pria/suami yang kayak gini bukannya kings of convenience – seperti nama sebuah group band - tapi kings of ironics…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saran untuk para perempuan/istri yang menjadi obyek kekerasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para perempuan yang belum menikah, Rombengus menyarankan agar berpisah dengan kekasih anda bila saat pacaran dia udah berani main tampar/pukul. Pacaran kan ibarat training dan bila saat pacaran aja dia udah menyakiti anda, apalagi nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalo udah terlanjur menikah dengannya, sebaiknya para istri mencari jalan keluar dan jangan mau dijadikan bulan-bulanan si suami. Mungkin – sama seperti saran di atas – anda bisa mengajak suami ke psikolog untuk berkonsultasi. Terus terang Rombengus menentang perceraian, jadi Rombengus gak akan menyarankan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada argumen bahwa mencintai itu harus rela berkorban. Ehm, definisi berkorban itu macam-macam mbak, dan rela menderita digebukin suami bukanlah bentuk pengorbanan yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran lainnya, demi keamanan para perempuan – bukan hanya untuk kasus kekerasan domestik ini saja - alangkah baiknya bila para perempuan belajar olahraga bela diri. Selain dapat menyehatkan tubuh, juga membuat kita sigap dan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Dan sekedar bocoran, bila sejak pacaran kekasih anda tau bahwa anda bisa olahraga bela diri, dia pasti gak berani macem-macem deh. Hehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran mengikuti olahraga bela diri ini tidak menandakan bahwa Rombengus  nyaranin para istri untuk membalas menggebuk suami. Nggak lagi... saling gebuk mah bisa bikin tawuran domestik !  Gak beda dengan anak SMP atau SMA ! Tapi dengan olahraga bela diri, para istri bisa ‘menghindar’ dari pukulan suami. Banyak kog olahraga bela diri yang mengajarkan ini – cara mengelak/menghindar - dan gak perlu berlatih sampe ban hitam atau berguru ke shaolin di negeri Tiongkok segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pink - penyanyi asal AS yang rambutnya sekarang gak lagi berwarna merah jambu dan kerap kali lagu-lagunya berisi potret kerasnya kehidupan di AS - menyinggung soal kekerasan domestik ini di lagunya yang berjudul 18 wheeler dalam albumnya Missundaztood. Lewat lagu ini Pink menyarankan para perempuan dan istri agar melepaskan diri dari objek kekerasan suami, menjadi kuat dan maju terus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebagian dari liriknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;You can push me out the window; I'll just get back up…&lt;/em&gt;  [Pink sepaham dengan Rombengus, tindak kekerasan itu kagak perlu dibalas tapi cukup dengan back up]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;You can run over me with your 18 wheeler truck; and I won't give up...&lt;/em&gt; [Truk beroda 18 itu guede buanget, dan ini sekedar contoh ekstrim dalam menggambarkan bentuk kekerasan yang dilakukan suami atau penggambaran beratnya kekerasan yang dialami si istri]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Hey, hey, man! What's your problem?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;I see you tryin' to hurt me bad; Don't know what you're up against&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Maybe you should reconsider; Come up with another plan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Cuz you know I'm not that kinda girl; That'll lay there and let you come first &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Hey, hey, girl! Are you ready for today?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;You got your shield and sword? Cuz its time to play the games&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;You are beautiful; Even though you’re not for sure&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Don't let him pull you by the skirt; You're gonna get your feelings hurt &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;You can push me out the window; I'll just get back up…&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;You can run over me with your 18 wheeler truck; And I won't give up...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;You can hang me like a slave; I'll go underground...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;You can run over me with your 18 wheeler bus; You can't keep me down…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, gimana kalo kita mulai belajar mengendalikan emosi dan gak usah main gebuk terutama terhadap pasangan sendiri? Katanya udah besar dan dewasa? Maloe atuh sama pelajar yang masih sekolahan kalo kita masih main pukul juga... Malu uda sekolah tinggi-tinggi, kerja kantoran, tapi masih berjiwa preman...  Dan untuk para perempuan/istri, hayo bangun! Jangan mau dijadikan korban kekerasan suami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai,&lt;br /&gt;Rombengus&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-111146396101818845?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111146396101818845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/111146396101818845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/03/dilindas-truk-beroda-18.html' title='Dilindas truk beroda 18 !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-110740770828309570</id><published>2005-02-03T12:06:00.000+07:00</published><updated>2005-02-03T12:15:08.283+07:00</updated><title type='text'>Dapat durian atau ketiban durian ?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Suka denger kisah para OKB (orang kaya baru)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwe baru saja bergabung ke klub OKB setelah dia mendapat pekerjaan sebagai programmer di Jepang. Iwe heboh sekali dengan gaji ‘yen’nya.  Sebenarnya sih gaji si Iwe tak terlalu istimewa apalagi bila ditinjau dari biaya hidup yang harus dikeluarkan (biaya hidup di luar negeri kan tinggi banget !). Tapi Iwe sangat heboh dan bergaya hidup ala eksekutif tulen. Dia tinggal di apartemen 3 kamar (meskipun masih bujangan), punya mobil pribadi, sudah melancong keliling Asia di tahun pertama bekerja, punya dapur super komplit dengan 3 mesin pembuat kopi (mesin kopi biasa, mesin espresso dan senseo). Belum lagi gaya bicaranya yang seperti orang gedongan. « Laen oiy Iwe sekarang ! » komentar teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarganya yang di tanah air pun tak kalah heboh. Mereka kerap menyiarkan berita fantastis mengenai Iwe yang berhasil jadi TKI di Jepang (TKI secara definisi bukan cuma pembantu atau buruh, tapi juga para programer, insinyur, akuntan, manajer, peneliti, dan pekerja profesi lainnya yang berpaspor Indonesia dan bekerja di luar negeri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lagi, Iwe bukan hanya bergabung di klub OKB, tapi juga klub pegawai baru. Iwe baru saja lulus kuliah dan seumur hidup baru kali ini bekerja. Dia heboh banget jadi karyawan, istilah-istilah kantoran yang terdengar keren pun sering ia gunakan.  Iwe bangga dengan kesibukannya di kantor, dan berkata bahwa dia selalu ada ‘meeting’, padahal sebenarnya belum tentu meeting, bisa jadi workshop atau training (Kata ‘meeting’ memang luas penggunaannya, para tukang ojek yang nongkrong di pangkalan juga bisa bilang bahwa mereka lagi ‘meeting’ bukannya lagi nunggu penumpang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para lulusan sarjana (pasca-sarjana) yang baru pertama kali bekerja seperti Iwe ini kerapkali jadi sorotan –baik di kantor maupun di lingkungan- karena prilaku mereka yang cenderung ‘over’. Seorang novelis kondang asal Inggris menjuluki para 'fresh graduate’ yang memasuki dunia kerja ini sebagai ‘Master in blind ambition’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para psikolog, Iwe bisa dikatakan positif terkena ‘cinderella syndrome’ dimana hidupnya menjadi indah seketika. Dapat pekerjaan bagus, di luar negeri pula, dan bisa bergaya hidup seperti orang gedongan. Asik banget deh ! Iwe bagaikan mendapat durian matang yang runtuh 2 meter di depannya, lalu ia tinggal memungut dan menyantap durian tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, bagaimana bila tiba-tiba Iwe kedapatan durian busuk yang runtuh tepat di atas kepalanya ??? Bagaimana bila tiba-tiba ia dipecat ? Atau ia diusir dari Jepang karena ketahuan dokumennya ilegal ? Siapkah ia bila tiba-tiba kehilangan harta bendanya secara mendadak –seperti saudara kita yang mengalami musibah tsunami di benua Asia?  Bila itu terjadi, akankah Iwe meratapi 3 buah mesin kopinya yang hilang diterpa badai ?  Menjadi OKB saja Iwe sudah norak dan sombong, bagaimana bila ia miskin mendadak ? Bakal kena depresi akut dia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi kecil yang bisa Rombengus tawarkan untuk hal ini adalah dengan ‘gaya hidup fleksibel’…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah baiknya bila kita bisa hidup sebagai golongan atas dan bisa juga bertahan hidup sebagai golongan menengah ke bawah. Bisa menikmati menginap di hotel super mewah di jantung kota Paris yang kalo kita buka jendela kamar kita bisa melihat menara Eifel, tapi kita juga bisa rileks saat menginap di sebuah losmen di pojok kota Klaten yang kalo kita buka jendela kita akan melihat evil (hiiii….). Gak malu-maluin saat diajak berlibur oleh seorang teman yang kebetulan keturunan raja Yordania yang kaya banget, dan gak perlu sedih bila kelak kita gak punya baju bagus untuk bisa main ke mal (Ke mal itu gak perlu bawa duit banyak, tapi wajib dandan ala orang kaya… Pergi ke mal pake kaos oblong butut, celana pendek kumal dan sendal jepit seperti yang dilakukan Rombengus hanya akan menambah kerjaan para satpam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membantu kita menerapkan gaya hidup fleksibel, kita bisa mulai dengan berpikir bahwa :&lt;br /&gt;1.       Gak ada yang 100% permanen di dunia ini, suatu perubahan bisa saja terjadi seketika. Mungkin besok kita ketemu prince/princess charming, lusa patah hati. Minggu depan dapet pekerjaan di Barcelona, bulan depan dipecat.&lt;br /&gt;2.       Mensyukuri apa yang telah kita peroleh. Kalo sekarang udah kaya ya bersyukur dan jangan jadi ‘berubah’, tapi kalo sekarang masih miskin juga musti bersyukur sambil terus berusaha.&lt;br /&gt;3.       Menyadari bahwa apa yang kita peroleh berasal dari Tuhan (para atheis pasti gak setuju dengan hal ini). Sekarang kita dikasih ‘ABC’ oleh Tuhan, bisa saja besok Tuhan menarik kembali semuanya dan memberi 'DEF’ untuk kita. Khusus untuk hal ini, peran agama (iman) dan penerapannya adalah penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekarang, siap kan kalo diajak Rombengus keliling Betawi naik ojek ? Gak maloe kan ? Dan bila Rombengus ajak naik Maserati juga gak usah norak yah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Rombengus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-110740770828309570?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110740770828309570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110740770828309570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/02/dapat-durian-atau-ketiban-durian.html' title='Dapat durian atau ketiban durian ?'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-110740710687931960</id><published>2005-02-03T11:53:00.000+07:00</published><updated>2005-02-03T12:05:06.880+07:00</updated><title type='text'>Berburu bule ganteng di Aceh !</title><content type='html'>Baru saja Juleha mengabari Rombengus bahwa ia akan pergi ke Aceh, sembari menjadi relawan juga berburu bule !!! Cihuy gak sih, ibaratnya sekali merengkuh dayung 2 pulau terlewati ! Saat ini memang banyak relawan asing di Aceh (kalo belom pada disuruh pulang oleh pemerintah kita). Sukur-sukur Juleha bisa dapat dokter bule nan rupawan, « … dapet pekerja sosial bule yang seksi juga gak papa deh ! » ungkapnya penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa Juleha demikian antusias mendapatkan kekasih bule. Apakah ia sekedar ingin bersaing dengan temannya yang lain yang memiliki pasangan/suami/istri bule, atau karena ia mendengar asumsi-asumsi bahwa bule itu lebih manusiawi, romantis, cakep dan ‘anu’nya besar (ehem…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka asumsi mengenai bule memang telah ada sejak dulu di masyarakat kita dan mayoritas dari asumsi tersebut sifatnya positif, sehingga tak heran masyarakat kita memandang bule itu hebat. Hal ini dimungkinkan karena bule itu identik dengan orang-orang dari negara maju yang jadi acuan perkembangan bangsa, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Segala trend mulai dari teknologi, hiburan, mode, dan lainnya dominan berasal dari negeri si bule…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan kita yang mengistimewakan bule ini seringkali berbeda dengan perlakuan kita terhadap ras lain, misalnya terhadap ras berkulit kuning dan bermata sipit, Cina...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Indonesia kini telah ‘membuka pintu’ lebar-lebar untuk etnis Cina dengan masuknya aneka film Hongkong dan Taiwan dan juga beredarnya musik Mandarin di Indonesia. Belum lagi barang-barang asal Cina yang kini seperti gurita raksasa memasuki pasar kita, mulai dari pakaian, mainan anak-anak, barang elektronik rumahan sampai kursi gigi (kursi untuk dokter gigi bekerja) ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang-orang Indonesia keturunan Cina (Cina-Indo) pun mulai diakui di negeri ini dengan berhasilnya mereka jadi selebriti lokal, penyanyi lokal, pekerja kantoran, pimpinan perusahaan bahkan pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski telah ‘membuka pintu’ untuk mereka,  ternyata masih ada sebagian dari masyarakat kita yang antipati dengan etnis ini dan kurang bisa mentolerir keberadaan mereka.  Alasannya beragam, diantaranya karena faktor status ekonomi dimana etnis Cina-Indo umumnya memiliki penghidupan yang layak dibanding rata-rata penduduk kita. Dan juga karena kebiasaan etnis Cina-Indo yang selalu hidup berkelompok dengan sesama etnis mereka sendiri, alias gak mau berbaur dengan masyarakat Indonesia secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hal yang terakhir ini, sepertinya kita harus bisa memaklumi bahwa etnis Cina dimanapun berada – entah di Amerika atau di Eropa atau di Australia atau dimanapun - pasti akan berkumpul dan membentuk kelompok mereka sendiri. Hal inilah yang membuat adanya China Town (perkampungan Cina) di berbagai kota di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari aneka alasan yang membuat masyarakat kita masih sulit untuk berempati dengan etnis Cina,  pada prinsipnya kita tak harus menyukai semua yang ada di bumi ini. Kita berhak kog untuk merasa tidak/kurang suka... Seperti Rombengus yang gak suka sinetron lokal atau anda yang gak suka dengan tulisan-tulisannya Rombengus. Sah-sah aja untuk merasa gak suka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sangatlah wajar bila kita kurang suka dengan seseorang atau etnis tertentu. Tetapi –yang terpenting- jangan sampai kita menyakiti orang/etnis yang gak disukai itu. Junjung tinggi hak asasi manusia (HAM) ! Meskipun kita gak suka dengan mereka, mereka manusia juga kan ? Mereka punya hak-hak dasar (hak asasi) yang sama dengan kita di atas bumi ini.  Bila ada yang gak suka dengan Rombengus karena dia seorang Batak, gak pa-pa, tapi jangan lindas hak asasi Rombengus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal suka-gak suka ini belum tentu berkaitan dengan rasisme. Misalnya seperti Juleha yang tak mau memacari pria Cina-Indo karena gak suka dengan mereka, « ‘Liever niet’ alias ‘prefer not’ alias mendingan enggak deh… » kata Juleha.  Perasaan dan pikiran ‘prefer not’ ini sulit membuahkan rasa cinta bagi Juleha dan cinta gak bisa dipaksakan. Bila dari awalnya Juleha kagak suka dengan pria Cina-Indo, biar dipaksa pacaran, pasti tak ada cinta dalam hubungan itu. Kesian kan pacaran tanpa cinta ?  Jadi Juleha tak bisa disalahkan bila ogah pacaran dengan pria Cina-Indo dan sikap Juleha ini ‘tidak’ menandakan bahwa ia seorang yang rasisme. Rasisme berbeda konteksnya disini karena Juleha mau berteman dengan Cina-Indo, ia mempunyai banyak teman dan sahabat dari etnis Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, pada dasarnya gak ada salahnya lho berteman dengan semua orang. Suka atau gak suka, temenin aja…  Hidup kan isinya gak cuman ketawa-ketawa melulu, dan temenan pun jangan cuman sama yang kita anggap asik aja. Secara imajinatif pertemanan itu ada jenjangnya, mulai dari sahabat karib sampai temen biasa. Dan bila kita memang kurang suka dengan seseorang, taruh saja dia ke posisi ‘teman biasa sekali’ tanpa perlu dimusuhin atau dijauhin atau di-antipati-in. Beres kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menyambut tahun baru imlek buat yang -masih- merayakan. Dan untuk Juleha, met berburu bule ya, tips-tips menaklukan bule dapat diperoleh secara gratis dari Rombengus…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai !&lt;br /&gt;Rombengus&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-110740710687931960?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110740710687931960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110740710687931960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2005/02/berburu-bule-ganteng-di-aceh.html' title='Berburu bule ganteng di Aceh !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-110379842796813520</id><published>2004-12-23T17:32:00.000+07:00</published><updated>2004-12-23T17:42:52.936+07:00</updated><title type='text'>Sang super hero…</title><content type='html'>Suka dengan cerita komik kepahlawanan yang punya kekuatan super (super hero) asal Amerika seperti Superman, Spiderman, Batman, Catwoman, Xman, dan lainnya ? Kisah para super hero itu menjadi lebih seru lagi setelah dibuat film versi manusia (bukan animasi ataupun kartun) dan dimainkan oleh bintang-bintang Hollywood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda perhatikan bahwa para super hero itu adalah orang biasa ? Superman sehari-harinya seorang wartawan, Batman adalah seorang pengusaha, dan –bahkan- Spiderman masih kuliah (seorang mahasiswa) yang sering kekurangan duit…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun mereka terkenal sebagai pahlawan, namun mereka sebagai pribadi ‘asli’nya sendiri tidak terkenal. Mereka tidak mencari popularitas, mereka malah memakai topeng untuk menutupi wajah aslinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padalah sebenarnya Peter Parker, sang Spiderman, bisa saja merayap tanpa topeng dan membiarkan wajah aslinya nampang di media masa sehingga dia bisa menggaet gadis pujaannya dengan mudah. Tapi Peter tak melakukannya. Catwoman juga bisa nolongin orang tanpa topeng, sehingga orang-orang bisa tau bahwa ada juga superhero cantik berkulit hitam (super hero pertama yang keturunan afrika-amerika ?). Tapi Catwoman ogah ngetop, gak suka bikin sensasi seperti selebriti kita !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, para super hero itu rendah hati, gak sombong/belagu, mereka low-profile… Dan mereka menolong orang dengan tulus, bukan supaya jadi yang paling top sedunia atau buat KKN (sape tau kelak sepupunya Superman nyari kerja dan dengan membawa ‘nama Superman’ sang sepupu bisa langsung dapet kerja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal menarik lainnya, para superhero itu pun sadar bahwa mereka mempunyai ‘sesuatu yang lebih’ dibandingkan orang lain, yaitu kekuatan fisik. Dan –bagusnya- mereka mengganggap kelebihan itu sebagai suatu ‘pemberian’ &lt;em&gt;(gift)&lt;/em&gt; dan mereka harus berbuat kebaikan untuk orang lain dengan pemberian itu. Mereka –bukan hanya menolong diri mereka sendiri- tetapi juga membantu orang lain yang memerlukan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat kita yang tidak hidup di negeri komik, pemikiran para superhero ini bisa jadi ajaran menarik. Mungkin sekarang kita merasa ‘lebih’ dari orang lain. Lebih pintar, lebih kaya, lebih cakep, lebih jenaka, lebih teliti, lebih berbakat ini-itu, dst. Dan sudahkah kita pergunakan kelebihan tersebut secara maksimal untuk kebaikan bersama, atau hanya untuk keuntungan pribadi ? Atau kita hanya bisa menyombongkan diri dengan aneka kelebihan tsb, tapi impoten dalam mengembangkan dan memanfaatkannya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa bahwa pemberian dan kelebihan itu bisa berkurang bahkan hilang sewaktu-waktu, apalagi bila tak digunakan semaksimal mungkin. Superman pernah tiba-tiba gak bisa terbang dan Spiderman pernah jatuh dari gedung tinggi karena jaring laba-laba dari tangannya gak bisa keluar. Dan bagaimana bila tiba-tiba Batman bangkrut sehingga dia tak mampu lagi memesan mobil mahal yang super hebat itu ? (Batman gak bisa terbang, kemana-mana naek mobil, maklum super hero kaya. Hehe…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat hari Natal buat yang merayakan dan selamat akhir pekan buat semuanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam super hero !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombengus&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-110379842796813520?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110379842796813520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110379842796813520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/12/sang-super-hero.html' title='Sang super hero…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-110345389145662128</id><published>2004-12-19T17:49:00.000+07:00</published><updated>2004-12-19T17:58:11.456+07:00</updated><title type='text'>Tips cihui dari Jema</title><content type='html'>Tau budaya manusia yang masih ada sampai ke abad sekarang ini ? &lt;br /&gt;Yaitu budaya dimana orang tua suka menjodohkan anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jema, seorang gadis berdarah Maluku dan Aceh, adalah salah satu ‘korban’ dari acara perjodohan para ortu tsb. Sebenernya ortu Jema sendiri tak menjodohkan Jema ke anak orang lain, sebaliknya, para ortu yang memiliki putra yang masih jomblo sibuk memperkenalkan putra-putra mereka ke Jema. Maklum, Jema ini jelita, perutnya kotak-kotak (otot perutnya kenceng buanget sampai menyerupai kotak-kotak), perokok pasif (kesian deh…), gak suka kebut-kebutan di jalan raya dan selalu mengembalikan barang pinjaman tepat pada waktunya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Jema kesal bila ada seorang ibu yang membawa putranya untuk berkenalan dengannya, sebab Jema sendiri telah menancapkan hatinya yang terdalam ke seorang Batak yang seksi (bukan Rombengus lho, Rombengus mah kagak ada seksi-seksinya !).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian Jema malah gemar dikenalkan dengan putra-putra kenalan keluarganya (ada juga yang gak kenal sama sekali). Alasan Jema suka dikenalkan dengan para pria itu ada 2 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Berkenalan dengan setiap orang pada prinsipnya adalah baik. Jema tidak berpikir bahwa Jema ‘harus’ jadian dengan setiap pria yang dikenalkan padanya. Jadian atau nggak itu urusan belakangan, yang penting berteman dahulu. Lumayan kan memperbanyak koleksi teman ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Menambah pengetahuan (Apa, menambah pengetahuan ??)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jema tau benar bahwa pria itu sukanya berada di posisi yang lebih hebat dari perempuan, pria juga terkenal suka ber-&lt;em&gt;bullshit&lt;/em&gt;-ria saat pendekatan. Pria –khususnya pria Indonesia- pada umumnya berkoar-koar mengumumkan kehebatannya dan berharap si wanita akan terpesona dengan kehebatannya itu lalu jatuh cinta padanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jema sangat cerdik menghadapi keadaan ini. Dia tidak langsung jatuh tertidur atau mengelus dada mendengar bullshitan para pria yang mendekatinya, melainkan ‘mengarahkan’ pembicaraan sehingga pria tsb memberikan informasi dan juga pengetahuannya sesuai dengan topik yang dikehendaki Jema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saat Jema dikenalkan dengan Toni yang ahli ekonomi. Saat berkencan, Jema mengarahkan pembicaraan membahas perihal ilmu ekonomi dan keadaaan perekonomian Indonesia. Dalam kencan yang lamanya beberapa jam itu, pengetahuan Jema tentang ekonomi meningkat tajam.  Toni tak sadar bahwa dia telah mengeluarkan segenap ilmu dan aneka teori di kepalanya dan memberikannya secara gratis kepada Jema. Toni justru merasa telah berhasil membuat Jema terpana dengan pengetahuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berkenalan dengan Todo yang katanya jago komputer dan kutu buku, Jema mengajaknya membahas mengenai perkembangan software, hardware serta buku-buku terbaru. Tanpa perlu beli dan baca bukunya sendiri, Jema mendapatkan informasi secara gratis dan cepat (baca buku kan lama, kalo dicerita’in bisa lebih cepet). Seperti halnya Toni, Todo juga tak sadar telah ‘dihisap’ pengetahuannya oleh Jema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘dihisap’ mungkin terdengar ekstrim, kesannya si Jema ini jahat sekali.  Jema gak jahat kog, sebab pada prinsipnya keadaan Jema dan para pria yang mengejarnya adalah ‘simbiosis mutualisma’ alias sama-sama menguntungkan.  Si pria gembira karena merasa telah berhasil mem-&lt;em&gt;bullshit&lt;/em&gt;-in Jema, telah berhasil membuat Jema terpana atas kehebatan dirinya. Sementara Jema berhasil mendapat informasi dan pengetahuan dari pria tsb secara cuma-cuma. Sama-sama untung dan gembira bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesen dari Jema buat pembaca, bila ada yang merasa dirinya mentok dengan seseorang, gak ada salahnya lho berkenalan dengan yang lain. Hati mentok bukan berarti gak boleh menambah teman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila kita ketemu atau menghadapi orang-orang yang bawel/cerewet di sekitar kita atau sering dibullshitin seseorang, gak perlu membenci mereka atau menghindari mereka (katanya deket orang bawel bisa bikin sakit telinga dan sakit hati). Coba arahkan pembicaraannya supaya si bawel itu bisa berkicau sesuai dengan yang kita inginkan… Siapa tau kita malah bisa nambah informasi dan pengetahuan dari si bawel, seperti Jema yang menambah pengetahuannya secara cepat dan gratis dari pria-pria yang mem-bullshit-innya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Jema ! Serap pengetahuan sebanyakbanyaknya !&lt;br /&gt;Rombengus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Numpang iklan :&lt;br /&gt;Bila ada yang punya buku dan tidak mau dikoleksi lagi, ataupun yang terbeban dengan pengembangan pengetahuan anak Indonesia. Tolong sumbangkan buku-buku anda –bekas dan baru- ke &lt;a href="http://www.1001buku.org/"&gt;www.1001buku.org&lt;/a&gt; atau japri Rombengus. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-110345389145662128?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110345389145662128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110345389145662128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/12/tips-cihui-dari-jema.html' title='Tips cihui dari Jema'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-110267737111237984</id><published>2004-12-10T19:15:00.000+07:00</published><updated>2004-12-10T18:16:11.113+07:00</updated><title type='text'>Eh, gue nih doktor lho!</title><content type='html'>Di sebuah restoran mungil dalam sebuah hotel di selatan Jakarta, Odie, seorang gadis Sasak sedang duduk di pojok ruangan. Di depannya ada segelas susu kocok (milkshake), tapi dia sendiri asik dengan pulpen dan kertas kumalnya. Odie asik menulis apa yang dilihatnya dan segala yang ada di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda datang, duduk di meja sebelah, memesan kopi lalu membaca koran. Tak lama kemudian, tanpa diminta pria tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Thomas. Dan ia langsung ‘mengumumkan’ bahwa dia adalah seorang doktor (lulusan S3) dari UI  yang kini bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan finansial di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Odie yang merupakan seorang ahli kedokteran nuklir alumni Jerman yang kini tengah berlibur di Jakarta hanya tersenyum saja menanggapi Thomas. Odie memperkenalkan dirinya sebagai seorang penulis amatir yang bekerja di sebuah majalah elektronik bernama ‘takkan pernah populer’ di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah semacam ini lumrah terjadi di Indonesia. Bukan soal mengajak berkenalan tetapi perihal membanggakan pendidikan formal yang telah diraih.  Sebenernya sih boleh-boleh saja berbangga, namun gak perlu berlebihan apalagi norak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya pendidikan formal dari SD, SMP, SMU, D1, D2, D3, sarjana (S1) dan pasca sarjana (S2 dan S3) adalah hal penting bagi masyarakat kita. Ada berbagai opini yang mendukung pernyataan tersebut, salah satunya adalah karena jumlah penduduk Indonesia yang kini lebih dari 200 juta orang dimana setiap individu perlu bersaing dengan invidividu lainnya untuk bertahan hidup. Gelar akademis adalah salah satu cara untuk memenangkan persaingan tersebut. Konon, semakin banyak gelar seseorang, semakin mudah memperoleh pekerjaan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, beberapa senior eksekutif dari perusahaan multinasional di Jakarta yang ditemui Rombengus kurang mendukung opini tersebut. Untuk bekerja di industri (bukan karir di dunia akademis maksudnya) pada prinsipnya S1 saja sudah cukup « …Pendidikan sarjana ditambah pengalaman adalah modal utama untuk bekerja di industri. Kalau bisa sampai master / magister ya bagus, tapi tak diperlukan secara mutlak… » begitu komentar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua mengapa masyarakat kita begitu tergila-gila dengan gelar akademis adalah untuk gengsi pribadi dan keluarga. Katanya, semakin banyak jumlah gelar akademis yang dimiliki, semakin meningkat harga dirinya dan keluarga.  Apakah benar ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari benar-tidaknya, demi gengsi inilah yang membuat beberapa tahun silam para pejabat sipil dan militer kita gemar ‘membeli’ gelar akademis untuk dicantumkan di namanya. Semakin banyak gelar tercantum di namanya, semakin hebatlah pejabat kita itu… Di lain cerita, pejabat di negara maju malah melakukan hal sebaliknya. Bill Clinton tak mengumbar titel akademisnya saat menjabat sebagai Presiden AS. PM Belgia tidak pernah mencantumkan titel ‘Licenciate’ (setara magister) di kartu namanya maupun di pemberitaan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada opini bahwa orang bergelar S3 pastilah luar biasa cerdas dan amat sangat lebih hebat daripada yang bertitel S1, apakah benar ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bahas perbedaan antara S1, S2 dan S3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana (S1) itu diibaratkan kuliahnya mempelajari kota DKI Jakarta secara umum mencangkup Tanjung Priok, Cipinang, Menteng, Kebon Jeruk, Cilandak, dan lainnya. Mahasiswa S1 mempelajari semua area di Jakarta secara umum, tidak mendetil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di program pasca-sarjana S2, para mahasiswa diharapkan bisa me-master&amp;shy;-i sebuah area dari kota Jakarta tersebut, misalnya me-master-i kecamatan Menteng.  Dengan menjadi Master Menteng, lulusan S2 tersebut dianggap ahli mengenai Menteng. Prinsip master disini tak beda dengan di film kungfu, master kungfu itu orang yang kungfunya jago banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan program doktoral (S3), kegiatan dominannya adalah meneliti dan lulusannya diharapkan menjadi ahli di sebuah lingkup yang sangat spesifik, misalnya: kamar si Ujang di Jalan Lombok nomor ABC di kecamatan Menteng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyandang gelar S3 akan sangat ahli bila diajak berdiskusi tentang kamarnya si Ujang. Dia menguasai tentang letak meja belajarnya Ujang, model tempat tidurnya Ujang, warna kamarnya, dst. Tetapi bila si S3 itu diajak berdiskusi mengenai pungli-pungli di Tanjung Priok, dia belum tentu lebih ahli daripada si S1. Si penyandang gelar S3 itu pun belum tentu pakarnya bila diajak membahas mengenai para preman di UKI Cawang.  Dalam hal ‘bercinta’ misalnya, bisa jadi pengetahuan anak SMU lebih tinggi daripada para sarjana dan pasca-sarjana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, gak perlu sombong lah bila anda menyandang aneka titel akademis. Boleh bangga, tapi gak perlu jadi norak apalagi tinggi hati... Anda hanyalah seorang Master / kandidat Doktor / Doktor di sebidang ilmu. Dan pengetahuan yang anda miliki masih sangat amat terbatas. Lagipula, masih banyak orang lain yang jauh lebih hebat dari anda. Ingat, di atas langit masih ada langit... Dan jadilah seperti padi yang makin berisi makin merunduk…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, masyarakat kita tak perlu terlalu terpesona dengan titel akademis yang dimiliki seseorang, respek perlu, tapi gak usahlah menyanjung-nyanjung seseorang karena titel akademisnya. Mereka bukan dewa kog…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya masih banyak kandidat doktor / doktor yang kurang bagus karakternya. Ada kandidat doktor yang cara bicaranya sehari-hari masih seperti tukang becak dan suka menghina serta menghujat orang lain. Ada doktor yang meskipun memperoleh gelar doktornya dari luar negeri tetapi pikirannya masih sangat sempit.  Di lain pihak, ada banyak orang tanpa titel akademis yang berarti tetapi memiliki karakter yang baik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kita tak perlu terpaku pada pendidikan formal untuk belajar dan menambah pengalaman hidup. Kita bisa belajar secara informal yang bisa diperoleh / dilakukan sehari-hari dan gratis. Mulailah mengamati hal-hal yang ada di sekitar kita. Mungkin hal tersebut kesannya kecil dan sepele, tapi siapa tau kita bisa belajar dan menambah pengalaman hidup dari sana ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam pendidikan dan gelar-gelarnya !&lt;br /&gt;DR. ing. arch. Rombengus, MKIM, M.Eng., FCPI, Dipl. UP, Licenciate, DESS, DEA, PhD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Odie itu nama anjing temen berantemnya Garfield di film &lt;em&gt;Garfield&lt;/em&gt; dan Thomas itu nama lengkapnya si kucing Tom di &lt;em&gt;Tom and Jerry&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-110267737111237984?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110267737111237984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110267737111237984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/12/eh-gue-nih-doktor-lho.html' title='Eh, gue nih doktor lho!'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-110267694659602598</id><published>2004-12-10T17:50:00.000+07:00</published><updated>2004-12-10T18:09:06.596+07:00</updated><title type='text'>Bincang-bincang dengan Nive, si juragan montok...</title><content type='html'>Yuk kenalan dengan Nive, gadis Jawa bermental Batak (galakkan dia dari gue !)&lt;br /&gt;Nive ini juragan permen populer bermerk ‘montok’. Merk ini tidak mencerminkan juragannya lho, tapi bentuk permennya. Sebagai juragan permen, Nive memiliki ‘status sosial’ yang cukup aduhai (status sosial kan penting banget bagi masyarakat kita). Tapi jangan tanya gajinya, beli DVD bajakan yang cuma 5 ribu perak per film aja ngutang sama Rombengus ! Gaji minim atau memang pelit atau kesempatan biar dibayarin Rombengus ? Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan kemarin Nive sibuk bikin iklan untuk memasarkan permennya. Bila Rizal Mantovani doyan memakai bocah-bocah botak di aneka video klip kreasinya, Nive pake cewe-cewe botak ala Sinead O’ Connor di iklannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan berambut botak memang sensasi di Indonesia. Jaman dulu, perempuan berambut pendek aja udah bikin satu kampung ribut. Tapi sekarang udah lumrah kog melihat perempuan berambut pendek.  Meski demikian, masih banyak ‘pantangan’ bagi perempuan Indonesia, seperti gak boleh pulang malam. Perempuan yang pulang malam sering dibilang perempuan gak bener. Padahal, kalo kebetulan dapet shift (tugas jaga) pada malam hari gimana ? Dan bila emang musti lembur di kantor ? Apakah adil bila setiap perempuan yang pulang malam langsung dicap perempuan gak bener ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuman urusan pulang malam, masih banyak lagi pantangan yang sifatnya konservatif bagi wanita Indonesia. Pantangan-pantangan itu dibuat masyarakat dan katanya merupakan budaya kita. Sebenernya sih ada pantangan-pantangan yang tak lagi sesuai di zaman sekarang ini, dan budaya juga berubah seiring dengan perubahan zaman. Bila kita tetap terpaku dengan keadaan yang lama, kita adalah manusia konservatif…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nive juga mengakui kegeliannya dengan lagu ‘pejantan tangguh’ karya grup band lokal Sheila on 7.  Nive begitu heran mengapa pria selalu ‘mengambil image’ dari sifat hewan jantan seperti: tangguh, kuat, berani, perkasa, gagah, jantan, dsb. Sementara wanita justru ‘memberi image’ ke hewan betina. Tokoh miss Piggy yang kemayu dan sapi betina di film Home on the range jelas-jelas mengutip ke-feminin-an manusia perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« Eh, Sheila on 7, elo tuh mau-mauan disebut pejantan, mau-mauan disamain dengan hewan…  Perempuan mana mau disebut betina. Pasti para perempuan pada teriak: Betina mah hewan atuh ! » ungkap Nive. Bagi Rombengus sih, para pria itu kurang kreatif sampai-sampai image diri aja musti niru hewan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nive juga menceritakan kekagumannya pada mas Sino (bukan nama sesungguhnya), si banci tukang salon langganannya. Meskipun seorang banci -yang keberadaannya sering belum bisa diterima masyarakat kita- Sino adalah aktivis senior di sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) terkemuka yang memperjuangkan hak-hak wanita. Sino –meskipun secara biologis adalah seorang pria- rajin menyuarakan dan memikirkan masalah wanita di negara dunia ketiga khususnya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengesankan bukan nasib perempuan Indonesia diperjuangkan oleh seorang banci ?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Nive kami juga membincangkan hal-hal yang lebih serius, seperti ketidaknyamanan kendaraan umum di Jakarta khususnya bagi perempuan, kasus TKW, dan lainnya. Dan di akhir pertemuan, Nive mengungkapkan kesedihannya karena masih ada saja perempuan yang merendahkan martabatnya sendiri. Masih ada perempuan yang melacurkan diri mereka demi materi. Malah ada pula yang bangga dengan karir seksnya itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm… hal melacur ini memang hal kompleks. Melacur adalah pekerjaan tertua di dunia, dan rasanya mustahil untuk bisa dilenyapkan dari muka bumi. Melacur di Indonesia sendiri bukan hal baru, sejak jaman raja-raja dulu pun telah ada di budaya kita. Tapi, tahukah anda bahwa geisha pertama di Jepang adalah seorang pria ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bincang-bincang dengan Nive ini menyadarkan Rombengus bahwa ternyata wanita pekerja yang karirnya demikian baik masih memikirkan nasib sesama perempuan. Hanya saja tak ada –atau tak tahu- wadah yang tepat untuk menyampaikan aspirasi mereka. Barangkali kementrian pemberdayaan wanita di pemerintahan yang baru bisa menjembatani aspirasi mereka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin kesibukan para wanita pekerja ini tak mendukung mereka untuk terlibat jauh dalam hal meningkatkan pemberdayaan perempuan Indonesia. Namun keterlibatan yang sedikit saja terhadap memajukan dunia perempuan di Indonesia sudah merupakan hal indah yang bisa dilakukan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maju terus perempuan Indonesia !&lt;br /&gt;Rombengus yang kemayu (hé ?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Ditulis untuk RSW juragan mentos di Indonesia, serta perempuan Indonesia lainnya…&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-110267694659602598?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110267694659602598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110267694659602598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/12/bincang-bincang-dengan-nive-si-juragan.html' title='Bincang-bincang dengan Nive, si juragan montok...'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-110267619807312442</id><published>2004-12-10T17:32:00.000+07:00</published><updated>2005-04-12T08:45:25.160+07:00</updated><title type='text'>Kecewa berat dengan Rombengus !</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa waktu yang lalu Rombengus menerima sepucuk surat pembaca yang menyatakan kekecewaannya yang mendalam setelah bertemu langsung dengan Rombengus. Isi surat tersebut sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Gue kecewa sama Rombengus, dari tulisan-tulisannya gue kira orangnya asik banget, gimanaaa.... gitu. Taunya orangnya amit-amit !!! Kagak ada hebat-hebatnya deh !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pernah nulis tentang lookism yang menilai seseorang dari tampilan luarnya. Eh, taunya dia sendiri lookism sejati ! Doyannya sama yang cakep-cakep doang. Kalo ketemu orang cakep, dia bisa ngobrol berjam-jam. Tapi kalo berhadapan dengan orang yang jelek apalagi orang tersebut bawel, pasti dalam hitungan detik Rombengus langsung ngantuk !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun pernah nulis tentang hidup hemat dan gak suka dengan pola hidup konsumtip. Dia pernah negor gue karena gue beli BH mulu (BH itu singkatan dari breast holder, gue kan koleksi BH). Tapi ternyata dia lebih konsumtip dari gue ! Mana belinya barang-barang elektronik yang mahal-mahal lagi, kayak laptop yang layarnya 10.6 inch yang super tipis dan super ringan. Dia mana mau pake laptop yang bodi-nya gede dan tebel yang harganya jauh lebih murah, padahal fungsinya sama aja. Jadi mendingan gue deh yang sering beli BH daripada dia. Nominal duit yang dibelanjain kan dikitan gue…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data diri di Friendster, Rombengus ngakunya pecinta dan pemusik beraliran klasik dan jazz sejati. Eh, kemarin dulu gue liat dia jingkrak-jingkrak dengerin lagunya Linkin Park, Korn, Rammstein, dll di sebuah kos-kosan di Bandung. Muna’ bener dah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan dia pun mengesankan orangnya dewasa, berani, ‘stabil’ dan mapan. Uh, keliatannya doang ! Aslinya dia tuh manja buanget ! Anak mami ! Dia juga pelit gak karuan, tukang bo’ong, dan suka merasa dirinya yang paling hebat sedunia. Memprihatinkan deh… Belon lagi kebiasaannya yang suka gonta-ganti pasangan, nyaingin kebiasaan ‘kawin-cerai’-nya selebriti Indonesia. Eh, denger-denger Rombengus suka ‘jalan’ ma sesama cewe juga ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus kesannya dia hidup ‘suci’, anti-pornografi dan anti seks bebas. Lha, link di Internet Explorer di komputer dia kog berbau-bau XXX semua ? Belon lagi pas gue pake komputer dia dan otomatis sign-in ke MSN messenger trus temen chatting dia nyapa « Hello hot girl… » Buseeett ! ! !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya gue kecewa dengan Rombengus. Kecewa beraaattt ! ! !&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang terfokus pada status diri. Mereka ingin memiliki status yang sehebathebatnya. Status yang hebat bagi masyarakat kita contohnya adalah: berprofesi sebagai direktur, dokter spesialis, bintang film, profesor, punya gelar akademis yang hebat, punya rumah gedongan, punya sedan SAAB seri 9, berpenghasilan 25 juta per bulan, pernah jalan-jalan keliling dunia, orang kaya atau anak orang kaya, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu begitu tergila-gila mengejar status tersebut sampai-sampai karakter diri mereka sendiri tidak berkembang dengan kualitas yang baik alias karakter mereka menjadi buruk. Sikap, perilaku, tata bahasa, pola pikir dan budaya mereka dibiaskan oleh upaya mengejar status diri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda beranggapan bahwa karakter anda tidak penting, status diri lah yang terpenting. Ehm, anggapan ini tidak benar... Orang menilai karakter anda, apalagi bila orang tersebut semakin dekat dengan anda. Semakin dekat seseorang dengan anda, semakin penting karakter anda bagi orang itu, dan semakin kurang penting status diri anda… Karena orang yang dekat akan menilai diri anda ‘bagian dalamnya’ secara personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kisah, seorang pria merasa terhina saat wanita yang ditaksirnya tiba-tiba menjauhi dirinya. Dia berpikir « Gue kurang apa coba ? Gue punya pekerjaan bagus, rumah cicilan, mobil (pinjeman kantor), titel MSc dari Amrik. Gue kurang apa ? »&lt;br /&gt;Pria tsb –seperti kebanyakan orang- hanya menilai dirinya sendiri berdasarkan ‘status’ yang dibuat oleh masyarakat. Dia tidak sadar bahwa dia memiliki ‘karakter’ yang kurang baik sehingga si wanita memilih untuk tidak bersamanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda memiliki karakter yang kurang baik, bisa jadi –atau telah terjadi- saudara, teman, atau rekan sekantor anda kecewa dengan anda setelah mengetahui ‘sisi bagian dalam’ anda. Ada yang menunjukkan kekecewaan itu dengan sikap antipati (seperti menghindar / menjauh), tetapi ada pula yang menahan diri dan berusaha tetap tersenyum dengan anda meski sebenarnya dia berusaha untuk tak lagi berhubungan / bertemu dengan anda…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari tanah air,&lt;br /&gt;Rombengus yang belagu !&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-110267619807312442?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110267619807312442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/110267619807312442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/12/kecewa-berat-dengan-rombengus.html' title='Kecewa berat dengan Rombengus !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109595275514063891</id><published>2004-09-23T21:48:00.000+07:00</published><updated>2004-12-10T18:22:05.870+07:00</updated><title type='text'>Kisah si supir metro rute nomor satu di Paris</title><content type='html'>&lt;p&gt;Metro adalah kereta listrik bawah tanah, di negara lain metro ini dikenal sebagai subway. Metro merupakan alat transportasi paling sexy di Paris, karena menghubungkan segenap pusat kota Paris dengan 15 rute dan 300 stasiun. Warga Paris (Parisian) bangga dengan metronya, sampai-sampai rute metro tersebut dijadikan postcard dan dijual ke turis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Metro rute nomor satu jurusan La Défense – Château de Vincennes merupakan metro rute utama di Paris karena menghubungkan banyak stasiun penting seperti Musée du Louvre (Museum Louvre), Hotel de Ville (city hall), Champs-Elysées (tempat belanja dan nongkrong yang aduhai..), Bastille, dan lainnya. Karena merupakan jalur penting dan juga jalur ‘gemuk’, bila ada metro model baru yang diproduksi, biasanya pertama kali dipakai untuk rute nomor satu ini dulu baru ke rute-rute lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengemudikan metro itu seperti mengemudikan kereta listrik Jabotabek. Si supir berada di ruang kemudi di bagian terdepan kereta yang terpisah dari gerbong-gerbong penumpang. Posisi ini membuat si supir metro tak tau apa yang terjadi di gerbong penumpang. Dia tak tahu ada pengantin baru -pasangan dari Spanyol- yang lagi berantem karena suaminya asik membaca novel Da vinci code. Rupanya si istri juga pingin baca novel tersebut… Supir metro tak tahu ada anak Indonesia yang dipukul gara-gara nolongin nenek-nenek yang mau dicopet… Si supir pun tak tahu ada mas-mas London (aksen Londonnya kental sekali) yang menggoda gadis Paris di depannya. Maklum, gadis Paris memang terkenal cakep dan modis…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat metro berhenti di stasiun Bastille. Ternyata baru saja ada aksi demonstrasi di alun-alun depan gedung Opera. Dan segerombolan pemuda ex-demonstran yang tampaknya setengah mabuk masuk ke metro sambil berteriak-teriak. Tiba-tiba mereka mencoba merampok Rombengus... Mereka ini guoblok ! Backpacker gembel seperti Rombengus kog mau dirampok ? Untuk sewa kamar di hostel saja kagak mampu, sampai mbak resepsionis di hostelnya bilang « Duitnya kurang ? Kalo gitu kamu tidur di kasur tapi di lantai dengan harga murahan… »&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Supir metro gak tau dan gak perduli Rombengus mau dirampok orang !&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keadaan si supir metro ini lebih memprihatinkan lagi sebab metro-metro di Paris itu berjalan di bawah tanah. Hanya beberapa rute metro yang sebagian jalurnya berada di atas permukaan tanah. Dengan demikian, supir metro itu selama bekerja berada di bawah tanah yang gelap (hanya di area stasiun saja yang terang), sumpek dan pemandangannya hanya lorong-lorong pengap serta aneka stasiun. Dapat dibayangkan bila si supir metro bekerja penuh waktu selama 8 jam sehari, berarti selama itu dia berada di bawah tanah !&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Supir metro ini keadaannya tidaklah jauh berbeda dari kuda delman di Indonesia. Kuda delman itu kerjanya menarik kereta tanpa tau ataupun perduli siapa yang naik ke atas kereta. Kuda delman pun diberi tutup mata di bagian kiri dan kanan matanya, sehingga dia hanya bisa melihat lurus ke depan…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal yang paling penting dari tulisan ini adalah : Apakah kita juga seperti si supir metro atau si kuda delman ?&lt;br /&gt;Mungkin ada teman yang merasa dirinya sebagai kolerik sejati dan bangga akan hal itu. Namun, apa yang harus dibanggakan bila kita bisanya hanya fokus dengan diri dan pekerjaan sendiri tanpa perduli dengan sekitar ?&lt;br /&gt;Ada pula teman yang berpendapat « Yang penting bisa makan ! Yang penting punya uang !! »&lt;br /&gt;Untuk pendapat ini, mari kita lihat bahasan berikut…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara tradisional, manusia hidup dari bayi kemudian menjadi besar, sekolah, kuliah, bekerja, berkeluarga, mempunyai anak, membesarkan anak, menyekolahkan anak, dst… Proses tradisional ini sangatlah umum dan bisa dilakukan setiap orang, gak perlu cape-cape belajar di sekolah beken, kuliah di universitas top, kuliah di luar negri, lulus kuliah dengan predikat magna atau summa cum laude untuk ‘sekedar’ bekerja dan berkeluarga… Sekolah saja di sekolah/universitas antah berantah dan sekedar lulus bila ingin ‘sekedar’ berkerja dan berkeluarga…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak dari kita yang berasal dari keluarga yang baik dan berkecukupan, tak sedikit pula yang anak orang kaya/pejabat. Kita juga telah diberi kesempatan untuk menikmati sekolah yang baik. Banyak yang sekolah di SMU favorit, kuliah di UI/ITB atau PTN beken lainnya, bahkan di luar negeri. Dengan bekal ‘lebih’ tersebut (input yang lebih), seharusnya apa yang kita perbuat (output kita) juga ‘lebih’ daripada orang-orang yang tak seberuntung kita…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bila fokus kita hanyalah ‘uang’ dan ‘mencari uang’, kita tak akan pernah merasa cukup… Cape lagi kejar-kejaran dengan duit… Dan bila prinsip kita « tunggu sampe gue kaya dulu, baru gue bantu orang lain… » bisa-bisa orangnya udah keburu mati sebelum kita bantu…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbuat ‘lebih’ dalam memperhatikan sekitar bisa diterjemahkan ke dalam banyak hal. Saran saya, mulailah dari hal-hal yang sederhana. Misalnya menjadi pendengar yang baik bagi orang lain (jangan ngoceh tentang diri sendiri mulu), menjadi penengah dalam pertikaian di rumah, menuntun kakek-kakek nyebrang jalan, berteman dengan semua orang (jangan hanya berteman dengan yang bule saja atau dengan orang² yang ‘sepihak’ saja), rayakan ultah anak anda di panti asuhan (membagi sukacita dengan anak-anak panti asuhan), dsb…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yuk sejenak kita melihat ke luar (ke permukaan tanah bagi si supir metro), liat apa yang bisa kita perbuat untuk sekitar kita…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam damai,/rombengus_230904 (untuk Christine yang ngiter² Eropa sendirian dan sempat mampir ke gubugnya Rombengus serta bersedia diceramahin Rombengus:)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109595275514063891?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109595275514063891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109595275514063891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/kisah-si-supir-metro-rute-nomor-satu.html' title='Kisah si supir metro rute nomor satu di Paris'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578547034930378</id><published>2004-09-21T23:50:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:51:10.350+07:00</updated><title type='text'>Selamat datang di klub anti Rombengus !</title><content type='html'>Sekelompok orang benci dengan Rombengus dan mereka membentuk sebuah klub. Mereka adalah orang-orang yang tersinggung dengan tulisannya Rombengus, ada yang merasa dirinya dijadikan objek atau korban tulisan, dan ada pula yang tak bisa menerima/tak setuju dengan tulisan Rombengus. Mereka menentang keras!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota klub anti Rombengus ini jumlahnya kian membengkak, itu karena anggota inti klub tersebut giat ‘mencari’ anggota baru. Aneka kegiatan dan fasilitas digalakkan untuk menjaring orang-orang supaya tertarik untuk menjadi anggota klub.  Mereka menggelar acara makan-makan gratis, memberikan tiket nonton film di bioskop gratis, memberi CD berisi lagu-lagu dangdut yang menyuarakan anti Rombengus (mereka tau bahwa Rombengus doyan lagu dangdut dan mereka memakai musik yang sama untuk melawan Rombengus), serta membagikan kaos oblong warna oranye bertuliskan “&lt;strong&gt;Hentikan Rombengus !”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain cerita, adapula klub pecinta Rombengus. Mereka ini orang-orang yang suka, setuju dan berusaha mempraktekkan tulisan-tulisannya Rombengus. Mereka tak memberi aneka hadiah untuk para anggotanya dan malah cenderung bersifat ‘kalem’, tidak mengeksploitasi kegiatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tanggapan Rombengus sendiri terhadap keberadaan klub-klub tersebut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombengus merasa seperti orang beken yang punya klub penggemar sekaligus klub pembenci. Tetapi Rombengus tak sedikitpun terlibat di kedua klub tersebut. Rombengus sedang asik mengumpulkan stiker tato dari chips (makanan kecil dari kentang yang dibungkus dalam plastik) yang kemudian ditempel di kaki kanannya. Seminggu sekali ‘tato’ palsu di kaki kanannya pasti berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan orang-orang di luar kedua klub tersebut ? Harus memihak kepada siapakah mereka ? Apakah Rombengus benar atau salah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak ajaran, teori, dan opini di dunia dan tak jarang kita bingung apakah hal tersebut benar atau tidak, harus kita terima atau kita tolak… &lt;br /&gt;Pada prinsipnya, setiap hal yang kita peroleh harus diuji kebenarannya, jangan diterima mentah-mentah. Misalnya Rombengus menganjurkan anda untuk mengkoleksi boneka jerapah, apakah anda langsung melakukannya tanpa pikir panjang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimanakah cara menguji ajaran tersebut ? Bagaimana kita tahu bahwa suatu hal itu benar atau salah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menguji suatu ajaran, terutama yang berkaitan dengan prinsip-prinsip hidup, alangkah beruntungnya kita yang memiliki dasar agama yang kuat serta latar belakang keluarga yang baik (misalnya dari keluarga baik-baik dan berpendidikan), karena ‘sensor’ orang-orang dengan latar belakang tersebut umumnya lebih baik dan kuat daripada orang-orang yang tak mempraktekkan agamanya serta berasal dari keluarga yang kacau balau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor keluarga disini tidak menentang prinsip ‘bapaknya pencuri belum tentu anaknya juga pencuri’, tetapi secara statistik keluarga yang bahagia lebih banyak menghasilkan anak-anak yang ‘kuat’ secara mental dan moral daripada anak-anak dari keluarga yang kacau balau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, apakah anda masih ingat teori-nya Amanda Filippacchi tentang menjadi orang yang fleksibel ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diumpamakan sebuah gunung es, dasar kita -bagian gunung yang terletak di bawah permukaan tanah- adalah latar belakang agama dan keluarga, serta sedikit faktor budaya (budaya ini mudah dipengaruhi sehingga seringkali cepat berubah).  Sementara bagian gunung yang ada di atas permukaan tanah adalah menjadi fleksibel tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar atau fondasi yang kuat membuat diri kita menjadi kuat, tak tergoyahkan. Misalnya dasar kita mengajarkan bahwa hidup bersama (samen leven) adalah tidak benar, meskipun kita berada di negeri orang yang membenarkan hidup bersama, kita tak melakukannya karena tidak setuju dengan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fleksibilitas tak menjadikan kita untuk mengadopsi semua hal yang tadinya asing dengan kita –seperti kasus hidup bersama tadi- tetapi cukup mengadaptasikan diri kita terhadap hal tersebut. Ingat, adopsi tidak sama dengan adaptasi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi fleksibel tidak berarti mengubah diri kita menjadi orang labil yang mudah terbawa arus, tetapi lebih pada konteks beradaptasi –untuk beberapa hal- dan memahami keadaan –untuk hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sudah kuatkah fondasi diri kita? Apakah kita mudah terbawa arus yang sedang populer? Bila anak-anak SMA dan para mahasiswa saat ini menganggap seks bebas adalah hal yang wajar, apakah kita harus ikutan?  Hal-hal yang populer tidak semuanya harus kita adopsi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk teman yang telah dikaruniai buah hati, alangkah baiknya bila anda dan pasangan mulai membangun dasar yang kuat untuk putra-putri anda… Beri mereka keluarga yang bahagia dan didik mereka menjadi anak yang saleh/taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, bila tiba-tiba anda mendapat undangan makan-makan gratis, bisa jadi anda telah diundang untuk masuk ke klub anti Rombengus. &lt;strong&gt;Selamat bergabung!&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;/rombengus 160904 (ditulis untuk sahabat saya tercinta, Rio Harli, yang kembali ke tanah air. Selamat melanjutkan perjuangan…)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578547034930378?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578547034930378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578547034930378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/selamat-datang-di-klub-anti-rombengus.html' title='Selamat datang di klub anti Rombengus !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578542144863205</id><published>2004-09-21T23:49:00.000+07:00</published><updated>2004-09-22T19:46:04.270+07:00</updated><title type='text'>Sirsa dan Durent</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sirsa (sirsak – k) adalah seorang gadis bule yang perawakannya biasa. Banyak orang mengira orang-orang bule itu pastilah cakep karena mereka berhidung mancung, bermata lebar, tinggi dan berkulit putih. Kenyataannya, tidak sedikit orang bule yang perawakannya biasa-biasa saja, bahkan tidak menarik sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirsa ini seorang karyawan di sebuah bengkel mobil. Dialah satu-satunya petugas administrasi di bengkel tersebut. Meski bekerja di sebuah bengkel, Sirsa dapat hidup dengan sangat layak. Dia memiliki mobil Smart (mobil mungil bermesin Mercedez) keluaran awal tahun 90-an dan dia pun bisa menyicil rumah mungil di pinggiran kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirsa adalah seorang gadis yang memiliki sedikit kesenangan. Minat dan hobinya hanya ada 4: ngobrol, makan makanan enak, makan makanan enak sambil ngobrol, dan ngobrol sambil nonton TV. Kegemaran utamanya adalah mengobrol…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang salah dengan kegemarannya itu, tetapi pekerjaan Sirsa tak memungkinkan dirinya untuk sering melakukan kegemarannya. Sebagai karyawan administrasi, sehari-hari Sirsa bekerja di sebuah ruangan kecil, sendirian. Dia tak bisa menyalurkan hobi ngobrolnya selama waktu kerja dari jam 8 hingga jam 6 sore, dari hari Senin sampai Jumat. Di malam hari, Sirsa juga tak bisa mengobrol karena tinggal sendirian di rumah mungilnya. Sirsa pun tak memiliki banyak teman yang bisa diajak ngumpul dan mengobrol di malam hari. Keadaan ini –tak bisa melampiaskan rasa ingin ngobrolnya- membuat Sirsa tersiksa, merasa kesepian yang mendalam… lalu dia pun mulai mengobrol sendirian, terutama di saat makan makanan enak dan menonton TV…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirsa memiliki seorang kekasih bernama Durent (duren + t), seorang pria bule yang juga biasa-biasa saja perawakannya. Berbeda dengan Sirsa, Durent memiliki aneka kegemaran dan kemampuan, ‘multi-talented’ bahasa kerennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durent seorang pemusik amatir yang mahir memainkan alat musik saxophone, dia seorang penyair yang suka sekali dengan sastra inggris, dan dia juga pecinta fotografi yang suka membuat foto tempat-tempat sampah dari aneka daerah yang pernah dikunjunginya. Menurut Durent, budaya setempat dapat dipelajari dari tempat sampahnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, Durent juga gemar akan olah raga, dua sampai tiga kali dalam seminggu dia main tenis, dan dia tak pernah melewatkan satu pertandingan sepak bola di TV. Durent juga tertarik akan hal-hal unik lainnya seperti menonton film Amélie &lt;em&gt;(Le Fabuleux destin d'Amélie Poulain)&lt;/em&gt; berulang-ulang, menggambar aneka ekspresi wajah beruang, dan memperhatikan tengkuk wanita… Secara profesional, Durent adalah seorang programmer di sebuah perusahaan piranti lunak (software) lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang yang mempunyai banyak bakat dan kegemaran, Durent tak pernah merasa kesepian. Meskipun mempunyai segudang teman, Durent malah cenderung ‘asik sendiri’ dan sering malas berinteraksi dengan orang lain. Durent mempunyai dunia-nya sendiri !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pekan, seperti pasangan kekasih lainnya yang tinggal di tempat yang berbeda, Durent bertemu dengan Sirsa. kadang Durent yang menginap di rumah mungilnya Sirsa, atau sebaliknya. Biasanya Sirsa sangat antusias menyambut akhir pekan, banyak sekali hal yang ingin diceritakan pada Durent. Sirsa juga menyiapkan aneka makanan enak untuk disantap bersama di akhir pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Durent ingin sekali menyalurkan aneka hobi dan bakatnya di akhir pekan. Dia ingin main saxophone sepuas-puasnya, jalan-jalan sembari membuat foto tempat sampah, nongkrong di café sembari memperhatikan tengkuk wanita, dan hal lainnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durent seringkali malas diajak bicara oleh Sirsa. Durent pun ogah naik mobil Smart-nya Sirsa dan memilih naik kendaraan umum karena dia malas bila harus melayani Sirsa ngobrol di dalam mobil, dan lagipula lebih banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari dengan naik kendaraan umum daripada naik mobil pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini Sirsa menjadi depresi karena kegemarannya tak tersalurkan dengan baik. Sirsa yang hanya bisa menyalurkan ekspresi diri lewat mengobrol (output dirinya hanya dengan bicara/mengobrol) tak bisa disalurkan di hari-hari biasa maupun di akhir pekan. Durent pun tersiksa bila harus melayani obrolan dan makan-makan melulu di akhir pekan saat bersama Sirsa. Durent lebih suka melakukan aneka hobi uniknya daripada mengobrol dan makan-makan… Durent yang punya segudang input dan output, tak mengerti bahwa output Sirsa hanyalah mengobrol…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak argumen terhadap karakter objek dalam hubungan manusia (hubungan dalam konteks teman, kekasih dan pasangan suami-istri). Ada yang bilang, hubungan orang-orang yang setipe akan lebih enak dan tahan lama. Tetapi argumen ini dihantam dengan pendapat lainnya yang berkata bahwa orang-orang yang setipe malah akan lebih cepat berantem dan berpisah, apalagi bila tak ada yang mau mengalah. “Sesama seniman pasti susah untuk berkeluarga, sama-sama orang gila mana bisa hidup satu atap?” begitu katanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang berargumen bahwa berhubungan itu tak perlu setipe karena kelak akan saling mengisi. Kekurangan yang satu akan digenapi oleh kelebihan yang lain. Mungkin seperti Sirsa yang tukang ngobrol akan dapat digenapi dengan Durent yang pendiam. Tapi kenyataannya, hubungan Sirsa dan Durent pun mengalami masalah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda Filipacchi, seorang novelis beken keturunan Italia yang bermukim di Amerika, menulis dengan indahnya mengenai hal ini di salah satu novelnya berjudul Vapor. Amanda menyatakan secara tidak langsung bahwa hal penting dalam hubungan manusia adalah fleksibilitas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita susah untuk berinteraksi dengan orang lain, mungkin dalam hal membuat teman, berpacaran ataupun dalam hubungan suami-istri. Dan kesulitan itu seringkali terjadi karena karakter diri kita yang terlalu kuat dan tak mau melakukan toleransi dengan karakter lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirsa yang tukang ngobrol (bawel?) tak bisa menjadi fleksibel terhadap Durent. Karakternya sebagai seorang yang tukang ngobrol tak bisa dikurangi dan dia tak bisa mentoleransi kependiamannya Durent. Durent pun tak menjadi fleksibel saat berhadapan dengan Sirsa yang bawel, Durent tetap asik dengan dirinya sendiri, tak bisa mentoleransi Sirsa dengan berusaha menjadi seseorang yang doyan bicara saat berhadapan dengan Sirsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menggambarkan fleksibilitas dalam berhubungan sebagai air. Sebagai air, kita bisa mengalir dari satu titik ke titik lainnya, selama mengalir kita membuat banyak teman. Selama mengalir pula kita mentoleransi perbedaan diri kita dengan orang lain. Misalnya Sirsa adalah air berwarna biru dan Durent adalah air berwarna pink. Saat mereka mengalir bersama, Sirsa dan Durent saling menyatu menjadi air berwarna ungu. Kadang proses penyatuan ini memakan banyak waktu, dan kadang tak bisa bersatu. Bila demikian halnya, berarti memang tak jodoh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sifat air itu sendiri, kadang kita perlu menjadi es batu (air beku) untuk melindungi diri sendiri, terutama bila berhadapan dengan orang-orang yang kurang baik. Kadang kita perlu menjadi awan yang ‘bisa dilihat tapi sulit untuk ditangkap’ (catch me if you can?). Awan dengan jumlah kadar air yang tinggi juga bisa membuat guntur dan hujan lebat, alias kita boleh kog marah dan berantem dengan teman/kekasih kita. Air juga dapat menjadi kabut yang menghambat penglihatan orang lain, alias, kita –disadari atau tidak- menjadi penghambat bagi orang lain. Air dalam jumlah tertentu juga dapat mematikan api dalam besaran tertentu, alias, kita bisa menjadi pendamai dan meredakan amarah orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc9933;"&gt;&lt;strong&gt;Selamat mencoba menjadi fleksibel !&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/rombengus dan amanda (?) 140904 (tulisan pertama yang ditulis di tempat umum) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578542144863205?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578542144863205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578542144863205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/sirsa-dan-durent.html' title='Sirsa dan Durent'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578536634403630</id><published>2004-09-21T23:48:00.000+07:00</published><updated>2004-09-22T20:01:36.980+07:00</updated><title type='text'>Dicari seorang gadis kampung untuk si Ucok</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ini kisah cinta antara si Ucok dan Zvetonina (Zvety). Keduanya adalah teman-teman saya. Saya sebenarnya bukanlah seorang yang suka njombaling orang, tapi dari dulu si Ucok ini sudah ‘merengek’ minta dikenalin dengan gadis-gadis bule teman saya, kata si Ucok « Sesama orang Batak harus saling membantu » Salah bang ! Sesama manusia harus saling membantu, jangan pandang SARA !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucok ini pria Batak biasa. Dia seorang manajer proyek di sebuah proyek konstruksi di Jerman sana. Nasib si Ucok memang sangat baik, langsung mendapat pekerjaan setamat kuliah (dulu dia kuliah di Jerman juga). Dan karirnya juga meningkat cukup pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Zvety adalah seorang gadis Bulgaria yang jelita. Kata orang-orang kan makin ke timur benua Eropa, makin cantik para perempuannya. Zvety ini kelahiran Sofia, ibukota Bulgaria yang atmosfer kotanya sangat unik, beda dengan kota-kota di Eropa bagian barat. Dulunya Zvety juga kuliah di Jerman dan sekarang bekerja sebagai kepala redaksi sebuah majalah wanita di Jerman.&lt;br /&gt;Ternyata Ucok dan Zvety merasa saling cocok sejak jumpa pertama. Lalu hubungan mereka pun berlanjut ke jenjang pacaran... Setahun kemudian mereka berencana untuk menikah dan mereka mulai disibukkan dengan aneka persiapan untuk pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semakin dekat ke hari H, semakin tampak jelas prinsip-prinsip dasar si Ucok. Ucok mulai menuntut ini-itu dari calon istrinya. Ucok menuntut Zvety untuk menjadi istri yang harus pintar memasak, mengurus anak, mengurus rumah tangga, dan mengurus suami. Zvety tetap diperbolehkan untuk bekerja, tetapi urusan rumah harus diutamakan, dan harus dilakukannya seorang diri... Saat Zvety bertanya kepada Ucok akan perannya kelak sebagai suami dan ayah, Ucok menjawab singkat « Tugas saya bekerja, menghidupi rumah tangga ». Lha, Zvety kan bekerja juga, kenapa harus Zvety ‘seorang diri’ yang kelak mengurus anak, keluarga dan suami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zvety bingung sekali dengan keadaan ini, lalu mengadu ke saya. Saya jelaskan saja padanya bahwa pria bertipe seperti Ucok memang masih dapat dijumpai dengan mudahnya pada pria Indonesia, alias, mayoritas pria Indonesia masih seperti ini (mayoritas, berarti bukan semuanya). Apalagi pria Batak yang umumnya dari kecil diperlakukan sebagai ‘raja’ karena dianggap membawa marga (marga kan sangat penting bagi orang Batak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya bingung juga terhadap si Ucok, dia kan telah cukup lama tinggal di luar negeri dan pendidikannya pun tinggi, tetapi kog pemikirannya terhadap peran istri di rumah tangga masih seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, Zvety dan juga para perempuan yang berpendidikan di Indonesia saat ini memegang teguh kesetaraan dalam berhubungan, baik saat berpacaran maupun menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetaraan dalam rumah tangga konteksnya adalah melakukan urusan rumah tangga secara bersama-sama. Contohnya dalam hal mengurus anak. Mengurus anak bukanlah tugas si istri semata. ‘Membuat’ anak saja dilakukan bersama, kog setelah anaknya lahir segala urusan anak diserahkan pada istri? Apa salahnya bila yang mandiin anak pagi hari si istri dan yang mandiin anak pada malam hari si suami? Kejantanan laki² tak akan menurun kog dengan mandiin anak atau memberi makan bayi. Imej ‘jantan’ bagi seorang pria konon sangat penting, tapi, apa imej itu lebih penting daripada rasa cinta kepada istri dan anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dalam hal mengurus rumah, bukankah lebih adil dan enak bila dikerjakan bersama? Seperti kasus si Ucok dan Zvety di atas, Zvety kan sudah turun tangan dalam urusan cari duit, mustinya si Ucok juga turun tangan dalam mengurus rumah dong... Pembagian kerja bisa dilakukan dengan: misalnya yang bertugas membersihkan bagian kamar tidur, dapur, dan ruang tamu adalah si istri; sementara yang membersihkan kamar mandi, halaman dan garasi adalah si suami. Lalu untuk urusan masak, apa salahnya masak bergantian? Memasak tak membuat pria menjadi banci, buktinya kebanyakan koki terkenal malah pria...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ngurus suami, hal ini bikin saya bingung sendiri... Bukankah suami itu sudah besar dan dewasa, lalu, kenapa perlu diurus? Katanya pria lebih kuat, gagah, perkasa dan jantan daripada perempuan, lalu kenapa si gagah masih perlu diurus? Bukannya hanya si lemah, si manja dan orang yang tak mampu mengurus dirinya sendiri yang perlu diurus? Apakah si Ucok tak cukup kuat dan gagah untuk mengurus dirinya sendiri sehingga Zvety yang lebih pendek dan kurus daripada Ucok perlu turun tangan untuk mengurus Ucok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetaraan yang dituntut Zvety dan para perempuan modern dan berpendidikan di Indonesia ini tak ada kaitannya dengan peran suami sebagai kepala rumah tangga. Kepala rumah tangga itu bukan ‘raja’ yang harus dilayani ini-itu. Pemimpin perusahaan saja terlibat penuh pada urusan perusahaan, dan pimpinan proyek haruslah turun ke proyek. Jadi bila proyek suami-istri saat ini adalah membesarkan anak, harusnya suami yang katanya pemimpin rumah tangga turun tangan membesarkan anak. Dalam proyek membersihkan rumah pun demikian, proyek bersama dikerjakan bersama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kisah si Ucok dan Zvety, saya hanya bisa menyarankan supaya Zvety bersabar dan mencoba bicara dengan si Ucok, siapa tau Ucok mau berubah. Mungkin Ucok akan berubah pelan-pelan selama mereka nikah, yang penting adalah membuat Ucok sadar dan mau berubah (untuk berubah kan perlu niat yang kuat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zvety mendengar nasehat saya dan mencoba membuka pikiran Ucok. Namum setelah berusaha dengan aneka cara, Ucok tak jua sadar dan mau berubah. Akhirnya Ucok dan Zvety harus berpisah karena tak ada kesamaan visi dalam mengoperasikan rumah tangga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa berbuat apa-apa terhadap kejadian berpisahnya mereka. Saya hanya berharap semoga itu memang yang terbaik untuk mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah mereka berpisah, saya bertemu dengan Ucok. Dan padanya saya hanya bisa bilang:&lt;br /&gt;« Status, karir, pendidikan, dan latar belakang kamu bagus sehingga kamu pun mencari perempuan dalam tingkatan yang sejajar dengan kamu. Tetapi perempuan dari tingkatan tersebut bukan lagi tipe gadis jaman dulu yang bersedia dan punya waktu untuk berjuang ‘seorang diri’ untuk membesarkan anak, mengurus rumah dan mengurus suami. Bukan hanya pola pikirnya Zvety saja yang demikian, tetapi para perempuan Indonesia dengan tingkatan yang kamu inginkan juga telah menjadi perempuan hasil perjuangan Kartini yang menuntut kesetaraan dalam rumah tangga... »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melanjutkan:&lt;br /&gt;« Ucok, kamu hanya punya 2 pilihan sekarang: (1) Berubah menjadi pria yang mau berbagi tugas rumah tangga dengan istrinya, atau (2) Cari perempuan yang bersedia memperlakukan kamu sebagai raja. Untuk pilihan ke-2 ini, kamu musti ‘turunkan standar’ perempuan idamanmu. Paling memungkinkan sih dengan mencari gadis di kampung. Tapi, denger-denger gadis-gadis Batak di Samosir udah pada modern juga, tapi siapa tau masih ada yang sisa... »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ucok hanya diam saja dengar ocehan saya. Mudah-mudahan apa yang telah terjadi -kegagalan pernikahannya dengan Zvety- membuat Ucok tersadar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ngomong-ngomong, kapan yah pria-pria bertipe seperti Ucok ini berubah? Dan masih adakah gadis di kampung yang bersedia melayaninya sebagai raja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam emansipasi wanita !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/rombengus, calon tokoh feminis Indonesia? 230804&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: karena Zvety telah menjadi jomblo kembali, ada yang tertarik? Ini anaknya beneran ada, cewe Bulgaria dan tinggal di Berlin. Lho kog gue jadi biro jodoh gini yah? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578536634403630?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578536634403630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578536634403630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/dicari-seorang-gadis-kampung-untuk-si.html' title='Dicari seorang gadis kampung untuk si Ucok'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578529901394728</id><published>2004-09-21T23:47:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:48:19.013+07:00</updated><title type='text'>Maap yah, I don’t speak Indonesian !</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sejak beberapa waktu yang lalu hingga kini, ada fenomena dimana sekelompok orang Indonesia cenderung untuk ber’bilingual-di-waktu-bersamaan’ alias mencampurbaurkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia saat berbicara dengan sesama orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada teman yang mengibaratkan para bilingual campur-aduk ini seperti saluran TV yang korslet. Mustinya saluran 1 berbahasa Indonesia dan saluran 2 berbahasa Inggris, tetapi kedua saluran itu tercampur secara sengaja maupun tak disengaja. Bila tak disengaja, patut kita maklumi. Menyelipkan satu-dua kosa kata bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia kan lumrah. Tetapi bila disengaja, perlu dicari tau sebabnya. Bila orang tersebut ingin menerangkan suatu hal dan hal tersebut lebih pas/klop bila diterangkan dalam bahasa Inggris, secara logika hal ini bisa diterima.  Tetapi adapula orang yang beranggapan dirinya akan tampak ’lebih berpendidikan’ dan ’lebih hebat’ bila dia memasukkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar ber-bilingual korslet itu dapat menunjukkan kesan lebih berpendidikan dan lebih hebat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga orang Indonesia yang enggan berbahasa Indonesia saat bertemu dengan orang Indonesia lainnya. Orang tersebut memilih berbicara dalam bahasa Inggris, meskipun bahasa Indonesia adalah bahasa ibunya dan dia masih fasih berbahasa Indonesia. Ini terjadi baik di luar negeri maupun di dalam negeri.  Yang menjadi pertanyaan untuk kasus ini adalah: apakah orang tersebut enggan berbahasa Indonesia karena ‘malu’ dengan bahasa Indonesia-nya? Atau karena bahasa Indonesia dianggap tak penting di dunia jadi tak usah lagi dipergunakan? Ataukah dia mengalami kesulitan dalam mengganti penggunaan bahasa (kesulitan dalam mengganti saluran bahasa)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita tinjau fenomena orang Indonesia ini dengan keadaan di negeri seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belgia, salah satu negara ‘imut’ di Eropa barat, mengakui secara resmi 3 komunitas masyarakat dalam negerinya: komunitas masyarakat berbahasa Belanda yang terletak di bagian utara Belgia (Flemish), komunitas masyarakat berbahasa Perancis di bagian selatan Belgia (Waloonie), dan komunitas masyarakat berbahasa Jerman di bagian timur (namanya apa yah?). Namun karena jumlah masyarakat berbahasa Jerman itu minim, hanya Flemish dan Waloonie saja yang sering kedengaran gaungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan tersebut membuat orang-orang Belgia berusaha menguasai setidaknya dua bahasa: Belanda dan Perancis (bahasa Inggris mah sudah pasti lah...).  Bila kita melihat lowongan-lowongan pekerjaan yang ada di Belgia, mayoritas menuntut calon pelamarnya menguasai kedua bahasa tersebut.  Well, memang tak semua orang Belgia fasih berbahasa Belanda dan Perancis, tetapi statistik menunjukkan lebih dari 60% orang Flemish bisa bahasa Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, ber-polylingual (atau multi-lingual yang artinya mampu menggunakan beberapa bahasa) adalah hal biasa di Eropa. Keadaan demografi Eropa yang beraneka bahasa itu menuntut masyarakatnya untuk menguasai bahasa-bahasa lainnya selain bahasa ibunya.  Lebih konkret lagi bila kita melihat Uni Eropa (EU) secara keseluruhan. Meskipun 25 negara telah bersatu dalam EU saat ini, tetapi EU tidak memiliki sebuah bahasa pemersatu. Bahasa Inggris bukanlah bahasa pemersatu di EU, sebab bangsa Jerman, Perancis dan Spanyol yang dominan di EU karena jumlah penduduknya yang besar, tak rela bahasanya harus dinomorduakan. Jadi bila ada rapat EU, aneka bahasa dipergunakan secara formal dan melibatkan segenap penterjemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, mari kita lihat si Nele, seorang gadis Flemish (ini nama pasaran untuk seorang gadis Flemish).  Bahasa ibunya adalah bahasa Belanda, lalu dia memperdalam bahasa Perancis dan saat ini Nele bekerja sebagai guru bahasa Perancis di sebuah pusat bahasa. Kemudian Nele berpacaran dengan seorang pria Spanyol dan menggunakan bahasa Spanyol dengan sang kekasih.  Bila di rumah dan saat berbicara dengan keluarganya, Nele berbahasa Belanda. Sore hari saat mengajar, Nele berbahasa Perancis. Malam hari bersama sang kekasih, Nele berbahasa Spanyol.  Dan saat berbicara dengan saya, Nele berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nele merupakan saluran TV yang sempurna, jarang sekali korslet. Saat berbicara dengan saya, bahasa Inggrisnya fasih sekali. Lalu tiba-tiba dia mendapat telepon dari ibunya, dan dia pun bisa ’pindah saluran’ berbahasa Belanda dengan baik. Dan saat menerima telepon dari kekasihnya, Nele kembali ’pindah saluran’ ke bahasa Spanyol.  Saya pernah bertanya apakah dia tidak ribet dengan aneka bahasa tersebut. Nele mengaku sama sekali tidak, hanya ketika ’capai’ saja ada kosa kata dari bahasa-bahasa itu yang saling tertukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke fenomena orang-orang Indonesia yang berbilingual-korslet ataupun yang tak mau lagi berbicara bahasa Indonesia karena ribet kalau musti ganti-ganti bahasa; hal ini bukannya menunjukan bahwa mereka lebih berpendidikan ataupun lebih hebat dari lainnya, tetapi malah menunjukkan ‘kelemahan’ diri mereka sendiri.  ’Lemah’ karena otaknya tak mampu untuk fokus dengan suatu bahasa pada satu waktu dan berpindah ke bahasa lain pada waktu lainnya.  Padahal mereka ini baru menguasai dua bahasa saja -Inggris dan Indonesia- belum polylingual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk mereka yang menganggap bahasa Indonesia sepele dan tak mau lagi mengucapkannya, sekarang ini jamannya ‘bisa aneka bahasa’ alias polylingual. Semakin banyak bahasa yang kita kuasai akan semakin baik. Menguasai aneka bahasa –termasuk bahasa Indonesia- merupakan nilai jual yang tinggi dalam mencari pekerjaan dan membuka kesempatan bagi kita untuk berintegrasi dengan orang lain, termasuk kesempatan untuk mempunyai lebih banyak teman. Jadi alangkah sayangnya bila kita tak mau lagi berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuk, berbahasa Indonesia yang baik dan benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/rombengus 200804&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578529901394728?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578529901394728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578529901394728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/maap-yah-i-dont-speak-indonesian.html' title='Maap yah, I don’t speak Indonesian !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578518754318082</id><published>2004-09-21T23:45:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:46:27.543+07:00</updated><title type='text'>Ada ghetto di Jakarta ?</title><content type='html'>Ini kisah si Wati, kakaknya Budi yang seperti di buku pelajaran membaca saat TK « Ini Budi, ini ibu Budi, dst… ». Wati ini orang Betawi tulen. Dia berasal dari golongan menengah ke bawah dan tinggal di kampung Betawi di Jakarta. Wati hanyalah tamat SMP. Sebenarnya ia ingin melanjutkan ke SMU, tetapi kondisi keuangan keluarga tak memungkinkan untuk itu...  Saat ini, demi membantu perekonomian keluarga, Wati bekerja sebagai penjual tahu goreng di sudut sebuah jalan di Kebayoran Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV adalah sahabat sejati si Wati dan dari TV dia tau aneka hal yang terjadi di dunia, mulai dari olympiade di Athena sampai konser Britney Spears di Tehran (memangnya Britney pernah konser di sana? CD-nya Britney saja gak dijual bebas di Iran).  Lewat media TV pula Wati tau akan kehidupan glamor dari kalangan atas Jakarta. Khusus untuk hal ini, Wati belajar banyak dari sinetron. Meskipun sadar bahwa gaya hidup golongan atas bukanlah bagiannya, tetapi Wati tetap membiarkan mimpi itu hidup di benaknya dan berharap kelak dia bisa merasakan sedikit saja dari impiannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari si Wati ingin sekali merasakan kehidupan elite Jakarta. Dengan nekatnya, dia pergi ke mal Pondok Indah. Saat ingin mencoba sepotong pakaian di Sogo, Wati mendapatkan perlakuan sinis dari seorang mbak SPG (sales person girl) di sana. Sebenernya mbak SPG itu bukanlah orang kaya, bahkan mungkin selevel dengan Wati dalam hal perekonomian domestik. Tetapi seringkali  mbak SPG –dan penjaga toko/stand lainnya- berlagak seperti yang punya toko, kurang ramah dan sangat sombong. Padahal yang punya toko bisa jadi orangnya sangat ramah, tidak seperti para mbak SPG itu... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wati pun sempat diusir saat masuk ke Metro, sebab dia dikira mau meminta-minta disana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Wati melihat warung kopi Starbucks yang ternama dan dengan niat yang besar untuk merasakan kopi kelas atas, Wati memesan segelas es kopi. Saat membayar, Wati kaget bukan main. 15,000 perak hanya untuk segelas kopi!  Wati pun menyesal membeli kopi itu, karena dengan uang sebesar itu empoknya bisa menyiapkan makan siang dan malam untuk seluruh anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pondok Indah, Wati naik bus ke jalan Jendral Sudirman. Karena ingin sekali masuk dan melihat gedung-gedung perkantoran mewah di Jakarta –yang kerap kali dilihatnya di sinetron- Wati pun nekat masuk ke gedung BEJ (bursa efek jakarta).  Di pintu masuk, tas Wati diperiksa, Wati harus mengisi buku tamu, dan diminta KTP-nya untuk ditukar dengan visitor card. Sebenarnya itu adalah pemeriksaan rutin yang sudah merupakan standar gedung perkantoran di Jakarta saat ini, tetapi seringkali para petugas pemeriksaan kurang bersahabat. Sama seperti para mbak SPG tadi, tak jarang para satpam gedung bersikap sombong dan merasa dirinya sebagai yang punya gedung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kisah si Wati, saat naik lift bersama dengan para pekerja kantoran di gedung BEJ, semua orang dalam lift melotot ke arahnya.  Ada pula yang bilang  « Mbak, lift bagian service di sana, ini lift khusus tamu ! » rupanya Wati dikira tukang bersih-bersih gedung (cleaning lady).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menjelang sore, Wati pulang ke rumahnya. Di perjalanan dia berpikir bahwa KTP DKI Jakarta yang dimilikinya tidaklah cukup untuk membuatnya mendapatkan perlakuan yang sama dengan warga Jakarta lainnya... Bila warga Jakarta lainnya bisa bekerja di gedung pencakar langit dan mengakses internet untuk keperluan pribadi serta chatting pada jam kantor, Wati hanya bisa berjualan tahu goreng dan nonton sinetron...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: :: :: :: :: :: :: ::&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dampak dari pembangunan kota modern adalah mengelompokkan masyarakat ke dalam beberapa tingkatan kelas. Dua kelas yang ekstrim terlihat yaitu warga kelas atas (kaya) dan warga kelas bawah (miskin). Masyarakat kelas atas dapat terus hidup dengan nyaman di kota karena umumnya pembangunan kota berpusat pada mereka. Gedung pusat perbelanjaan (mal, plaza), hotel, apartemen, dan gedung perkantoran dibangun untuk mereka. Yang mampu berbelanja di pertokoan mahal dan menginap di hotel mewah kan terbatas pada orang-orang dari golongan menengah ke atas saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan kota membuat masyarakat miskin tersingkir ke bagian pinggir kota atau terjebak ke dalam inner-city ghetto (pengasingan di tengah kota). Ghetto yang terjadi ini memang tidak se-ekstrim ghetto orang-orang Yahudi yang dibuat oleh bangsa Jerman pada jaman Hitler dulu. Tetapi kisah kaum miskin di tengah kota –seperti di Jakarta- cukup memilukan hati....  Anak-anak jalanan yang masih kecil tapi sudah menjadi tukang minta-minta, rumah-rumah gubuk di sepanjang kali Ciliwung, dan kasus Wati yang ditolak di wilayah ’glamor’ Jakarta, hanyalah beberapa potret dari inner-city ghetto di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, banyak pula masyarakat miskin yang tidak berasal dari Jakarta, melainkan pendatang dari daerah lainnya (urbanisasi). Kota modern memang merupakan daya tarik (magnet) bagi orang-orang dari wilayah lainnya. Mereka berdatangan ke kota dengan harapan bisa bekerja dan tinggal di sana, dan mendapatkan kenyamanan kota tersebut. Tetapi ada daya, tak semua harapan bisa menjadi kenyataan... Para pendatang itu bukannya mendapatkan kehidupan yang layak di kota, malah menambah jumlah warga miskin kota dan memperbesar area inner-city ghetto di Jakarta...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian masyarakat Jakarta kesal dengan para pendatang ini, pikir mereka « Ih, orang-orang kampung ini, bikin sesak kota Jakarta aja ! » Well, keadaan ini sebenarnya tak jauh beda dengan anak-anak Jakarta yang datang untuk kuliah dan kemudian menetap di LA (los angeles), pikir masyarakat LA « Ih, anak-anak Jakarta ini, udah lulus bukannya pulang malah menuh-menuhin kota LA aja ! »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena warga miskin di tengah kota ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi di seluruh kota besar di dunia, tak terkecuali di Eropa barat. Jangan heran bila anda menemukan para gembel dan tukang minta-minta nongkrong di kota-kota besar seperti di Amsterdam, London, Brussels, Paris, Milano, dan lainnya.  Pengemis bukan cuman ada di Jakarta !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa tahun yang lalu keadaan ini telah disadari oleh para penata kota dan perancang kota (urban planner dan urban designer). Dan saat ini mereka sangat berhati-hati dalam mengembangkan kota terutama dalam kaitannya dengan isu sosial. Para akedemisi dari Université de Liège di Belgia juga menyatakan bahwa isu di bidang tata kota saat ini berkaitan erat dengan masalah-masalah sosial, bukan masalah teknologi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kasus ‘pengasingan’ di kota Jakarta tercinta, ada seorang anak Indonesia di sebuah milis (saya lupa milis yang mana) yang mengajak kita untuk membantu para warga miskin tersebut. Cara membantunya bukan dengan memberi sedekah secara cuma-cuma, tetapi dengan cara seperti:&lt;br /&gt;Seminggu sekali membeli jajanan yang lewat di depan rumah (jangan makan di McDonald melulu)&lt;br /&gt;Seminggu sekali tidak naik mobil ke kantor tetapi naik kendaraan umum (uang untuk membeli bensin bisa langsung masuk ke kantong supir dan kernet bus)&lt;br /&gt;Beli sayur jangan di supermarket tetapi dari tukang sayur yang lewat depan rumah (uangnya bisa langsung masuk ke tukang sayur)&lt;br /&gt;Beli majalah atau koran jangan di supermarket atau di toko buku besar, tetapi di kios pinggir jalan (uangnya langsung masuk ke tukang koran)&lt;br /&gt;Dst...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah banyak pula organisasi sosial yang turun tangan langsung membantu anak-anak jalanan dengan memberikan pendidikan bagi mereka. Perbuatan ini sungguh mulia, karena bagaimanapun juga anak-anak jalanan itu adalah anak Indonesia, masa depan bangsa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lainnya adalah dengan menghindari warga desa berdatangan ke kota (mencegah urbanisasi). Sebelum mereka datang ke kota, kita bisa bantu anak-anak di desa tersebut, misalnya dengan menjadi orang tua asuh. Dengan menyisihkan sebagian kecil dari penghasilan per-bulan, kita bisa membantu menyekolahkan anak-anak miskin di desa-desa. Menjadi donatur di Wahana Visi Indonesia (World Vision) dan Unicef/Unesco adalah perbuatan indah yang bisa kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari inner-city ghetto di Gent,&lt;br /&gt;/rombengus 150804&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578518754318082?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578518754318082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578518754318082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/ada-ghetto-di-jakarta.html' title='Ada ghetto di Jakarta ?'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578510738830530</id><published>2004-09-21T23:43:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:45:07.386+07:00</updated><title type='text'>Jeri yang tak mau kalah</title><content type='html'>Karena banyak yang terpesona dengan Philomena, saya pun tertarik untuk menuliskan kisah mbakyu satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu Philo bertemu dengan seorang pria Indonesia bernama Jeri di dalam penerbangan menuju Jakarta. Philomena pulang kampung ? Dia sedang berlibur, bertemu keluarga ayahnya di Menado sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui bahwa Philo adalah gadis Indonesia dan melihat kecantikan Philo, Jeri langsung jatuh suka pada Philo. Dan tanpa membuang waktu, detik itu juga Jeri mulai pendekatan (pdkt) dengan Philo…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal pdkt, Jeri ini melulu ‘tak mau kalah’ dari Philo… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saat Philo berkata bahwa dia ingin sekali mengikuti kursus melukis, dengan tak mau kalah Jeri berkata bahwa sedari dulu ia ingin belajar melukis tetapi belum sempat. Jeri juga bilang bahwa dia sebenernya sangat berbakat melukis, bla bla bla…  Awalnya Philo merasa sikap Jeri ini wajar. Pria kan katanya memang suka ber-bullshit-ria?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, ketika Philo berkata bahwa Philo suka sekali traveling, dengan tak mau kalah Jeri bercerita panjang lebar bahwa dia telah traveling mengelilingi dunia. Dan dengan ingin memberi kesan bahwa dirinya adalah seorang yang ‘berbudi pekerti luhur’, Jeri menceritakan penderitaan anak² di Afrika saat ia berkunjung ke sana. Dengan senyumnya yang khas, Philo mengaku bahwa dia pernah bekerja volunteer di Uganda untuk membantu anak² di sana, alias, Philo bukan sekedar traveling ke Afrika…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Jeri memerah...  Tetapi Jeri ‘tetap tak mau kalah’ dengan berkata bahwa dia rajin membantu orang² yang kesusahan.  Philo hanya tersenyum saja, dalam hati Philo mulai membaca gelagat si Jeri yang tak mau kalah ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Philo sengaja ‘mengetes’ Jeri, sebab Jeri ini tampaknya seorang yang text-book minded. Semua pikiran dan pendapat yang diucapkan Jeri hanyalah berdasarkan teori/pendapat orang lain dan bukan pendapat pribadi.  Philo mengajak Jeri membahas tentang ‘Bagaimana pengaruh teknologi terhadap kualitas dan kuantitas senyum seseorang?’. Apakah dengan adanya semantic-web orang² akan lebih sering tersenyum? Apakah ponsel anda yang super canggih membuat anda tersenyum dobel dan lebih lebar dibanding dengan orang yang berponsel sederhana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeri tak bisa berkata apa² terhadap topik diskusi yang diberikan Philo.  Padahal topik tersebut hanyalah topik diskusi sederhana untuk level Philo. Philo memang terkenal ajaib dalam berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena malu tak bisa menjawab pertanyaan Philo, Jeri  mengelak –tetapi tetap dengan cara yang tak mau mengalah- dengan memberitahu Philo bahwa dia adalah seorang pengacara tamatan Harvard. Jeri sengaja berhenti sejenak saat berkata « Harvard » dia ingin melihat keterpesonaan di wajah Philo. Tetapi Philo tak terpesona sedikitpun, dia hanya senyum saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philo tak terkesima mendengar Jeri tamatan Harvard, karena di satu sisi Philo telah terbiasa dengan budaya Eropa yang mengganggap Amerika hanyalah sebuah negara seperti negara² kebanyakan, dan bukanlah negara nomor satu di dunia.  Dan orang Eropa memegang kuat sejarah bahwa yang membangun Amerika adalah orang² Eropa sendiri. Yang membangun Harvard, MIT, dsb itu kan orang² Inggris (dari Cambridge).  Selain itu, bentuk jalan model grid (sistem blok) yang dibangun di segenap Amerika juga merupakan hasil karya para urban designer Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Philo bukanlah seorang yang maniak dengan ‘status diri’.  Philo paling kesal dengan orang² yang kelewat bangga dengan almamaternya, karirnya, perusahaan tempatnya bekerja, dsb.  Philo tak memandang pengacara tamatan Harvard sebagai seseorang yang lebih hebat daripada pengacara tamatan Trisakti. Bagi Philo, ‘yang diperbuat’ adalah lebih utama daripada gelar yang dimiliki…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Philo mengira perjalanannya ke Jakarta akan menyenangkan, tetapi pertemuannya dengan Jeri malah membuatnya bete L. Philo ingin pindah tempat duduk, tapi gak enak dengan Jeri.  Bila didiamkan, apa Philo bisa tahan terbang 12 jam dengan keadaan seperti ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Philo buka kartu ke Jeri. Dengan pelan dan santai Philo ceritakan tentang dirinya, pekerjaannya, keluarganya; dan secara tak langsung Philo pun memberi tahu bahwa Philo telah memiliki seorang kekasih bernama Calvin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philo sebenernya bukan tipikal wanita yang mau buka kartu menunjukkan dirinya yang sebenarnya, Philo terbiasa untuk bersikap low-profile. Tetapi keadaan tak memungkinkan Philo untuk terus diam dan tersenyum…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[][][][][]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekelompok pria bertipe seperti Jeri. Mereka ini sejak pdkt fokusnya bukan pada si wanita yang di-pdkt-in, tetapi pada ‘meletakkan posisi’ diri mereka sebagai pria terhadap si wanita. Mereka sibuk dengan prinsip diri bahwa pria haruslah lebih hebat daripada wanita. Dan saking sibuknya dengan meletakkan posisi tersebut, mereka lupa mencari tau tentang si wanita dan lupa akan konteks cinta itu sendiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh pria tipe Jeri adalah mereka tidak terlebih dahulu mencari tahu tentang si wanita. Jeri langsung main hantam pasang kuda² posisi terhadap Philo tanpa terlebih dulu mencari tahu tentang latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman, pola pikir, pandangan hidup dan karakter Philo.  Jeri menganggap bahwa Philo pastilah gadis Indonesia ‘biasa’ yang cantik.  Bila tinggal di Jakarta pastilah Philo menjadi seorang model yang taunya belanja barang² mewah di Sogo, dan dugem di café/diskotek setiap malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria bertipe Jeri ini bertolak-belakang dengan pria bertipe Calvin. Lepas dari hal nationality dan SARA, sejak pendekatan Calvin sangat fokus pada Philo, pada si wanita.  Misalnya ketika Philo cerita bahwa dia ingin ikut kursus melukis, Calvin membahas soal tipe² lukisan dan upaya mencari tahu bakat Philo ke tipe lukisan seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calvin sama sekali tak membandingkan Philo dengan dirinya. Calvin tak perduli sebagai pria posisinya harus di atas Philo, menurut Calvin « Cinta mah bukan posisi atas-bawah atuh...  Kalo cewe gue hebat, kan gue sendiri yang bangga.  Lagian masa sampe nikah mo saing²an terus ma istri? Bukankah saat nikah istri dan suami udah jadi satu? »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, tidak sedikit kasus dimana mau usaha segimanapun si pria, si wanita memang lebih unggul dari si pria.  Dan bila demikian keadaannya, apakah si pria  mundur dan gak jadi pdkt karena merasa kalah dari si wanita? Cinta kan bukan menang-kalah?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal saing²an ini pun berlaku dalam hubungan pertemanan, keluarga, rekan di kantor, dsb.  Ada sebagian orang yang gak mau kalah dengan temannya. Segala sesuatunya ‘diadu’ dan dia ‘harus lebih hebat’ dari temannya. Mulai dari adu cangih²an ponsel, adu cakep²an calon gebetan (belon jadi apa² lho, masih calon gebetan), sampe adu jabatan, gaji, mobil, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo dipikir, mau sampe kapan sih saing²an? Mungkin mempunyai mobil paling mewah dan canggih dari rekan² sekantor bisa jadi kepuasan tersendiri. Tapi, -seperti topik diskusinya Philo di atas- apakah mobil anda tersebut bisa membuat kualitas dan kuantitas senyum anda meningkat dan lebih tinggi dibanding rekan sekantor anda yang mobilnya Kijang butut tahun 80-an?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teori, bersaing itu penting untuk beberapa bidang seperti bisnis dan dapat memacu kita untuk lebih giat lagi berusaha. Tetapi dalam hal berteman, berpacaran, menikah, hubungan keluarga, dsb, gak usahlah saing²an... Saing²an malah bisa bikin pertemanan jadi rusak. Buktinya Philo yang demikian sabar saja gak tahan dengan Jeri.  Teman/gebetan kita pun bisa saja lari meninggalkan kita akibat sifat suka saing²an ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar hal saing²an ini, ada saatnya dimana kita harus menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, tentu saja tidak dengan cara dan maksud yang sombong.  Seperti si Philo yang akhirnya buka kartu tentang dirinya karena kepepet...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;/rombengus yang paling hebat sedunia, dalam dunianya sendiri 210704&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Yang suka saing²an ini bukan hanya pria lho, banyak pula wanita yang suka saing²an. Tapi untuk konteks hubungan cinta seperti pacaran dan nikah, wanita kagak suka saing²an dengan pasangannya...&lt;br /&gt;Philomena ada di Indonesia oiy! Hayo bikin jumpa pers sana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578510738830530?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578510738830530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578510738830530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/jeri-yang-tak-mau-kalah.html' title='Jeri yang tak mau kalah'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578500936549363</id><published>2004-09-21T23:42:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:43:29.366+07:00</updated><title type='text'>Konsultan di waroeng kopi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Masih ingat dengan Philomena (Philo), gadis keturunan Indonesia-Italia yang tempo hari dikejar-kejar pria Bangladesh dan Pakistan? Dia memang seorang gadis yang menawan, bukan hanya cantik dan berkepribadian menarik, tetapi juga memiliki misi yang berbeda dari gadis seusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kali bertemu dengannya, Philomena mengaku bahwa dia bekerja di jalan via della Moscova 18 di pusat kota Milan. Saat saya tanya pekerjaannya, dia menjawab bahwa pekerjaannya adalah ‘membantu klien’.  Dan saya pun mengira bahwa dia seorang customer service...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya saya nyasar di Milan dan tak sengaja saya melewati alamat yang diberikan Philo, dan saya pun tau bahwa dia bekerja di the Boston Consulting, salah satu kantor konsultan top di dunia. Sorenya saya bertemu Philo lagi dan akhirnya dia pun mengaku bahwa dia seorang konsultan senior di Boston Consulting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karir Philo memang luar biasa untuk gadis berusia 25 tahun. Tetapi yang lebih menawan lagi, sikap low profile-nya...  Biasanya kan eksekutif muda langsung menyebutkan jabatan mereka, serta memberikan kartu nama saat berkenalan.  Bagi Philo, kartu nama bisnis hanyalah untuk urusan bisnis. Saat memberikan nomor teleponnya ke saya, dia menuliskannya di secarik sobekan kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya sikapnya saja yang low profile, tetapi gaya hidup Philo pun sederhana. Di summer seperti ini, busana kantornya cukup kemeja dan celana panjang atau rok berbahan katun. Sehari² dia pun naik sepeda ke kantor.  Konsultan senior naik sepeda???  Yep! Meskipun dapat jatah sebuah mobil sedan sport mewah asal Italia (pada tau kan mobil sport Italia itu oke banget?) Philo memilih naik sepeda... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya tanya apakah dia tidak malu sebagai konsultan senior tetapi naik sepeda, Philo malah tertawa lebar « Malu? Kenapa harus malu? Saya kan pakai baju... »  Bagi seorang Philo, status sosialnya tidaklah diukur dari mobil, rumah ataupun barang² mewah yang dimilikinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya Philo bekerja full-time, sekarang dia bekerja part-time dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang.  Dia memilih bekerja part-time karena alasan volume kerja yang berlebihan bila ia bekerja full-time. Namun demikian, dengan bekerja part-time gaji Philo berkurang 1/3nya; tetapi, well, gaji tak selalu yang terutama dalam hidup toch? Lagipula dia lebih suka nongkrong di waroeng kopi langganannya di sore hari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung kopi-nya itu mirip dengan Starbucks tetapi bukan Starbucks. Di warung kopi, biasanya Philo duduk sebentar di meja bar, memesan secangkir cappuccino kegemarannya dan dia pun memandang sekeliling ruangan. Dia mencari ’mangsa’...  Setelah menemukan mangsanya, Philo nyamperin sang mangsa tersebut. Orang itu –sang mangsa- diajak ngobrol olehnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja Philo tinggal di Italia yang masyarakatnya terkenal ramah dan mau berintegrasi dengan orang asing (asing di sini pengertiannya adalah pendatang dari negara lain dan juga orang lokal yang belum dikenal). Philo tak mungkin bisa melakukan itu –ngajak ngobrol orang sekenanya- di Belgia, karena orang Belgia bakal langsung antipati dan berpikiran « Ngapain nih orang ngajakin gue ngobrol ? Mau apa dia dari gue ? » Maklum, orang Belgia kan terkenal ogah berintegrasi dengan orang asing.  Mereka lebih suka -dan merasa cukup- hidup dengan keluarga dan beberapa teman, alias live-within-a-box lifestyle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan Philo dengan orang yang baru dikenalnya bermulai dari percakapan mengenai kejadian terkini seperti balapan sepeda Tour de France, kemudian ke obrolan tentang hidup sehari² seperti susahnya mencari pekerjaan sekarang ini, lalu berlanjut ke obrolan yang lebih mendalam yaitu mengenai permasalahan orang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philo senang sekali mendengar keluh kesah orang. Dia mendengarkan keluh kesah yang disampaikan hingga tuntas, dia tak pernah memotong pembicaraan dengan aneka komentar. Well, Philo memang pendengar yang baik… Melihat wajahnya yang serius saat menyimak ocehan kita saja sudah membuat hati tenang.  Jaman sekarang kan susah sekali mencari pendengar yang baik.  Pola pikir ’I know everything’ membuat manusia modern merasa dirinya yang paling tahu dan cepat mengeluarkan komentar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diminta ataupun bila diperlukan, baru Philo buka suara. Tetapi dia tak langsung menyogoki orang tersebut dengan aneka nasehat melainkan memberi dukungan berupa parable (perumpamaan) dari kasus serupa. Philo bukan tipe militer yang setiap perkataan atasan adalah perintah, tetapi dia mengajak kliennya berpikir dan kemudian membiarkan kliennya mengambil keputusan sendiri. Tindakan pendewasaan klien?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan orang, kesuksesan diukur dari tingkatan karir, kekayaan ataupun keluarganya. Bagi Philomena sebagai seorang konsultan di warung kopi, dia merasa sukses bila dia bisa berbuat sesuatu untuk orang lain. Sekedar bantuan kecil yang bisa membuat orang tersebut menjadi lebih bahagia dan lebih baik keadaannya.  Dalam hal ini, menjadi pendengar yang baik sudah merupakan perbuatan yang berarti untuk orang lain...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philo tak bercita-cita muluk ingin mengubah dunia, sebab dunia memang tak bisa diubah secara makro...  Dari sananya dunia sudah bulat, dan bagaimana mungkin seorang Philomena bisa mengubahnya menjadi kubus? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Philo bertindak secara mikro, dia bergerak person-by-person. Dia berpikir global, bertindak lokal...  Dan karena hanya klien dari perusahan² besar yang mampu membayarnya untuk menjadi konsultan resmi/formal di Boston Consulting, Philo pun menjadi konsultan di warung kopi yang sifatnya non-formal dan personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philo memilih warung kopi bukan karena ikut²an trend. Well, di Eropa sendiri warung kopi adalah hal yang biasa, kira² seperti warteg di Indonesia. Dan warung kopi adalah tempat yang tepat untuk mengobrol karena suara musiknya pelan, suasananya santai dan harga kopinya terjangkau. Jadi ‘warung kopi’nya jangan dijadiin patokan, sebab tempat, tools dan media yang digunakan bisa saja berbeda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda berpendapat bahwa kisah Philomena ini hanyalah kisah fiktif belaka, karena tak mungkin jaman sekarang masih ada orang bak malaikat. Mana ada orang jaman sekarang yang memilih kerja paruh waktu dan gajinya berkurang cuman buat dengerin ocehan orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, pendapat anda keliru...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada kog sejumlah Philomena hidup di masyarakat kita. Masih ada orang-orang ber-idealisme tinggi dan memiliki misi untuk dunia. Mereka melihat, memikirkan dan membantu sesama, bukan sekedar bekerja dan mengejar karir pribadi.  Dan belum terlambat untuk anda bergabung dengan mereka itu... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thus, can I say to you &lt;strong&gt;« Welcome to the club? »&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/rombengus, konsultan bawah tanah yang ogah ngetop... 100704&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Ada yang naksir dengan Philomena? Saya punya nomor telponnya J &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578500936549363?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578500936549363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578500936549363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/konsultan-di-waroeng-kopi.html' title='Konsultan di waroeng kopi'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578492364804415</id><published>2004-09-21T23:39:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:42:03.650+07:00</updated><title type='text'>Cari yang cakep ah ! </title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kenal dengan Philomena ? Dia gadis Indonesia keturunan Italia yang saat ini bermukim di Milan, Italia. Belakangan ini Philo dikejar banyak pria Bangladesh dan Pakistan yang ada di Milan. Pria² Asia yang mengejarnya itu ada yang statusnya masih mahasiswa sampai dengan businessman. Philo sempat bingung kenapa para pria itu mengejarnya, dan mengapa dari spesifik ras saja? Kenapa tidak semua pria –tanpa ras tertentu- yang mengejarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran, Philo pun bertanya ke pria Bangladesh ke-5 yang menyatakan cinta padanya.  Dan pria Bangla itu akhirnya buka kartu, dia bilang bahwa dia jatuh cinta dengan Philo karena Philo adalah gadis Asia yang putih dan cantik… Barulah Philo tau bahwa fisik campuran Indonesia-Italia-nya yang membuat para pria Bangla dan Pakistan itu kelepek²....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Philo menikmati proses pengejaran itu. Dia pun membayangkan seandainya dia datang ke negri Bangladesh atau Pakistan. Saat turun dari pesawat, Philo kan disambut dengan karpet merah, dan para pria disana langsung pada jatuh pingsan.  Mirip dengan kisah para gadis remaja yang jatuh pingsan saat menyaksikan konser boy-band pujaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akhirnya Philo merasa capek dikejar. Dan dia mengaku ke para pria itu bahwa dia telah mempunyai seorang kekasih, seorang pemuda berkebangsaan Jerman bernama Calvin... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pria Bangladesh dan Pakistan itu marah² saat cintanya ditolak. Mereka menuduh bahwa Philo menolak cinta mereka karena mereka itu berkulit coklat gosong, jelek, dekil dan pendek; sementara Calvin –pria Jerman itu- adalah tampan, tinggi dan gagah…  Philo menjadi bingung, bukankah yang mencari pasangan berdasarkan fisik adalah para pria Bangla dan Pakistan itu, kenapa sekarang Philo yang dituduh demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal mencari pasangan, masyarakat seringkali mengidentikkan wanita sebagai cewe matre (materialistis) dimana wanita maunya mendapatkan pasangan yang kaya untuk bisa hidup nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, pria itu identik dengan lookism, mencari wanita yang cantik untuk menjadi pasangan hidupnya… Pria lookism ini tidaklah sepopuler cewe matre, sebab belum ada wanita yang teriak² « Cowo lookism, cowo lookism, gak ada otaknyé ! » seperti di lagu cewe matre « Cewe matre, cewe matre, gak ada otaknyé ! Ke laut ajé ! » &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan pria sedari kecil otaknya sudah diprogres demikian: Pria itu harus sukses dalam karir, kaya, dan kemudian mencari wanita cantik untuk diperistri.  Bukankah ini pola pikir standard bagi para pria ? Bila demikian, bukankah pria sendiri yang memulai adanya lookism?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi seksualitas, konon pria mendapatkan gairah dari ‘penglihatan’nya. Pria melihat wanita cantik, kemudian membayangkan dirinya bersama wanita tsb, dan…  (silahkan isi sendiri titik²nya).  Seorang novelis Inggris mendukung kuat teori tsb  « We don’t need a phalanx of behavioral scientist to explain why men judge women by their looks. Because they see better than they think… »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering saya dengar bahwa pria ingin mencari istri cantik untuk memperbaiki keturunan. Well, mungkin menikahi wanita cantik memang bisa memperbaiki keturunan, tetapi bila anak mereka malah mirip dengan ayahnya, bukankah justru akan memperburuk keturunan bagi si wanita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ada seorang teman –pria- yang pernah diskusi dengan saya « Gimana yah kalo nanti istri gue jadi tua dan keriput, kan dia bakal gak enak dilihat lagi … »  Saya jawab « Elo sendiri juga bakalan tua, peyot², ubanan, gak gagah lagi, pake tongkat, dsb. Istri elo juga bakal gak enak ngeliat elo… kesian juga kan istri elo? »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, sama seperti adanya cowo matre selain cewe matre, tidak sedikit pula keberadaan wanita lookism di masyarakat. Seorang teman –wanita- menyatakan ogah menikah dengan pria jelek. Dia mengandaikan bila dia menikah dengan pria jelek, kelak setiap bangun pagi dia akan kaget  « Ya ampun, kamu siapa?! Kamu jelek banget!! Kamu siapa?! » pas sadar bahwa pria jelek di sampingnya adalah suaminya sendiri  « Eh, mas… ma’ap mas… »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri terus terang memilih kekasih yang cakep, sebab saya suka memandangi kekasih saya sebagai suatu karya ciptaan yang indah, dan bila dia-nya jelek, yang ada gue bakal celingukan kiri-kanan bukannya ngeliatin dia. Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teori, lookism adalah paham/cara memandang seseorang dari penampilannya (Discrimination or prejudice against people based on their appearance). Lookism tidak hanya sebatas wajah, tapi termasuk tubuh secara keseluruhan dan juga penampilan (cara berpakaian). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya para wanita sadar akan hal lookism ini dan mereka cenderung khawatir akan penampilannya.  Para wanita panik bila berat tubuhnya naik.  Padahal seharusnya para wanita itu tak perlu terlalu memusingkan berat badannya, sebab survey membuktikan bahwa dari 3 juta wanita di dunia hanya 6 orang yang bertubuh seperti super model.  Para wanita pun panik saat keriput datang, sehingga mereka berburu kosmetika yang ampuh untuk menghilangkan keriput di wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, lookism tak hanya berlaku dalam hal mencari pasangan, tetapi juga dalam hidup sehari². Misalnya dalam hal mencari pekerjaan. Bila ada dua orang mempunyai kualifikasi yang sama, yang dipilih untuk menjadi karyawan umumnya adalah yang cakepan… Dan untuk posisi tertentu seperti PR, marketing, pramugari/a (pekerjaan yang berhubungan langsung dengan customer) umumnya dipilih orang yang fisiknya menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang² cakep pun seringkali mendapat perlakuan lebih baik. Seandainya datang Sophia Latjuba yang cantik dan si Bejo yang jelek dan dekil untuk meminta bantuan dari anda, siapakah yang anda tolong lebih dulu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para expert di bidang ini juga telah membuktikan bahwa orang² cakep punya kehidupan yang lebih baik daripada orang² jelek. Hal ini terjadi karena perlakuan istimewa yg diberikan masyrakat –secara langsung maupun tidak langsung- kepada orang² cakep tsb, orang² berfisik baik pada umumnya lebih dicintai dan bisa lebih sukses dibandingkan orang² yang jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu hal lagi yang menarik, masyarakat seringkali ribut dengan racism, sexism, materialism, dsb; padahal tanpa disadari, justru lookism adalah yang paling dominan… Dan masyarakat tampaknya pasrah saja dengan lookism ini tanpa berusaha untuk mengubah keadaan… mungkin karena this is the men’s world sementara pria masih juga sangat terikat dengan lookism?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;Beauty may only be skin deep, but ugly goes right down to the bone...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;/rombengus yang cakep dan kekasihnya pun cakep 060704&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;-     Kesuksesan tidaklah bergantung pada kesempurnaan tubuh. Beethoven itu tuli, John Milton itu buta dan Stephen Hawking hidup di atas kursi roda. Tapi toch mereka bisa menghasilkan karya yang demikian indahnya…&lt;br /&gt;-     Banyak juga kog pria tampan menikahi wanita gendut, atau wanita cantik menikahi pria jelek. Sama seperti banyak pula wanita menikah dengan pria sederhana&lt;br /&gt;-     Terinspirasi dari novel Nip ‘n’ tuck karya Kathy Lette&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578492364804415?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578492364804415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578492364804415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/cari-yang-cakep-ah.html' title='Cari yang cakep ah ! '/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578475334636919</id><published>2004-09-21T23:38:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:39:13.346+07:00</updated><title type='text'>Profesor bajaj !</title><content type='html'>Ada seorang Joko, pria asal Mojokerto. Sejak kecil si Joko ini memang terkenal pintar dan selalu dipuji kepintarannya, baik oleh keluarga, teman maupun guru²nya.  Waktu SD dia loncat kelas 2x, kemudian masuk SMP terbaik di Mojokerto, lalu masuk SMAN 8 Jakarta (smandel) yang katanya SMA terbaik di Indonesia (masih?).  Kemudian dengan ‘gampang’nya Joko masuk Teknik Mesin UI. Well, ini bukan hal yang luar biasa bagi anak smandel, konon 80-90% tamatan smandel masuk PTN (masih??).   Saking cerdasnya Joko mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi s2 dan s3, dan karena dia sangat berminat akan bajaj –kendaraan roda tiga asal India- dia pun melanjutkan kuliahnya di India.  Prestasi akademis Joko memang luar biasa, seiring itu pula pujian dan sanjungan akan kepintaran selalu masuk telinganya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu Joko dinobatkan menjadi profesor di bidang bajaj di sebuah universitas teknik di Bombay (tau Bollywood? ‘B’-nya itu dari kata Bombay: Bombay Film Industry). Joko bangga sekali menjadi profesor di usianya yang masih sangat belia, keluarga dan teman²nya pun sangat bangga. Dan, lagi², aneka pujian serta sanjungan indah akan kepintarannya masuk ke telinganya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Joko sang profesor bajaj pulang ke Mojokerto, menjenguk eyangnya. Kemudian dia pun ke Jakarta, mengunjungi UI almamaternya dan juga smandel tercinta. Joko naik kereta ke Depok, dan sepanjang perjalanan dia melulu komplain dengan kehidupan Jakarta dan sistemnya yang ribet dan memprihatinkan. Well, keadaan di Bombay juga masih jauh dari sempurna, tetapi selalu saja ladang tetangga lebih indah dari ladang sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari stasiun Tebet, Joko naik bajaj ke smandel yang lokasinya di Bukit Duri-Manggarai. Sepanjang perjalanan, meskipun suasana sudah berisik dengan mesin bajaj, Joko tetap berceloteh ria dengan si tukang bajaj. Sesampainya di Bukit Duri, si tukang bajaj menegur Joko, meminta supaya Joko berusaha untuk tidak muncrat² (ludahnya) bila bicara. Si Joko ini memang punya kebiasaan ludahnya muncrat² saat bicara, dan dia telah membasahi bagian belakang baju si tukang bajaj karena sepanjang perjalanan dia bicara terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat si tukang bajaj itu baik, karena bicara dengan ludah muncrat² kan kurang menyenangkan terhadap lawan bicara... Tetapi Joko berang sekali ditegur demikian. Belum pernah ada orang yang menegurnya sedemikian rupa seumur hidupnya. Apalagi yang menegurnya hanyalah seorang tukang bajaj!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mimik wajah yang merah padam, Joko marah terhadap tukang bajaj itu « Heh, tukang bajaj! Kamu itu taunya apa sih? Kamu kan cuman tukang bajaj doang, saya itu &lt;strong&gt;PROFESOR!!!&lt;/strong&gt; Saya profesor di bidang bajaj ! Saya mendalami bajaj selama 15 tahun.  Untuk per-bajaj-an aja saya jauh lebih ahli dibanding kamu, kog kamu sok nasehatin saya tentang cara bicara yang baik? Kamu tau apa soal cara bicara yang baik? »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang bajaj ketakutan melihat reaksi Joko itu, dia hanya berani bilang « Maaf pak, saya memang bukan orang sekolahan, saya hanya tukang bajaj yang sudah 30 tahun narik bajaj. Saya hanya melihat kebiasaan bapak yang bicara dengan ludah muncrat² itu sebagai sesuatu yang kurang baik. Bila bapak bisa memperbaiki, bukankah akan lebih baik buat bapak sendiri? »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda apa candu manusia modern? Pujian dan sanjungan....  Manusia modern terbiasa dipuji sejak kecil, dipuji karena pintar, cantik, baik, sopan, jago masak, jago main biola, dsb.  Bila tak ada yang memuji, rasanya seperti lapo tuak tanpa sangsang atau restoran padang tanpa rendang. Tidak klop... ada sesuatu yang kurang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keterikatan dengan candu pujian, manusia modern pun susah untuk dikritik ataupun menerima kritikan, apalagi bila yang mengkritik adalah orang yang posisi atau backgroundnya lebih rendah darinya. Orang tersebut dianggap tidak pantas untuk menasehatinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada aneka argumen kenapa manusia modern menolak untuk dikritik ataupun dinasehati. Ada yang memakai pepatah ‘kutu di kepala orang eskimo yang nun jauh di kutub utara tampak jelas, sementara beruang di depan mata sendiri gak keliatan’ (pepatah aslinya gimana sih?).  Well, gak ada orang yang sempurna dan setiap orang tak akan pernah menjadi sempurna.  Bila kita menunggu sampai diri kita sempurna (beruang di depan mata hilang), berarti tidak akan pernah ada nasehat di dunia. Seorang ayah tidak bisa menasehati anaknya karena kadang dia masih suka bohong terhadap istrinya. Seorang ibu pun sama saja keadaannya. Kesian bener kan anaknya yang tak akan pernah mendapat nasihat dari ortu-nya?  Dan bila kita hanya sibuk dengan beruang di depan mata sendiri tanpa perduli dengan lainnya, berarti kita orang yang egois... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula argumen ‘jangan menghakimi orang lain’.  Dari segi linguistik, definisi menghakimi itu sangat berbeda dengan definisi menasehati ataupun mengkritik. Dan umumnya teguran tidak bersifat menghakimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang lainnya, mereka memilih diam, tidak menegur ataupun menasehati demi menjaga tali silaturahmi alias takut merusak hubungan baik. Bila demikian halnya, berarti kita tidak berusaha menjadi teman yang baik untuk orang itu. Sebab teman yang baik akan memberi tau apa yang lebih baik untuk temannya, meskipun itu menyakitkan untuk dia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda termasuk pecandu pujian dan sanjungan? Bila hari ini anda dikritik atasan anda atau ditegur tukang parkir, apakah anda langsung ngambek, marah dan lari (termasuk lari dari pekerjaan alias berenti kerja)?  Bila anda termasuk pecandu pujian dan sanjungan, coba deh keluar dari candu itu pelan²...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eits, marah nih gue nasehatin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam candu !&lt;br /&gt;/rombengus, profesor musik dangdut berbahasa perancis 130604&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:  Tulisan ini terinspirasi dari artikelnya Alex Dirjo S.J. Ironisnya , teman yang ngasih artikel itu sekarang ini malah musuhin saya karena saya tegur....&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578475334636919?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578475334636919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578475334636919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/profesor-bajaj.html' title='Profesor bajaj !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578427169732644</id><published>2004-09-21T23:29:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:31:11.696+07:00</updated><title type='text'>Butet, gadis Batak simpenan Lara Croft</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Alkisah di bagian utara kota London, seorang gadis Batak bernama Butet sedang berjemur bersama Lara Croft di taman belakang kastilnya Lara. Lara Croft ini persis dengan Lara yang di film Tomb Raider, cantik dan bertubuh aduhai... Dia putri seorang bangsawan Inggris, tinggal di kastil besar, lengkap dengan kuda² dan buku² sebagai interior rumah (Lara kan kutu buku, dan karena bukunya uda kebanyakan ya dijadiin interior rumah olehnya). Tetapi Lara yang satu ini tidak jago berantem, melainkan seorang Direktris perusahaan multinasional yang sebagian sahamnya dimiliki keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara si Butet, dia gadis Batak biasa... Fisiknya tidak jelek, tapi tak usahlah dibandingkan dengan si Lara. Kenapa Butet bisa nyasar sampe ke kastilnya Lara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini kisahnya, dua tahun yang lalu Butet terbang ke Portugal (yang summer ini jadi pusat perhatian dunia, ada Piala Eropa euy!) untuk kuliah Master Arsitektur di Lisbon. Butet ini tidak kaya, bukan pula anak orang kaya. Dulu inang dan amang-nya (ibu dan bapak) harus menjual sawah warisan di kampung Samosir demi menyekolahkan Butet ke Portugal. Maklum, bagi keluarga Batak pendidikan anak yang terutama... Orang tua rela makan nasi dan sayur demi menyekolahkan anak²nya.  Untung saja Butet ini cerdas sehingga dia bisa mendapatkan titel Masternya dengan magna cum laude! Hebat bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus, Butet berkeras tidak mau kembali ke tanah air, niatnya ingin bekerja di Portugal. Tapi apa daya Butet tak bisa bahasa Portugis, kuliah Master-nya itu merupakan program internasional dalam bahasa Inggris.  Tetapi Butet ngotot bisa mendapatkan pekerjaan di Portugal –tanpa perlu bisa bahasa lokal.  Maklum, gadis Batak kan terkenal berkarakter kuat dan cenderung keras. Namun setelah setahun berlalu, Butet tak jua mendapatkan pekerjaan disana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya sohibnya kenapa Butet tak mau kembali ke tanah air, jawabnya «  Elo kan tau keadaan Indonesia lagi susah… Gue mana bisa dapet kerja di Indo?  Lagian kalo gue kerja di Indo, paling gaji gue cuman berapa ??? »  Padahal kenyataannya teman² Butet -seperti temen SMA dan temen kuliah s1nya- pada bekerja dengan layak di Indonesia. Termasuk si Ucok asal Tarutung yang dulu mengejarnya habis²an, Ucok sekarang junior konsultan di kantor konsultan ternama McKensey di Jakarta. Perkara gaji, memang gajinya Ucok sedikit lebih kecil daripada pendapatan Butet yang dulu pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran Thailand di Lisbon. Tetapi bila dilihat dari segi future-nya, CV-nya Ucok sebagai junior konsultan akan lebih indah daripada CV-nya Butet sebagai pelayan resto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diingatkan temannya akan hal idelisme seperti bangun negri Indonesia tercinta dan bangun kampung Samosir, Butet berkomentar keras « Elo sendiri gimana? Udah elo bangun tuh Indonesia?  Gimana kita bisa bangun negri kalo Pemerintahnya aja masih makanin duit rakyat? Kagak pake acara malu lagi korupsinya ! »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira² setengah tahun yang lalu Butet bertemu Lara via chatting di internet. Dan kemudian si Lara ini jatuh cinta dengan Butet. &lt;strong&gt;JATUH CINTA????&lt;/strong&gt;  YA, Lara yang molek dan cerdas itu ternyata lesbian dan dia jatuh cinta sepenuh hati dengan Butet... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan dengan waktu, Butet semakin lengket dengan Lara, dan akhirnya Lara pun mengajak Butet untuk tinggal bersamanya. Tadinya Butet sempat ragu, tetapi karena ngotot pingin netap di Eropa namun belum jua mendapatkan pekerjaan, dan karena tinggal dengan Lara adalah satu-satunya jalan supaya bisa bertahan di Eropa (untuk urusan ijin tinggal dan alasan finansial), akhirnya Butet pun terbang dan menetap di kastilnya Lara...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kehidupan Butet luar biasa nyaman, mungkin semua gadis-gadis di kampungnya di Samosir akan cemburu melihat keadaan si Butet. Kemana-mana Butet diantar limo yang pintunya kagak bisa diitung jumlahnya (pintu daruratnya banyak banget soalnyaJ). Butet pun mengenakan pakaian² mahal dan bermerk (merk-nya bukan lagi selevel Esprit atau Mexx-nya Belanda; tapi selevel Prada, Dolce, dsb). Butet yang dulu cuman bisa ngiler berdiri di depan toko kamera, sekarang malah mengkoleksi kamera² super canggih: Canon EOS-1DS, NikonD70, Hasselblad H-1, dsb. Maklum, Butet kan arsitek, dan arsitek kebanyakan hobi fotografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butet tak perlu bekerja sedikitpun untuk mendapatkan aneka fasilitas menggiurkan itu, hanya dengan kecap-kecup dan menemani Lara...  Pake acara esek-esek juga? Wah, saya gak tau soal itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tak ada satupun keluarganya yang tau mengenai kehidupan Butet saat ini. Butet mengaku ke keluarganya bahwa dia bekerja di London dan hidup sendirian. Pernah inang-nya minta dibelikan tiket ke London untuk menjenguk Butet, tapi Butet mengelak « Wah inang, gaji Butet masih kecil, nanti deh bila gaji Butet sudah mendingan...  » atau « ...apartemen Butet yang sekarang ini mini banget, nanti inang tidur di mana? »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi seorang sohibnya tau rahasia Butet itu.  Dan saat sohibnya bertanya apakah Butet beneran lesbian dan apakah dia bahagia hidup dengan Lara, jawab Butet « Yah elo, jaman gini masih nanya soal gituan... Ini jaman susah man! Kalo ada kesempatan, musti dimanpaatkan !! » Saat ditanya soal perkara dosa, surga dan neraka, Butet menanggapi « Tiap hari gue denger orang² teriak GO TO HELL ya berarti tiap orang ke neraka dong. Susah² amat... »  Bila ditanya soal moral, norma, dan mentalitas « Udah deh, elo urusin aja diri elo sendiri ! Kagak usah ngurusin orang laen ! »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, meskipun seorang arsitek tulen, Butet ini suka baca buku filsafat dan dia kagum sekali dengan Kant, seorang filsuf kenamaan. Berdasarkan teori²nya Kant, Butet pun membuat Butetism 1 yg isinya ‘Hidup hanya untuk hari ini’ dan Butetism 2: ‘Karena hidup hanya untuk hari ini, hidup harus dinikmati’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai detik ini Butet masih tinggal bersama Lara. Entah sampai kapan Butet akan bertahan hidup dengan rahasianya seperti ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc66;"&gt;I don’t know who you are, but you seem very nice, so will you talk to me&lt;br /&gt;Shall I tell you a story, shall I tell you a dream&lt;br /&gt;They think I’m crazy, they don’t know that I like it here&lt;br /&gt;It’s nice and here I get everything for free&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;…&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;- Everything for free oleh K’s Choice  (in memoriam K’s Choice –band asal Belgia- 1993-2003)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Horas!&lt;br /&gt;/rombengus 04.06.04&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1. Apa sih yang kita cari di dunia? Kenapa musti ngotot akan suatu hal?&lt;br /&gt;2. Apa definisi bahagia bagi kita? Apakah materi dan hidup mewah adalah segalanya?&lt;br /&gt;3. Selalu ada ‘short-cut’ dalam hidup, kita pengen ikutan ?&lt;br /&gt;4. Kita musti gimana ya bila ada kolega/sohib/sodara kita yg ternyata holebi (homo-lesbian-bi)? 5. Ini kisah fiktif, bila memang pernah atau sedang terjadi, mau dong kenalan dengan Lara Croft-nya J Hehehe...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578427169732644?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578427169732644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578427169732644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/butet-gadis-batak-simpenan-lara-croft.html' title='Butet, gadis Batak simpenan Lara Croft'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578393790218912</id><published>2004-09-21T23:23:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:55:32.533+07:00</updated><title type='text'>Dalam sekejab…</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Waktu tinggal di Belanda dulu salah satu hobi saya adalah menata kamar. Dulu biasanya saya mengecat kamar 2x setahun alias setiap kelar ujian. Sebagai penghilang stress. Pernah pula sahabat tercinta saya Monique yang jago interior dan finance membantu saya menata kamar yang kemudian hasilnya tampak seperti museum dengan warna orange mexico plus biru skandinavia. Antik euy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendekor kamar itu, saya suka kesal bila salah meletakkan posisi tempat tidur, lemari, meja, dsb.; sebab saya musti geser lagi semuanya yg berat². Kemudian saya berpikir, seandainya keadaan itu bisa seperti di komputer dengan sistem Windows-nya yang bila kita salah tinggal klik ‘undo’ atau ‘Ctrl+z’, dan kita pun akan kembali ke keadaan sebelumnya dalam sekejab. &lt;em&gt;Instant and easy!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ternyata budaya berpikir instant itu bukan cuman ada di otak saya saja. Sejalan dengan perkembangan teknologi, orang memang pinginnya yang serba instant, seperti makanan (kopi, mie, dsb), bank (internet banking, debit dan credit card, dsb), mendaftar sekolah dan melamar kerja via internet, belanja via internet (eCommerce), belajar dengan media elektronik (eLearning), dan banyak lagi. Mau tidak mau memang teknologi semakin lengket dengan kehidupan manusia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sih tidak ada masalah serius dengan hal tsb, hanya saja saya perhatikan kemajuan teknologi ini mempunyai efek yang besar pada masyarakat dari negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti misalnya saat bikin penelitian di kampus, banyak teman² dari negara berkembang yang maksa minta topik dari program koordinator -dengan mendatangi si coordinator itu setiap hari-, bukannya mencari topik sendiri. Padahal kan yang mau meneliti itu si anak tersebut, bukan si koordinator. Dan apa salahnya luangkan waktu beberapa hari bergelut sendiri dengan internet dan buku untuk mencari topik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya perhatikan teman² dari negara berkembang itu juga mudah sekali bertanya. Tidak tahu tentang hal A langsung tanya ke dosen/profesor tanpa berusaha berpikir dan mencoba memecahkan masalahnya sendiri terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya, saya baca di sebuah forum anak² muda Indonesia di internet, dimana sekarang ini pria Indonesia cenderung suka cewe yang agresif mengejar. Mereka tidak mau lagi bercapai² ria mengejar cinta/cewe dan gak mau lagi spend waktu lama² untuk pdkt. « Udah gak jamannya… », kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lainnya mengenai anak² yang mencari informasi di milis beasiswa di yahoogroups. Sebenarnya milis itu sudah mempunyai arsip yang memadai, tetapi herannya banyak sekali anak yang tidak mau aktif mencari informasi di arsip milis ataupun browse informasi via internet, melainkan langsung post message pertanyaan. Dan hasilnya banyak sekali pertanyaan² yang mirip diulang² di milis tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoretikal, perkembangan teknologi di negara berkembang itu luar biasa pesat dan efek ke masyarakatnya pun lebih dalam dibandingkan dengan di negara maju. Gambaran kasarnya, teknologi di negara berkembang itu tadinya nilainya 2 trus sekarang jadi 6, sementara di negara maju tadinya 5 dan sekarang jadi 7. Semakin besar selisih perbedaan tersebut menyebabkan semakin besar pula perubahan yang terjadi di masyarakat. Technology shock istilahnya. Dan beberapa efek negatif dari teknologi itu membuat masyarakat semakin malas, tidak aktif dan pinginnya memperoleh sesuatu dalam sekejab…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap teman² tidak terkena efek negatif dari technology shock tadi, sebaliknya, alangkah baiknya bila pola pikir kita diubah menjadi si innovator dan bukan lagi sebagai si konsumen (biasanya yang kena dampak itu konsumen). Maksudnya begini, bila kita melihat suatu hal, coba pikirkan inovasi dari apa yang sudah ada. Misalnya, saat ini harga buku di Indonesia lebih mahal daripada harga VCD/DVD bajakan sehingga orang² lebih suka menonton film² Hollywood ataupun mandarin daripada membaca. Nah, pikiran inovatif itu salah satunya adalah memikirkan bagaimana membuat buku menjadi lebih menarik dan lebih terjangkau, untuk membangkitkan gairah membaca di masyarakat kita. Mengenai pelaksanaannya, itu hal kedua, karena inovasi diawali dari sebuah ide… Dan membiasakan diri berpikir membuat diri kita aktif, tidak malas dan tidak sekedar jadi konsumen teknologi saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maju terus anak Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/rombengus_ gent191203&amp;amp;100204&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578393790218912?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578393790218912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578393790218912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/dalam-sekejab_21.html' title='Dalam sekejab…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578372767211266</id><published>2004-09-21T23:20:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:22:07.673+07:00</updated><title type='text'>Srikandi mencari cinta </title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tau lagu ‘Arjuna mencari cinta’-nya Dewa yang sempat ngetop beberapa tahun yang lalu ? Judul lagu tsb sempat jadi konflik karena kebetulan ada sinetron yang judulnya sama. Bagi saya pribadi sih, saya tak memusingkan soal kesamaan judul itu, tapi yang saya sempat kaget karena Dewa berani mengklaim diri mereka sebagai Arjuna… Tau Arjuna yang tokoh pewayangan itu kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa grup band Dewa benar² para Arjuna ? Di lirik lagunya, berkali² dikatakan « Akulah Arjuna…. » atau hanya karena mereka berjenis kelamin laki² dan merasa dirinya segagah Arjuna ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenuh dengan kisah Cinderella dan karena tak mau kalah dengan kisah cinta para Arjuna Dewa yang sibuk mencari cinta, ternyata Srikandi juga panik mencari cinta… Apalagi karena usianya sudah hampir 30 dimana orang tua sudah ribut mengingatkan Srikandi untuk berkeluarga. Lagipula dunia semakin kacau, sehingga Srikandi merasa tak betah hidup sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Srikandi yang sibuk berperang –seperti di kisah pewayangannya- dia tidak sempat bermimpi dan berteriak² « Akulah Arjuna yang mencari cinta !! Cintailah aku !! » seperti si Arjuna Dewa. Srikandi ini seorang yang pintar, perencana (planner) yang handal, dan realistis (istilah londo-nya : down to earth).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari si Srikandi menemukan pujaan hatinya, yang luar dalam-nya sesuai dengan harapan hati. Klop dah ! Berkat proses pendekatan yang cukup singkat, Srikandi pun berhasil membuat janji kencan dengan sang pujaan hati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti para wanita yang hendak pergi kencan di novel populer dan film² cinta ala Hollywood (bukan Bollywood, Srikandi gak suka nonton film Bollywood), Srikandi pun menyiapkan kencannya itu dengan sangat spesial. Mulai dari persiapan fisik, seperti luluran, mandi susu, mandi anggur, mandi bir,... Tidak lupa ia menyiapkan kostum terindah, tetapi karena Srikandi tidak punya busana karya Ghea Sukarya (Ghea Panggabean), baju ala Blok M pun dikenakannya. Ia pun berdandan secantik²nya, tetapi karena kemahalan untuk sanggulan di Martha Tilaar (kencannya pake sanggul?) dia pun minta tolong mas² banci tetangga di kos²annya untuk mendandaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perencana yang handal, Srikandi sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari apa yang harus diucapkan saat bertemu, sampai dengan apa yang harus dilakukan/diucapkan saat di’tembak’. Ternyata di negeri antah berantah tempat Srikandi bermukim juga masih ada sistem tembak-menembak seperti di kampoeng Betawi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat yang dinanti pun tiba... Srikandi panik, gugup, mencoba mengatur nafas dan tenangkan pikiran. Teman²nya pun menasehati « Nyantai aja lagi loe… Pasti sukses dah ! Tapi elo jangan galak², cowo sukanya cewe yang lembut. Trus jangan tunjukin segala kepintaran elo, cowo kagak suka kalo cewe-nya lebih pintar dari dirinya. Pura² bego aja jek ! Jangan tunjukin pula semua prinsip² elo, pokoknya jangan tunjukin diri elo sbg cewe yg kuat deh, sebab cowo sukanya dia yg berprinsip n cewenya yg nurut² aje… »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srikandi pun berangkat ke tempat janji kencan. Srikandi tak dijemput sang pujaan hati, karena pujaan hatinya seorang tukang insinyur Teknik Industri yang sangat perhitungan terhadap segala hal. Dengan perhitungan yang diperoleh dari Dijkstra method, bila harus menjemput Srikandi, berarti ongkos transport akan dobel dibandingkan sama² berangkat dan ketemu di tempat tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di tempat tujuan, Srikandi pun celingukan mencari sang pujaan hati. Sesungguhnya dia ragu akan tempat kencan itu, sebab lokasinya kog di area lampu merah (red light district = area prostitusi). Srikandi tidak punya handphone, -meski teman²nya berganti handphone tiap bulan- jadi dia tak bisa hubungin sang pujaan hati. Lalu Srikandi pun hanya berjalan mutar² di area ‘menantang’ itu, berharap bertemu sang pujaan hati di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sang pujaan tak juga tampak batang hidungnya (istilah ini kerap kali dipakai di novel dan cerpen² Indonesia). Dan Srikandi pun pulang dengan hati berduka… Segala rencana di benak, aneka persiapan yang telah dilalui, semuanya tak membuahkan hasil…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari telah berlalu, barulah Srikandi tau bahwa dia salah menulis alamat tempat kencan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;C’est la vie&lt;br /&gt;On rêve autrement&lt;br /&gt;On croit qu’on est différent&lt;br /&gt;Qu’aux angles des jours il y’a des tournants&lt;br /&gt;C’est la vie&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt; (C’est la vie, dinyanyikan oleh Cristina Marocco )&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amitiés de /rombengus (250504)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1. Sesuatu yang telah terencana dengan rapi oleh seorang ahli perencana, bisa gagal juga...&lt;br /&gt;2. Kadang kita terlalu fokus/berpikiran ke hal² besar yang nun jauh di sana, dan kita melupakan hal² kecil yang sebenernya penting&lt;br /&gt;3. Ini kisah fiktif, terinspirasi oleh lagu Arjuna mencari cinta-nya Dewa dan lagu C’est la vie (Le rendez-vous des maladresses)-nya Cristina Marocco dan ditulis sambil makan spageti yg dimasak ala mie ayam (=spageti ayam?)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578372767211266?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578372767211266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578372767211266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/srikandi-mencari-cinta_21.html' title='Srikandi mencari cinta '/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578237656073526</id><published>2004-09-21T22:57:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T22:59:36.560+07:00</updated><title type='text'>Sentuhan kemanusiaan…</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sekitar 30 meter dari tempat kos saya, ada sebuah supermarket. Para mbak kasir di supermarket itu (biasanya kasir di supermarket di sini adalah para student) sudah pada tau saya. Kadang mereka ramah, tapi seringkali kurang ramah (agak ketus maksudnya), mungkin karena kartu debit saya yang suka macet ataupun karena saya selalu belanja makanan yang termurah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu saat saya bayar di kasir, saya pun mendapat perlakuan yang kurang ramah oleh seorang mbak kasir. Tampangnya cemberut dan ketus pula. Kebetulan saat itu tak ada yang mengantri di belakang saya, dan saya pun menegur mbak kasir itu. Tetapi saya tidak memarahi dia, malah saya ajak ngobrol: « Mbak, baik² aja kan? »  Si mbak kasir kaget dan menjawab « Ya… » Lalu saya tanya lagi « Kenapa mbak tidak tersenyum ? Apakah mbak mendapatkan hari yang buruk ? » Tau² si mbak itu mengeluarkan senyumnya yang terindah « Saya baik² aja kog, cuman agak cape… bla bla bla… » terusnya kita malah ngobrol…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, saya pun ngetop di supermarket yang mini itu J. Tapi sesudahnya saya jarang datang ke sana, sebab itu termasuk supermarket mahal. Paling kalo mepet aja saya ke sana, atau sekedar beli susu, yoghurt dan roti yang harganya standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~~~~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang terlalu sibuk mengejar impiannya masing².  Ada yang sibuk kerja, ada yang sibuk belajar, sibuk berduaan dengan pasangannya saja, sibuk bermimpi, dsb. Saya –sebagai manusia- juga termasuk dalam bagian ini. Saya suka nongkrong di kamar berhari² baca buku dan main musik, gak ketemu orang sama sekali. Bukannya baca buku dan main musik itu jelek, tapi sikap individualism yang berlebihan itu tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, bila kita bertemu orang di jalan/kampus/kantor pun belum tentu kita perduli dengan apa yang terjadi dengan orang tsb. Misalnya ada gadis Afrika atau Papua yang sedang menangis seorang diri di halte, apakah kita akan menegurnya? Bisa jadi karena dia hitam dan tak kita kenal, kita pun tidak memperdulikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila proyeksinya diperdekat, tak usah gadis Afrika/Papua yang tak kita kenal, teman sendiri pun belum tentu kita perduli dengan keadaannya. Bahkan terhadap saudara sendiri pun… Suka nonton film silat klasik asal China? Di film silat itu seringkali ada kisah sesama kakak-beradik saling bunuh demi sebuah ambisi (untuk jadi raja misalnya).  Well, orang China memang terkenal dengan ambisinya. Mempunyai ambisi itu sangat bagus, namun dalam batasan yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perduli dengan sesama yang bahasa kerennya bersimpati –ada juga yang menyebutnya empati- adalah hal mutlak yang wajib dilakukan oleh setiap manusia. Kenapa ? Karena kita hidup dengan manusia lain dan kita wajib mengasihi manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpati itu bukan sekedar memberikan nasehat ataupun menawarkan pertolongan yang cepat dan sifatnya sementara (cosmetic help), tetapi dengan bersimpati berarti kita masuk dan berbagi penderitaan dengan orang tsb. Ada 2 hal penting yang harus dilakukan dalam bersimpati: mengerti perasaan orang yang menderita (understand) dan juga membangun hubungan dengan orang tsb (share). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian dari kita yang sangat sulit bersimpati dengan orang lain. Hal ini umumnya disebabkan oleh dua hal: Pertama, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan/kuliah/aktivitas lainnya sehingga tidak ada waktu untuk melihat sekitar (time). Kedua, karena terlalu fokus pada penderitaan dirinya sendiri (self-pity).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada pemikiran: ngapain gue ngurusin orang di jalanan kalo diri gue sendiri aja belon bener? Ada pula argumen: Gue belon dapet pekerjaan, gue ditolak kuliah di MIT, lalu ngapain gue ngurusin orang lain? Selain itu, Vanessa Paradis (penyanyi pop-jazzy asal Prancis yang juga istrinya Johny Depp) menulis lirik di salah satu lagunya yang berjudul La la la song dimana bagian refrainnya berbunyi « The principle of love is that, when you get enough, then you can give it back ».  Saya kecewa saat dengar lagu tsb, lagunya enak sekali tetapi refrainnya memprihatinkanL. Memberi kog ‘musti nunggu’ sampe kebutuhan diri tercukupi??? Argumen² seperti ini merupakan kendala kedua bagi kita untuk bersimpati kepada orang lain (self-pity).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bersimpati kepada orang lain, jangan perdulikan keadaan diri sendiri. Mungkin kita lagi bangkrut, lagi sedih, lagi kecewa; tetapi kita tetap harus perdulikan sesama. Dengan bersimpati pada orang lain, beban kita bisa berkurang… karena secara mentalitas kita akan merasa lebih kuat (saya sering mengalami hal ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, mungkin kita pun lagi rush saat ini, sibuk mengejar deadline, repot ngurusin keluarga, panik dengan ujian/tugas kuliah, tetapi apakah makan waktu untuk sekedar kirim 1-2 kalimat via imel/sms ke teman sekedar menanyakan kabarnya? Perlu waktu berapa detik sih untuk mengucapkan « Selamat pagi » saat ketemu orang di lift?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love, peace and harmony,&lt;br /&gt;/rombengus 060304&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578237656073526?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578237656073526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578237656073526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/sentuhan-kemanusiaan.html' title='Sentuhan kemanusiaan…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578221319888102</id><published>2004-09-21T22:55:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T22:56:53.196+07:00</updated><title type='text'>Perkataan yang indah…</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kisah seorang mahasiswa doktoral (sebut saja si XYZ) di sebuah universitas ternama. Meski dari segi akademis ilmu orang tsb tinggi, tetapi pengetahuan bicaranya tidaklah setinggi pengetahuan akademisnya. Well, dia memang terkenal suka bicara seenak perutnya, blak-blakan, tanpa melihat siapa lawan bicaranya dan tidak mempertimbangkan waktu bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pernah bicara seenak perutnya kepada seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang belum lama dikenalnya.  Inti pembicaraannya adalah menghina fisik anak tsb, yang kemudian membuat anak itu menangis dan sakit hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun pernah bicara blak-blakan mengkritisi panitia sebuah acara festival di hari H-2, tanpa mempertimbangkan efek psikologis dan emosional kepada para panitia tsb. Kritik kan lebih baik dilontarkan sesudah acara, bukan di hari H-2 dimana semua panitia sedang stres²nya. Well, mungkin dia memang buta soal psikologi manusia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tau bagi sebagian orang perkara si XYZ dan mulutnya ini adalah hal yang biasa. Paling kalian berpikir « Udah, dimaklumin aja… si XYZ kan emang orangnya gitu… emang cara bicaranya kasar…» mungkin ada pula yang berkomentar « Itu pan omongan dia doang yang kasar, belon tentu hatinya kasar …»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm… bisa jadi sih… Dan memaklumi seseorang memang kewajiban dalam pergaulan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada hal lain yang perlu kita pertimbangkan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah novel British berjudul If nobody speaks of remarkable things karya Jon McGregor. Inti novel tersebut adalah tentang seorang wanita yang tengah mengandung dan menanti²kan ucapan yang indah dari orang tuanya dan orang² di sekitarnya terhadap kandungannya itu. Tetapi sampai di akhir novel, hanya seorang pemuda yang pernah mengucapkan perkataan indah untuknya… yang lain gak ada… Bisa dibayangkan bagaimana perasaan wanita tsb?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bila tidak ada lagi kalimat indah dan mendukung di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anda lulus atau mendapat promosi jabatan, tidak ada yang memuji keberhasilan anda. Saat anda sakit atau bermasalah, tidak ada kalimat support dari teman dan keluarga anda. Saat anda ketakutan dan cemas, orang² hanya memberi tanda baca tanpa kalimat yang bersifat positif….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, apakah makan waktu atau buang tenaga sekedar untuk melontarkan kalimat yang indah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melontarkan kalimat yang indah tidak perlu dilakukan dengan menyanjung seseorang panjang-lebar, tetapi cukup 1-2 kalimat saja. Dan yang utama adalah makna dan sifatnya yang mensupport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara indah bisa dimulai dari hal kecil, seperti mengucapkan ini ke seorang dosen « Saya senang sekali dengan kuliah anda hari ini, saya mendapat banyak masukan dan saya belajar banyak… ». Tentu saja perkataan itu membuat dosen menjadi gembira dan semangat mengajar. Bisa juga anda ucapkan kalimat seperti ini ke sahabat anda « Makasih ya untuk selalu ngingetin gw supaya tetep realistis. Tanpa elo, gw mungkin masih nyangkut entah dimana… »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Talk pretty, better life…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/rombengus 050404&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578221319888102?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578221319888102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578221319888102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/perkataan-yang-indah.html' title='Perkataan yang indah…'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578171641220980</id><published>2004-09-21T22:45:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:02:25.986+07:00</updated><title type='text'>Siapa sih yang paling pintar disini ?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pertanyaan di atas beberapa kali diutarakan oleh seorang teman -anak Indonesia- di sini. Dia pernah juga bertanya, « Si Ucok (bukan nama sesungguhnya) itu pinter gak sih ? Si Ucok itu pinternya semana sih ? ». Saya pernah menjawab gini padanya, « Saya gak tau si Ucok itu pinternya semana, tapi Ucok itu anaknya baik… » Tau apa reaksinya ? Teman tsb ketawa ngakak yang seakan² meremehkan anak baik dan memuja anak pintar. Saya sendiri sudah pasti dikategorikan sebagai anak bodoh olehnya, well, whatever lah… Yang jadi pertanyaan di benak saya adalah: apakah pintar adalah segalanya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak SMA teman² saya mulai membedakan antara pintar dan cerdas. Anak yang pintar itu adalah anak yang bagus prestasinya di sekolah seperti selalu ranking 1, juara kompetisi anu, dsb. Contohnya anak yang lulus cum laude di bidang menjahit, pintarnya di bidang menjahit saja. Sementara anak yang cerdas lebih dikategorikan sebagai anak yang pola pikirnya bagus dan pengetahuannya pun luas. Dan umumnya anak yang cerdas itu pintar. Tetapi definisi tsb bisa rancu, sebab cerdas pun bisa dibuat². Misalnya si Otong (bukan nama sesungguhnya) yang kebetulan teman²nya cerdas dan dia mendengarkan ocehan teman²nya tsb dan ocehan itu diutarakan ke teman²nya yang lain. Si Otong pun ‘tampak cerdas’ meskipun sesungguhnya dia hanya messenger saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain, sejak bertahun² yang lalu telah diketahui bahwa kecerdasan emosi (EQ) jauh lebih penting daripada kecerdasan intelektual (IQ). Karena itu perusahaan² mengadakan test EQ (seperti psikotes, interview) saat menyaring karyawan. Umumnya mereka ingin karyawan yang stabil dan kepribadiannya bagus, cocok dengan posisi pekerjaan tsb. Ada banyak kasus anak yang IQ-nya tinggi tetapi EQ-nya lemah seperti mantan teman sekantor saya dulu yang pintar luar biasa tetapi selalu terlambat bila datang ke kantor dan susah sekali bekerja dalam tim (padahal teamwork itu penting dalam bekerja). Tidak lama kemudian si pintar ini pun dipecat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dulu saya pernah ngobrol dengan seorang teman yang sudah lulus S3 menanyakan persyaratan apa saja yang perlu untuk menjadi mahasiswa S3. Menurutnya tidak diperlukan anak yang sangat pintar untuk kuliah S3, tetapi anak yang tekun. Hal ini masuk akal sekali. Bahkan belakangan ini para profesor di Eropa sedang jatuh cinta dengan student asal RRC sebab mereka itu tekun sekali –orang Indonesia masih dicap pemalas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lain, ada banyak orang² pintar duduk di Pemerintahan kita. Banyak pula petinggi yang jadi guru besar di Universitas terkenal. Kenyataannya, KKN masih saja merebak di negri kita tercinta... Apalagi tahun ini diadakan Pemilu dan bisakah kita bayangkan berapa persen dari total biaya Pemilu yang larinya entah kemana? Biaya Pemilu yang otomatis uang rakyat itu masuk ke kantong-kantong para pejabat dan panitiaL. Kalo di-rupiah-kan ada berapa miliyar yah? Bisa kasih makan berapa ribu keluarga? Bisa menyekolahkan berapa ribu anak? Dalam hal ini, Indonesia lebih membutuhkan pemimpin yang punya hati nurani daripada pemimpin yang luar biasa pintar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc66;"&gt;Good manners will open the way that the best education cannot (Clarence Thomas)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Love, peace n harmony&lt;br /&gt;/rombengus (Gent 04.02.04)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578171641220980?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578171641220980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578171641220980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/siapa-sih-yang-paling-pintar-disini.html' title='Siapa sih yang paling pintar disini ?'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109578151278947180</id><published>2004-09-21T22:40:00.000+07:00</published><updated>2004-09-21T23:53:25.876+07:00</updated><title type='text'>Tenis, kegagalan dan perjuangan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebagai penggemar tenis, saya suka sekali nonton pertandingan tenis di TV dan suka juga memantau perkembangan tenis dunia. Saat ini petenis favorit saya itu si Justine Henin-Hardenne, cewe Belgia yg sekarang ada di peringkat 3 dunia di bawah Serena Williams dan rekan senegaranya Kim Clijsters. Saya suka si Justine ini bukan karena gayanya cuek banget ato karena dia asli Belgia, tapi karena mental berjuangnya yang luar biasa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu dia menjuarai Rolland Garros di Perancis, salah satu kompetisi tenis paling bergengsi di dunia. Dan disana pula dia berhasil mengalahkan Serena Williams sampai membuat Serena menangis –karena kalah- saat diwawancarai wartawan. Sampai saat ini kan si Serena itu memang tak terkalahkan, dan konon baru si Justine ini yg bisa ngalahin dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejuaraan berikutnya adalah Wimbledon di Inggris. Tetapi kali ini si Justine kalah dari Serena. Namun ada hal yg menarik dari kejuaraan ini… Saat itu kebetulan telapak tangan kiri si Justine cedera dan dibalut (kayaknya sih karena jatuh), kemudian sebelum tanding dia ditanya wartawan apakah cedera di tangan itu bakal menghambat dirinya, si Justine jawab bahwa dia akan berusaha utk tidak mengingat kalo tangan kirinya luka. Meskipun demikian, selama pertandingan keliatan juga bahwa dia beberapa kali meringis sambil memegang tangan kirinya tapi dia tetep berusaha main sebaik-baiknya, namun begitu dia kalah juga dari Serena di kompetisi kali ini. Selesai pertandingan, dia ditanya wartawan lagi apakah kekalahannya itu disebabkan tangan kirinya itu, dan si Justine menjawab bahwa Serena memang pemain yg hebat dan kejuaraan Wimbledon itu memang pantas untuk Serena. Si Justine itu gak ada ngomong apa² soal tangannya yg cedera itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejuaraan berikutnya adalah Accura Classic di San Diego. Di kejuaraan ini si Justine menang lagi dari rekan senegaranya Kim Clijsters. Memang Serena tidak hadir di kejuaraan ini karena sedang operasi lutut. Tapi menghadapi Kim pun sudah luar biasa berat untuk Justine, sebab telapak kaki kanannya sedang cedera saat itu. Bahkan sempat pula ganti perban saat pertandingan berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo kita bandingkan si Justine ini dengan diri kita, bisa bikin kita malu sendiri L. Kita kan sering sekali mencari² alasan untuk sebuah kegagalan yg kita peroleh, bahkan ada pula yg nyalahin Tuhan karena kegagalan diri kita sendiri… Tidak lulus ujian yang disalahkan profesornya ; tidak mendapat pekerjaan yang disalahkan perusahaannya yg menurut kita tidak memberi kita kesempatan… Yang lucu lagi waktu ada temen (cowo) gagal mendapatkan seorang cewe dan temen cowo lainnya bilang kalo hal itu disebabkan karena dia kurang cepet… padahal, apa bener kecepatan adalah kunci dia tidak mendapatkan cewe itu ? Kalo emang cewenya gak suka, kalo emang gak jodoh, kenapa musti cari² alasan yg sekedar untuk menenangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain suka cari² alasan, kita pun sering gak bisa nerima kekalahan kita. Misalnya dalam urusan cari kerja, kalo memang tidak berhasil dapat kerja di Eropa, secara bijaksana kita harusnya bisa terima kenyataan itu. Bila kita gagal cari kerja di Eropa, toch masih ada belahan lain dunia. Mungkin Eropa memang bukan jatah kita, sama seperti saat si Justine yang gagal di Wimbledon, toch dia bisa menang lagi di Accura. Gitu juga dengan temen saya yg gagal ngejar cewe itu, toch masih ada cewe lain yg bisa dikejar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kita pun seringkali menyerah dengan keterbatasan yang ada. Misalnya seperti saya yang gak bisa belajar saat² sekarang ini karena cuacanya panas sekali (minggu ini bisa sampe 36°C) dan tiap hari adanya saya sakit kepala melulu… atau teman yg males²an kerja karena bos-nya amit-amit noraknya… atau seorang cowo yg gak berani ngejar cewe karena cewe itu sungguh luar biasa bagaikan bintang di langit sementara dirinya rasanya seperti kutu di rambut… Well, seperti pertandingan² tenis yg dilalui si Justine, dia gak selalu dalam kondisi yang 100% prima, kadang tangannya cedera, terus kakinya yg luka, tapi dia tetep mengikuti pertandingan itu dan berusaha sebaiknya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So guys, maju terus, pantang mundur dan berusaha terima kenyataan disaat kita memang kalah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leuven, 05.08.03&lt;br /&gt;/rombengus&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PS : Terinspirasi atas pertandingan tenis, petenis (Justine Henin-Hardenne) dan lagu²nya Coldplay.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109578151278947180?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578151278947180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109578151278947180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/tenis-kegagalan-dan-perjuangan.html' title='Tenis, kegagalan dan perjuangan'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398639.post-109568132249328312</id><published>2004-09-20T18:51:00.000+07:00</published><updated>2004-09-20T18:55:22.493+07:00</updated><title type='text'>Rombengus punya blogger !</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Blogger ini dibuat atas saran manis dari Detta... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dengan maksud mempermudah orang-orang yang ingin baca tulisannya Rombengus. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Maklum, Rombengus belum punya cukup uang untuk nyewa 'domain' dan 'space' buat website pribadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8398639-109568132249328312?l=rombengus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109568132249328312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398639/posts/default/109568132249328312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rombengus.blogspot.com/2004/09/rombengus-punya-blogger.html' title='Rombengus punya blogger !'/><author><name>rombengus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04439814134908832919</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_pFX_D4fAPTw/R6mykazT5LI/AAAAAAAAACI/tNLtlVXXkGA/S220/ocha2.jpg'/></author></entry></feed>
